Song and Dandelion for You

Adaptasi dari FF Song For You

Title                : Song and Dandelion for You

Author           : Chocoby | (FB) @Lytha Virnanda | (Twitter) @Lyta_ELF

Cast                : Choi Hyewon, Cho Kyuhyun, Leeteuk, Shin Hyunmi

Genre              : (???)

Length            : Oneshoot.

WARNING!!!

Banyak typo seperti salju yang bertebaran di musim dingin. Alur yang tidak begitu jelas. Feeling yang sangat kurang. Gaje gak ketulungan.

No Bashing, No Jiplak, No Plagiator!

Happy Reading~

Seperti setangkai bunga dandelion putih

Selalu bersama menggenggam tanpa lelah

Meski terkadang banyak hembusan angin kecil yang mengganggu,

Kita masih tetap bersama

 

Aku tau semua hembusan angin kecil itu, hembusan nafas-Nya

Hembusan itu mencoba menghancurkan kita,

Menguji kebersamaan kita,

Menguji benteng kesetiaan kita yang selalu berdiri kokoh

 

Saat hembusan nafas itu berganti dengan tiupan,

Maka itulah awal dari perpisahan kita

Dia kejam, bukan?

Bahkan kita belum merasakan arti kebersamaan yang sesungguhnya

 

Kau benar,

Cinta memang tak harus memiliki

Saat semuanya berakhir,

Aku harus bisa menjalani kehidupan yang kejam ini, sendirian…

 

E.L

 

Setetes cairan bening itu akhirnya melewati pipinya. Hidung yang merah membuktikan bahwa telah lama ia menahan tangis itu. Tangis yang selalu di sembunyikannya sejak upacara pemakaman yang memilukan tiga bulan yang lalu.

Kertas yang berada dalam pangkuannya basah akibat air mata yang keluar tanpa permisi dari kelopak matanya.

Tangannya bergetar. Ia tak tau harus mencurahkan kesedihannya seperti apa lagi. Pena yang di genggamnya terlepas, bersamaan dengan selembar kertas yang terbang jauh ditiup angin awal musim dingin di padang rumput luas taman kota tersebut.

Namja itu terduduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terisak perih. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Hatinya sesak penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.

Taman kota yang biasanya ramai di kunjungi para remaja itu mendadak sepi. Seakan ikut terhanyut dalam kesedihan namja berkulit putih dan berparas tampan itu.

Angin berhembus menyambut datangnya musim dingin, membuat belasan anak rambut berwarna coklat itu berantakan. Tapi baginya angin itu adalah irama yang memilukan hati, membelai tubuhnya yang masih bergetar, di sore yang menyedihkan.

-oOo-

‘Hyewon POV

Aku melihatnya lagi di taman. Duduk di bawah pohon maple. Diam memandang kosong ke depan. Biasanya aku sering melihatnya menulis sesuatu di atas kertas putih. Entah apa yang ia tulis, tapi aku yakin itu bukan tugas yang diberikan dosen, karena saat ia menulis kata-kata di kertas itu, ia selalu memejamkan mata dan menghembuskan nafas berat. Mungkinkan ia sedang mencurahkan isi hatinya?

“Hyewon..”

Satu tepukan sedikit keras mendarat di bahuku. Aku tersentak dan refleks menoleh melihat sosoknamja jangkung berparas sedikit angkuh dan tampan.

Dia menyunggingkan smirk-nya yang selalu di elu-elu kan para yeoja di kampus ini.

“Ayo kita pergi..” ajaknya.

Aku tersenyum melihatnya yang kini menarik lenganku.

Sesaat aku menoleh kebelakang melihat namja itu yang kini berdiri dan beranjak pergi dari bangku yang di dudukinya.

-oOo-

Mworago malhalji

 

Eoddeohge butjabeulji nado moreugetjana

Eoddeohge nan eoddeohge

Hajyo..

 

Nun gameumyeon heulreo naerilggabwa

 

Haneuleul olryeobwado

Gyeolguken, mugeowojin nunmul han banguleul

Deulkyeobeorigo malatji..

Entah..

Entah sampai kapan aku terus begini.

Aku bahkan tak tau cara untuk memulainya. Maafkan aku, sahabatku. Mungkin selamanya aku takkan bisa menggantikan posisimu. Bukan aku tak ingin, aku hanya merasa ada tembok yang begitu tinggi menghalangi jarak aku dan dia.

Dia yang dulu selalu kau puja. Dia yang dulu selalu kau utamakan. Dia yang dulu menjadi penjagamu. Dia yang dulu menjadi penyebab timbulnya pertengkaran kita. Karena dia yang dulu adalah namjayang aku cintai.

Aku menutup mata, perih. Sungguh perih yang kurasa. Penyesalan selalu hinggap dihatiku kala aku mengingat dirimu.

Aku memang bukan sahabatmu yang paling berharga. Yang paling mengerti dirimu. Bahkan di sisa hidupmu, aku selalu mengecewakanmu dengan sikapku dan hatiku yang terus mencintainya.

Kau sudah pergi. Kau sudah tenang disana. Dan kau memberikannya untukku. Tapi aku? Aku selalu merasa di hantui rasa penyesalan. Aku tak sanggup memilikinya. Karena dia hanya milikmu. Karena dia hanya mencintaimu. Karena semuanya tak bisa kulakukan.

“Hyewon.. Choi Hyewon!”

Sebuah tangan kekar itu memaksaku untuk membuka mata. Seakan menyadarkanku dari duniaku sendiri.

gwenchanayo?” tanya namja yang kini menatapku dengan penuh kekhawatiran.

Aku tersenyum tenang, meski aku tau pipiku sudah basah karena air mata.

Hanya dia yang selalu menguatkanku. Sahabat yang 2 tahun lebih tua dariku. Sahabat lelaki satu-satunya yang aku miliki yang selalu ada menemaniku.

Hanya dia, Cho Kyuhyun.

Telapak tangannya terasa hangat saat menyentuh pipiku. Dia mengusap sisa air mataku yang masih membekas. Aku menatapnya yang fokus pada pipiku.

Beberapa saat kemudian, dia menatapku sekilas, mendekatkan wajahnya padaku, aku menutup mata saat bibirnya mencium kelopak mataku lembut. Setidaknya itu membuatku sedikit lebih tenang.

uljima..” katanya menenangkan.

Aku tersenyum tipis menanggapinya.

“Kita ganti lagunya, ne?” lanjutnya seraya mengusap puncak kepalaku.

Aku menahan tangannya yang hendak berbalik menuju piano di sudut ruangan ini. Dia sedikit terkejut menatapku.

“aku lelah..” ujarku.

Dia tersenyum, lalu mengusap puncak kepalaku lagi.

“Baiklah.. latihannya cukup sampai disini, ne?” tanyanya. Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang keluar dari studio musik.

-oOo-

‘Author POV

Bunga-bunga kecil itu berterbangan,

Tak tau arah sampai kapan dan dimana mereka akan singgah

Yang mereka tau,

Mereka akan menjalani hidup baru di lahan yang baru

 

Haruskah aku seperti itu, sayang?

Aku merasa menjadi namja yang buruk saat berada jauh darimu

Tidak akan ada lahan yang mau menerima namja buruk

Dan akhirnya, aku masih berada di udara,

Terbang tak tau arah…

Seorang yeoja tengah sibuk membaca bait demi bait tulisan yang ada di selembar kertas. Sesekali dia menggigit ibu jarinya sendiri, merasa miris juga sedih karena membaca kata-kata kiasan tersebut.

Aigoo.. namja ini sungguh menyedihkan..” ucapnya seraya menghela nafas.

“Tapi aku sangat kagum dengan tulisannya.. kata-katanya sungguh membuatku tersentuh..” lanjutnya tersenyum seraya meletakkan kertas itu di dadanya.

“aku pasti sudah gila karena menyukai seseorang hanya dari tulisannya..” ujarnya tersenyum geli.

Dilihatnya lagi kertas itu. Jarinya menunjuk tulisan yang ada di bagian paling bawah.

“E.L?” desisnya pelan.

“YA! EVIL!!!” teriak seorang mahasiswa membuat namja yang tak jauh di depannya menoleh.

Termasuk gadis yang tengah duduk di taman dengan selembar kertas bodoh itu.

“YA! Kau! Berani sekali memanggilku seperti itu..” protes namja yang di sebut.

Mahasiswa yang memanggilnya tadi segera berlari kecil menghampirinya.

“aku sudah memanggilmu berulang kali..” bela mahasiswa itu.

Evil?” desis yeoja itu pelan.

Dia kembali menatap kertas itu, terutama tulisan yang tertera di bagian paling bawah. Matanya mengerjap, seakan menemukan sesuatu yang baru.

“Kyuhyun oppa..” panggil seorang yeoja pada namja yang disebut evil tadi.

Namja yang di panggil Kyuhyun itu menoleh dan tersenyum saat sepasang tangan yeoja itu merangkul lengannya sedikit manja.

“Hyewon, kau harus lebih berhati-hati lagi dengannya..” nasihat mahasiswa itu dengan nada mencibir.

“YA! apa kau bilang?!” perotes Kyuhyun dengan posisi akan memukul mahasiswa itu.

Mahasiswa itu menunduk ampun, sedangkan Hyewon hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka sebelum akhirnya mahasiswa itu pergi setelah berpamitan.

“Aku lapar..” kata Hyewon manja.

“Ayo kita ke kantin..” ajak Kyuhyun seraya mengusap puncak kepala Hyewon.

Hyewon mengangguk, masih menggandeng lengan Kyuhyun.

Yeoja yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan tiga orang di belakangnya itu kini menatap punggung Kyuhyun dan Hyewon dari jauh.

Dia menghela nafas berat. Bibirnya yang kecil dan merah itu mengerucut dengan sempurna. Merasa kecewa dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya.

-oOo-

“Siapa namamu?” tanya seorang pengurus sebuah komunitas.

“Aku? Namaku Shin Hyunmi, sunbae..” jawab yeoja itu tersenyum senang.

Sejak melihat Kyuhyun dan Hyewon di taman kampus tempo hari, yeoja yang mengagumi bahkan menyukai seseorang pertama kali hanya dari tulisan itu langsung mencari semua info tentang keduanya.

Perasaan kecewa dan putus asa yang awalnya ia rasakan karena dipikirannya Hyewon adalah kekasih Kyuhyun, kini menjadi semangat yang tumbuh begitu saja bagai bunga yang bermekaran di musim semi. Karena dia tau kalau pikirannya itu salah.

Ia bahkan rela masuk ke komunitas musik demi mendekati Kyuhyun. Padahal dia tidak begitu menyukai musik.

Annyeong haseyo.. Hyunmi imnida..” sapa Hyunmi memberi hormat.

Orang-orang yang tengah sibuk dengan alat musik mereka menoleh mendapati Hyunmi yang tengah tersenyum.

Mereka membalas hormatnya.

Annyeong.. kau baru disini?” tanya Hyewon riang, langsung menghampirinya dan meninggalkan Kyuhyun yang tadinya mengajari Hyewon bermain piano.

Hyunmi mengangguk dan tersenyum canggung. Pandangannya berpaling dari Hyewon. Bibirnya seketika tersenyum lebar saat melihat Kyuhyun yang kini memainkan piano asal.

Hyunmi berlari kecil menghampiri Kyuhyun, tanpa memperdulikan Hyewon yang sedikit terkejut menatapnya.

“Kyuhyun oppa.. ajari aku bermain piano, ne?” pintanya manja seraya merangkul lengan Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit risih dengan perlakuan Hyunmi. Ia menatap heran kearah Hyewon. Hyewon hanya mempout bibirnya seraya mengangkat kedua bahunya. Sesaat kemudian, ia mengambil harmonika yang ada di saku jaketnya.

“Ayolah Kyuhyun oppa.. ajari aku bermain piano..” pinta Hyunmi lagi masih dengan nada manja.

Kyuhyun menatapnya tak percaya. Ingin sekali memukul wajah yang sekarang ada di depannya. Jika saja bukan yeoja, pasti hal itu sudah di lakukannya dari tadi.

Hyewon melihat mereka berdua,

“bagaimana dia bisa tau nama Kyuhyun oppa?” desisnya pelan sebelum ia menempelkan bibirnya di ujung harmonika dan memainkan musik kesukaannya.

-oOo-

Sejak Hyunmi masuk ke komunitas musik, sejak Hyunmi sering mengikuti Kyuhyun dan Hyewon, sejak Hyunmi selalu meminta Kyuhyun mengajarinya, sejak itupula Kyuhyun dan Hyewon jarang bersama.

Orang tua Hyunmi sampai mendatangi tempat latihan dan meminta Kyuhyun langsung yang mengajarinya. Itu semakin membuat Kyuhyun jauh dengan Hyewon. Jarang pergi bersama, bahkan pulang dan berangkat ke kampuspun sudah jarang di lakukan mereka.

Hari semakin gelap. Hyewon yang selama dua minggu terakhir ini sering pulang larut tanpa Kyuhyun memilih pulang naik subway. Kebetulan hari itu dia lembur karena penelitiannya di lab harus segera diselesaikan.

Jam menunjukkan hampir pukul 10 malam. Tapi Hyewon tetap di posisinya, duduk di kursi halte demi menunggu subway yang lewat pada malam itu.

Ia merapatkan jaket tebal yang dikenakannya saat angin dingin berhembus lumayan kencang. Beberapa saat kemudian, butiran-butiran putih turun dan menghiasi malam musim dingin itu.

“aiisshh! Turun salju..” gerutu Hyewon.

Dia mengusap-usap tangannya agar menciptakan rasa hangat, kerena dia tidak memakai sarung tangan. Semakin lama tempat itu semakin gelap, hanya lampu jalanan dan halte itu yang jadi penerang dan entah kenapa tidak ada satupun mobil yang melewati jalanan itu. Apa hari ini memang akan di ramalkan turun badai salju? Hyewon memang tidak sempat melihat berita pagi itu. Mengingat penelitiannya di lab sudah mencapai puncak deadline.

Hyewon mengambil ponsel di saku jaketnya dan mulai menelfon seseorang.

yeoboseo.. Kyuhyun oppa?” sapanya saat telfon itu di angkat.

“………”

“Kau bisa menjemputku? Aku berada di kampus..” pinta Hyewon tanpa menanyakan dimana dan sedang apa Kyuhyun sekarang.

“……..” tubuhnya seketika mematung mendengar ucapan Kyuhyun.

“……..”

“ahh.. tidak usah oppa.. Siwon oppa sudah menjemputku..” dusta Hyewon saat tau kalau Kyuhyun sedang berada di rumah Hyunmi, sedang mengajarnya dan ibu Hyunmi menyuruh Kyuhyun untuk menginap karena malam ini salju akan turun.

“…….”

aniya.. aku tidak bohong.. sudah ya, aku harus segera masuk mobil..” tutup Hyewon cepat.

Entah kenapa hatinya menjadi sesak. Dia sangat khawatir sekaligus takut. ‘bagaimana ini?’ cemasnya dalam hati. Dia sudah berbohong pada Kyuhyun. Mana mungkin ada orang yang akan menjemputnya, sedangkan Siwon, oppa-nya yang satu  itu sedang berada jauh di China. Dia tidak mau merepotkan Kyuhyun. Ia tidak mau membuat orang lain kecewa lagi. Terlebih, jalanan menuju kampus, pasti sudah di tutup.

Hyewon semakin merapatkan jaketnya. Sempat berpikir untuk bermalam di kampus. Tapi itu tidak mungkin. Penjaga kampus, pasti sudah mengunci gerbangnya. Menelfon ke rumah? Itu juga tidak akan mungkin. Mengingat di rumah tidak ada siapa-siapa kecuali pembantunya yang hanya bekerja pada siang hari dan pulang menjelang sore hari.

Hyewon hendak menelfon ayahnya yang memang sering pulang larut. Tapi saat akan memencet tombol dial up, ponselnya mati akibat kehabisan baterai. Ia hanya bisa merutuki diri sendiri. Sekarang air matanya keluar. Ia menutup wajahnya dengan tangan, menangis. Takut dengan keadaan seperti ini. Sendirian dalam dinginnya malam yang gelap.

“aaahhh.. malam dingin sekali..” terdengar suara berat dan langkah kaki yang mendekatinya.

Hyewon membuka tangannya, melihat seorang ahjussi yang kini duduk di sampingnya. Ada rasa lega menyelimuti, karena kini ia tidak sendiri.

Tapi ternyata rasa itu berubah menjadi takut saat sepasang mata itu menatapnya intens.

“Ternyata disini ada seorang yeoja cantik..” ucap ahjussi itu.

Ahjussi itu berjalan perlahan mendekatinya. Hyewon yang mulai ketakutan, semakin merapatkan jaketnya.

“Hey, gadis manis.. kau kedinginan?” tanya ahjussi itu.

Hyewon menggeser duduknya, menjauh karena takut. Sungguh, ia lebih memilih sendiri daripada harus seperti ini.

“Kenapa kau menjauh, sayang?” ahjussi itu mulai berani menggoda Hyewon.

“kau mau apa? Jangan mendekat!!” bentak Hyewon ketakutan.

Ahjussi itu tertawa menanggapinya.

“Kita sama-sama dingin.. maka dari itu kita harus menciptakan kehangatan..” ucapnya dan semakin mendekat.

“jangan mendekat!!” teriak Hyewon. Nafasnya memburu. Rasa takut sangat menguasainya.

Ahjussi itu tidak memperdulikannya, terus mendekati Hyewon yang sudah terpojok di dinding halte. Kini aroma alkohol menyeruak di indera penciuman Hyewon, membuatnya semakin takut. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pikiran-pikiran buruk kini hinggap di kepalanya.

Hyewon terkesiap saat ahjussi itu meletakkan kedua tangan di sisi wajahnya, bermaksud mengunci tubuhnya.

Hyewon menutup mata dan memalingkan wajah saat ahjussi itu hendak mendekatkan wajahnya. Dengan rasa takut yang sangat menguasainya, ia berusaha mengumpulkan tenaga. Di tendangnya bagian selangkangan ahjussi itu, membuatnya menjauh dan meringis kesakitan. Itu kesempatannya untuk kabur.

“aarrrhh!!”

Dengan cepat ahjussi itu menarik kerah jaket Hyewon, membuatnya mundur, sampai terduduk di lantai halte.

Kini ahjussi itu menerjang Hyewon, berusaha membuka jaket yang dikenakan Hyewon. Hyewon tetap meronta ketakutan. Sungguh dia sangat takut hal yang buruk terjadi padanya.

Hyewon menangis saat re-sleting jaket itu lepas dan membuatnya rusak. Ia menutup mata, takut sungguh sangat takut. Ahjussi itu hanya tertawa, dan mulai membuka jaketnya. Hyewon hanya bisa meronta dan memohon agar di lepaskan.

Seseorang menarik kerah jaket ahjussi itu dari belakang, menariknya kuat, dan tanpa aba-aba, namjaitu melayangkan pukulannya tepat di wajah ahjussi itu.

‘buuukkkkkk

Pukulan keras darinya membuat sudut bibir ahjussi itu berdarah. Hyewon terkejut melihatnya seraya menutup mulut dan semakin mempererat jaketnya.

Ahjussi itu mengusap sudut bibirnya, menatap marah namja berparas tampan, berambut coklat itu.

“Kurang ajar!” geramnya dan mulai melayangkan pukulan.

Tetapi dengan cepat namja itu menahannya, dan berbalik memukul, membuat ahjussi itu tersungkur.

Karena merasa kehabisan kekuatan, ahjussi itu pergi meninggalkan halte.

Namja itu melihat Hyewon yang terduduk sambil menangis. Karena re-sletingnya rusak dan dia hanya memakai baju dalaman yang tipis tanpa lengan, jadi Hyewon berusaha menutupnya rapat. Menangis ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.

Namja itu berjongkok. Mengulurkan tangannya didepan Hyewon. Membuatnya mengangkat kepala, menatap namja berparas tampan tengah tersenyum padanya. Bagai malaikat yang datang menyelamatkan hidupnya, Leeteuk-namja itu- tersenyum lembut, seakan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Hyewon meraih tangan Leeteuk, membiarkan Leeteuk menggendong tubuhnya yang lemah itu menuju apartemen milik namja yang dicintai juga mencintai sahabatnya itu.

-oOo-

Gomawo..” ucap Hyewon saat mereka sampai didepan lab kampus.

Leeteuk tersenyum sehingga lesung pipitnya terlihat.

“Kau sudah mengucapkan itu lebih dari 10 kali..” ujarnya terkekeh.

Hyewon ikut tersenyum. Bagaimanapun juga, ia merasa berhutang budi pada Leeteuk karena telah menyelamatkannya malam itu.

“Sudahlah.. sebaiknya kau masuk.. bukankah Prof. Lee sudah menunggumu di dalam?” ujar Leeteuk mengingatkan.

Hyewon menoleh sekilas.

“Ah, ne.. kalau begitu, aku masuk dulu.. gomawo..” pamitnya seraya membungkukkan badan.

Leeteuk tersenyum melihat tingkah Hyewon yang kini masuk ke dalam lab.

-oOo-

‘Hyewon POV

Aku duduk di salah satu kursi kantin dengan segelas jus melon didepanku. Sesekali aku mengaduk-ngaduknya tanpa minat. Aku menghela nafas, dan menutup mata, pikiranku melayang lagi mengingat kejadian semalam. Sungguh. Kalau tidak ada Leeteuk oppa, sesuatu yang sangat buruk pasti sudah menimpaku. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.

“hey, lihat! Mereka semakin hari semakin terlihat serasi ya?” ucap seseorang.

“Aku kira Kyuhyun oppa lebih memilih Hyewon..” sahut yeoja yang satunya lagi, membuatku membuka mata, terkejut karena namaku disebut dan melihat dua orang yeoja yang duduk didepanku. Aku mengikuti pandangan mereka. Terlihat Kyuhyun oppa dan Hyunmi duduk menyantap makanannya di dekat jendela.

“Hyewon?” tanya yeoja itu dengan nada tak percaya.

yeoja itu selalu merepotkan Kyuhyun oppa.. kau tau?” lanjut yeoja berambut coklat kriting dan diikat kuda, membuatku sedikit tak menerima ucapannya. Tapi pandanganku tak berpaling dari Kyuhyunoppa dan Hyunmi.

“aku tau.. hampir setiap hari Hyewon datang ke kelas Kyuhyun oppa hanya untuk menyuruh Kyuhyunoppa mengantarnya pulang.. padahal saat itu Kyuhyun oppa sedang asyik bersama teman-temannya..” sahut yeoja berambut hitam itu.

Padanganku akhirnya berpaling, hatiku rasanya panas. Apa mereka tidak menyadari kalau aku sedang berada di belakang mereka? Sungguh. Rasanya tanganku ingin menjambak-jambak rambut mereka.

“Dia parasit Kyuhyun oppa.. dia selalu membebaninya..”

“Aku kasian pada Kyuhyun oppa.. dia seperti bahan pelariannya saja.. kau ingat saat Eunri sakit?”

“Iya, aku tau.. kurasa Hyewon menyukai Leeteuk oppa.. tapi kenapa dia harus membebani Kyuhyunoppa?”

“Ah, sudahlah.. kajja kita pergi..”

Mereka beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kantin tanpa menoleh.

Benarkah yang kudengar? Rasanya nafasku benar-benar tercekat. Sesak sekali. Ya, mereka benar. Selama ini aku selalu merepotkan Kyuhyun oppa. Selalu membuatnya terbebani. Sekarang rasanya mataku memanas. Aku mengangkat kepalaku menahan tangis, dan mataku mengerjap sekilas. Saat membuka mata, pandanganku melihat sosok yang kukenal. Dan tetesan air mata itu mengalir.

Kyuhyun oppa dan Hyunmi kini beranjak pergi. Aku masih melihatnya. Setelah beberapa langkah, Kyuhyun oppa melihatku, diikuti ekspresi Hyunmi yang berubah saat melihatku.

“Hyewon?” panggilnya sedikit terkejut dan menghampiriku.

Segera kuhapus air mataku, berdiri dan mencoba bersikap seperti biasanya.

“Malam itu kau berbohong ‘kan?” tanyanya saat berada didepanku.

Aku menggeleng kaku.

“Hey! Jangan berbohong.. aku tau Siwon hyung sedang berada di Cina..” ucapnya.

“Semalam kau pulang dengan siapa?” tanyanya seraya menarik daguku agar melihatnya.

“Bukan urusanmu..” jawabku dingin seraya menepis tangannya dan pergi meninggalkan mereka yang menatapku tak percaya. Aku tak peduli saat Kyuhyun oppa meneriaki namaku.

Aku bejalan sedikit berlari, sampai akhirnya aku masuk salah satu bilik toilet.

Sungguh. Bukan ini yang aku mau. Kenapa harus sesakit ini? Tenggerokanku benar-benar sakit. Air mataku kini terus mengalir. Aku memegang dada, tangan kiriku berpegangan pada dinding. Tak terasa aku terduduk di lantai. Menangis perih. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Merasa kecewa karena kebodohan sendiri. Choi Hyewon! Kau sudah membuat orang menderita.

-oOo-

‘Author POV

Hyunmi berjalan di taman kampus sendiri. Ia tidak ditemani Kyuhyun karena sejak pertemuan di kantin itu, Kyuhyun memutuskan pergi.

Tiba-tiba langkahnya tehenti saat melihat seorang namja duduk di hamparan rumput bernaungkan pohon maple besar. Namja itu tengah meniup bunga dandelion yang ada disekitar pohon itu. Entah sudah berapa kali ia selalu melihat namja itu duduk di taman kampus dan meniup bunga-bunga dandelion.

Tak terasa ujung bibir Hyunmi tertarik membentuk senyuman. Tak lama kemudian, ia menghampirinamja itu.

“Kau suka sekali duduk disini?” tanya Hyunmi seraya duduk disampingnya tanpa permisi.

Leeteuk-namja itu menoleh sekilas.

“Aku memang menyukai tempat ini..” sahutnya.

“Juga bunga dandelion?” tanya Hyunmi lagi.

“…….” Leeteuk diam, tak menjawab.

“Aku juga menyukai bunga dandelion..” ucap Hyunmi seraya mengambil setangkai bunga dandelion disampingnya.

Mendengar pernyataan itu, kini Leeteuk menatap Hyunmi.

“Benarkah?” tanyanya sedikit tak percaya.

ne..” sahut Hyunmi, dan meniup lembut bunga berbentuk bulat putih itu.

Leeteuk memperhatikannya tanpa berkedip, melihat saat nafas itu berhembus mengaburkan bunga-bunga kecil itu.

“Kenapa kau suka bunga liar ini?” tanya Leeteuk masih menatapnya.

Hyunmi sedikit merangkak untuk mencabut bunga dandelion lain.

“Karena, hatiku akan merasa tenang saat meniupnya..” ucap Hyunmi seraya meniup lagi bunga itu.

Leeteuk semakin terpaku dengan jawaban Hyunmi.

‘Saat kau meniupnya, kau akan merasa tenang..’

 

Suara dan bayangan yeoja yang dicintainya saat meniup bunga kesukaannya tergambar jelas di matanya. Tapi, pandangannya tak sedikitpun berpaling dari Hyunmi.

Karena tidak mendengar suara dari Leeteuk lagi, Hyunmi menoleh, melihat Leeteuk yang diam menatapnya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Hyunmi.

Tapi Leeteuk tak menggubrisnya, dan tetap menatap Hyunmi.

Sunbae!” tegurnya seraya menepuk pundak Leeteuk.

“Ah, ne?” tanya Leeteuk terkesiap.

“Kau lucu, sunbae..” ucap Hyunmi terkekeh.

Leeteuk ikut terkekeh kecil menanggapi kebodohannya.

“bunga dandelion disini akan habis..” ucap Hyunmi menunjuk sekumpulan bunga-bunga liar itu.

“Ayo kita habiskan sebelum salju-salju itu datang menghancurkannya?” ajak Leeteuk.

“e’hm..” sahut Hyunmi mengangguk setuju.

Kemudian mereka mencabut bunga-bunga dandelion itu dan meniupnya bersama. Sesekali mereka tertawa bahagia saat bunga-bunga kecil putih berterbangan.

-oOo-

Leeteuk menunggu didepan lab setelah mendapatkan pesan singkat dari Hyewon. Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Hyewon keluar dari ruangan lab nya.

“Maaf, membuatmu menunggu lama..” ucap Hyewon tak enak hati pada Leeteuk.

Leeteuk tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya.

gwenchana.. mau pulang bersamaku?” tawarnya.

“Apa boleh?” tanya Hyewon.

“hmm.. tidak..” sahut Leeteuk membuat Hyewon terkejut.

“Asal mau menemaniku makan..” lanjut Leeteuk membuat Hyewon kini tersenyum.

“hah~ kau membuatku terkejut..” ucap Hyewon. Leeteuk hanya terkekeh pelan.

“Hyewon-ah..” panggil seseorang, menghentikan tawa mereka.

Terlihat Kyuhyun dan Hyunmi datang menghampiri. Membuat ekspresi Hyewon berubah. Hyunmi yang melihat Leeteuk hanya tersenyum, begitupun sebaliknya.

“Kau mau pulang bersamanya?” tanya Kyuhyun.

ne..” jawab Hyewon sekenanya.

“tapi k—”

“ah, maaf.. kami harus segera pergi..” ujar Hyewon cepat, seraya merangkul lengan Leeteuk.

Membuat Kyuhyun menatapnya tak percaya. Leeteuk yang dirangkul juga merasa terkejut dengan perlakuan Hyewon.

“permisi.. Ayo, oppa..” ajak Hyewon menarik lengan Leeteuk berjalan meninggalkan Kyuhyun dan Hyunmi.

Kyuhyun hanya bisa menatap punggung mereka berdua. Sungguh. Rasanya ia ingin berlari, menarik Hyewon dan memakinya.

“mereka terlihat serasi, ya..” ucap Hyunmi yang sedari tadi disampingnya.

Kyuhyun menunduk sekilas untuk menghela nafas. Ia sadar kalau itu adalah keinginan Hyewon.

“benarkan, oppa?” tanya Hyunmi seraya memegang lengan Kyuhyun, berharap mendapatkan respon dari namja yang sudah disukainya selama tiga minggu ini.

Kyuhyun membalikkan badannya yang otomatis melepas pegangan Hyunmi.

“Sebaiknya tutup mulutmu..” sahut Kyuhyun dingin dan pergi meninggalkan Hyunmi yang menatapnya heran.

-oOo-

‘Hyewon POV

“Maaf soal tadi..” ucapku menunduk.

Dapat kulihat dari sudut mataku Leeteuk oppa yang sedang mengemudi menoleh sekilas kearahku.

gwenchana..” sahutnya dengan nada lembut.

“Aku yang pilih tempatnya, ne?” tanya Leeteuk oppa mengalihkan pembicaraan.

“n-ne..” sahutku kaku.

Kuusahakan untuk mengangkat kepalaku dan menatapnya yang tengah fokus pada jalan didepannya. Malaikat yang dulu selalu hadir dalam mimpiku. Apa aku bisa menyentuh hatinya? Tapi…

Ada apa? Entahlah. Rasanya ada yang hilang.

Aku merasa hatiku yang akan menyentuh hatinya hilang entah kemana. Mendadak, aku tak merasakan apa-apa. Karena terlalu merasa bersalah padamu, aku jadi tidak punya keberanian mengaguminya lagi, Eunri.

-oOo-

Mobil Leeteuk oppa berhenti didepan restoran yang menyediakan hidangan berbahan dasarstrawberry. Tunggu! Strawberry?

“apa kita akan makan disini?” tanyaku saat kami keluar dari mobil.

ne.. wae?” tanya Leeteuk oppa heran.

“hm, maafkan aku.. tapi aku tidak menyukai strawberry..” aku-ku seraya menggigit bibir bagian bawahku.

jinjja? Tapi—” ucap Leeteuk oppa menggantung.

Aku tau ini adalah tempat yang sangat disukai Eunri. Sahabatku, Eunri memang sangat menyukaistrawberry. Tapi sayangnya aku tidak menyukai buah merah yang selalu disukai para gadis ini.

“hm, baiklah.. kita pindah ketempat lain, ne?” ajak Leeteuk oppa seraya membuka pintu mobilnya.

Aku berjalan pelan seraya menatapnya. Lihatlah, Eunri-ya! Dia masih sangat mencintaimu..

-oOo-

‘Author POV

 

Geudaeui gieok dolgo dorabwado

 

Pihaegal su eomneun geu mal

Heeojimui kkeute dara

Dasi dora dasi dora

Neuritneurit ssahaon sumanheun gamjeongdo

Neuritneurit damaon sumanheun chueokdo

Eonjenganeun (neuritneurit) ijeulge

Andante

“yeaahh.. ‘prok ‘prok ‘prok” Hyunmi memberi tepuk tangan saat Kyuhyun mengakhiri lagunya, ia menghampiri Kyuhyun yang duduk di depan piano.

Sedangkan Kyuhyun hanya menghela nafas berat. Hatinya merasa terbebani akan suatu masalah. Ia kembali mengingat Hyewon yang bersikap dingin padanya akhir-akhir ini.

oppa, suaramu bagus.. kau juga pintar membuat lagu..” puji Hyunmi. Tapi Kyuhyun tak begitu memperdulikannya.

Hyunmi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

oppa, kenapa kau tidak menyanyikan lirik lagu yang oppa tulis disini?” tanyanya seraya menunjuk selembar kertas berisi barisan-barisan kata.

Kyuhyun melirik sekilas kertas itu. Helaan nafas kembali dikeluarkannya. Ia tidak begitu peduli dengan kertas itu, dan memilih kembali diam memikirkan hal yang membuatnya tidak bisa tidur akhir-akhir ini.

oppa, ayo kita coba membuat nada untuk lagu ini..” ajak Hyunmi manja seraya menarik-narik lengan Kyuhyun.

“apa yang kau lakukan?!” bentak Kyuhyun risih dan menepis tangan Hyunmi.

oppa..”

Kyuhyun berdiri dari duduknya.

“Sebaiknya kau tidak usah menggangguku lagi..” ucap Kyuhyun dingin seraya beranjak pergi meninggalkan Hyunmi.

oppa!” cegah Hyunmi menahan lengan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas, dan berbalik.

“Dengar, ya! aku memang suka bernyanyi..” ucap Kyuhyun menatap mata Hyunmi. Rahangnya mengeras tertekan.

“tapi aku tidak pernah menciptakan sebuah lirik lagu, atau puisi seperti yang ada dikertas itu..” lanjutnya. Kemudian menepis tangan Hyunmi kasar dan meninggalkannya yang terdiam.

Hyunmi terpaku mendengar ucapan Kyuhyun. Rasanya seluruh persendiannya mendadak beku, tak bisa bergerak. Benarkah yang ia dengar? Rasanya ia sudah dipermalukan ribuan orang.

Lama ia terdiam, tangannya perlahan mengangkat secarik kertas itu. Menatapnya miris sekaligus perih.

-oOo-

‘Kyuhyun POV

Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan maksimal. Aku tau perbuatanku ini akan berakibat fatal bagi seluruh pengguna jalan di Seoul. Persetan dengan semua itu!

Sekarang yang ada dipikiranku hanya dia. Sikapnya yang mengacuhkanku terbayang jelas di pikiranku. Terutama saat dia memperlakukan Leeteuk seperti itu.

Kenapa semuanya jadi seperti ini? Bodoh! Harusnya aku sudah mengetahui semuanya saat Eunri meninggal. Harusnya aku mengerti kalau Hyewon dan Leeteuk akan bersatu. Dunia ini memang tidak adil untukku!

Aku semakin melajukan mobilku dengan kecepan tinggi. Seperti orang kerasukan, aku menginjak rem dengan sekuat tenaga dan membuat suara decitan ban yang khas. Seketika mobilku berhenti di sisi jalan yang sepi.

“AAARRGGGGGGHHHH!!!”

teriakku prustasi seraya menjambak rambutku dan menundukkannya di stir.

Kenapa? KENAPAAAA?!!!

Semuanya begitu menyakitkan. Membuatku merasa seperti orang terbodoh di dunia ini. Dunia memang tak memihakku sama sekali.

Air mataku keluar begitu saja. Ini benar-benar sakit.

Tuhan.. aku mencintainya. Aku mencintai Hyewon! Sungguh! Kenapa Kau tidak memberikannya sebagai hadiah penantianku beberapa tahun ini? Sepanjang tahun aku melewati semuanya bersama dengan kesabaranku sepenuhnya. Dengan perasaanku yang selalu kujaga. Dengan penantianku yang terasa sangat melelahkan. Kenapa Kau tega membuatku hancur?! Aku sungguh mencintainya, Tuhan.. sungguh!

Aku menangis terisak. Ini kali keduanya aku menangis setelah yang pertama kulakukan di Rumah Sakit beberapa bulan yang lalu saat Eunri meninggal. Tapi yang ini sungguh sangat menyakitkan. Seperti ada sesuatu yang besar mengganjal di tenggerokanku, dan itu sungguh sangat menyiksa.

Aku mengangkat kepalaku. Menatap kosong jalanan didepan. Apapun, harus aku lakukan untuk bisa bersamanya lagi. Baiklah.. jika memang Hyewon tidak dan tidak akan pernah mencintaiku. Aku…

-oOo-

‘Author POV

“Choi Hyewon..” lirih Kyuhyun.

“op-oppa..”

Hyewon yang tengah berjalan ke dapur terhenti sedikit terkejut melihat Kyuhyun datang ke rumahnya malam-malam.

Hyewon memperhatikan penampilan Kyuhyun yang berantakan. Ia merasa sangat ingin menghujaninya dengan beribu pertanyaan. Hyewon mengkhawatirkan Kyuhyun.

“ada apa?” tanya Hyewon dingin setelah membalikan tubuhnya membelakangi Kyuhyun.

Sesak, itulah yang dirasakan keduanya.

Kyuhyun tersenyum perih melihat punggung Hyewon.

“aku.. aku hanya ingin mengatakan, kalau..” ucap Kyuhyun menggantung.

Nafasnya sedikit tercekat. Tak kuasa melanjutkan kata-katanya.

Hyewon terdiam menunggu kata-kata selanjutnya. Sebenarnya ia tak tahan memunggungi Kyuhyun seperti itu. Hanya saja, sejak ia melihat Kyuhyun tadi, tenggerokan hingga hidungnya tiba-tiba saja panas dan sesak.

“kalau aku.. aku mencintaimu..” lanjut Kyuhyun.

Hyewon terkejut mendengar pernyataan Kyuhyun. Tubuhnya mendadak beku, terpaku, tak bisa bergerak.

“aku hanya menyatakan perasaanku yang selama ini kusimpan.. kau tidak perlu menjawab, karena aku tau, sudah ada Leeteuk hyung yang menjagamu..” ucap Kyuhyun bergetar.

Ingin rasanya ia berteriak dan menumpahkan semuanya.

“Aku pergi..” pamitnya yang disusul langkah kakinya meninggalkan Hyewon.

Cairan bening itu akhirnya keluar melewati pipi Hyewon. Rasa apa ini? Hatinya mendadak bergetar, tapi tubuhnya menolak. Ia memegang dadanya sendiri, meremas kerah bajunya keras, dan menangis terisak.

Seorang namja yang sedari tadi diam berdiri di anak tangga, memperhatikan kejadian itu hanya bisa menghela nafas.

“Cinta memang sungguh menyakitkan..” lirihnya miris.

-oOo-

“Kau belum tidur?” tanya seorang namja menghampiri Hyewon yang duduk di atas atap rumah. Tempat yang selalu menjadi pelariannya.

Hyewon tak menjawab, hanya menatap langit malam tanpa bintang.

Namja yang baru datang dari China itu mendekat, berdiri disamping Hyewon.

“Kau tau? Terkadang, kita tidak bisa memilih sesuatu yang harus kita pilih..” ucap Siwon-namja itu dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana seraya menerawang.

“Terkadang, kita juga sering kali memilih sesuatu yang salah..” lanjutnya.

Hyewon tetap diam mendengarkan kata-kata Siwon.

“Cobalah untuk melihat sesuatu yang melihatmu.. Jangan berusaha membuat sesuatu yang tidak melihatmu jadi melihatmu..” lanjutnya lagi.

Hyewon masih diam. Dalam pikirannya, ia berusaha mencerna kata-kata Siwon. Terdengar helaan nafas Siwon yang sedikit berat.

“Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu.. kau harus tidur..” nasihat Siwon. Dirasakannya telapak tangan Siwon mengusap kepalanya. Sesaat kemudian Siwon meninggalkan Hyewon sendiri.

Hyewon menunduk, menghela nafas. Bingung dengan jalan hidup yang dijalaninya. Setetes cairan bening itu kembali berhasil melewati pipinya.

-oOo-

Hari ini Leeteuk mengajak Hyewon ke Nami Island. Setelah beberapa hari ini mereka selalu bersama, Leeteuk merasa ingin memulai semuanya dengan Hyewon. Bagaimanapun juga, Eunri memintanya untuk menjaga Hyewon. Dan ia rasa, inilah saatnya.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalanan disekitar tempat itu. Hening, tak ada suara yang mereka keluarkan. Hyewon hanya melihat-lihat pemandangan tanpa minta. Jujur saja, pikirannya masih penuh dengan kejdian semalam dan akhir-akhir ini. Dia bahkan tak memperdulikan Leeteuk yang kini disampinya, yang dulu sangat ia cintai. Kata-kata Siwon, terngiang-ngiang dikepalanya. Apa yang harus ia lakukan?

Leeteuk juga hanya berjalan dengan diam. Ia memang tau dulu Hyewon menyukainya. Tapi kenapa rasa canggung justru sangat menguasi mereka saat ini? Bukan rasa canggung karena saling menyukai, tapi rasa canggung seperti tak saling mengenal satu sama lain. Terlebih Leeteuk merasa Hyewon tidak memperhatikannya. Dengan sedikit keberanian, Leeteuk mendekatkan tangannya, dan menggandeng tangan Hyewon, sehingga membuat langkah mereka terhenti, dan Hyewon sedikit terkejut dengan perlakukan Leeteuk.

Ditatapnya sekilas tangannya yang kini digenggam Leeteuk. Tak ia rasakan kehangatan itu. Semuanya terasa hambar.

Pandangannya beralih melihat Leeteuk yang tersenyum tenang menatapnya, memperlihatkan lesung pipit yang dulu sangat disukai Hyewon. Tapi sekarang rasa kekaguman itu hilang entah kemana.

Tak ingin mengecewakan, Hyewon membalas senyumannya. Saat pandangannya beralih melihat kedepan, matanya menangkap sesosok pria jangkung yang tengah menatapnya juga. Namja itu melihat Leeteuk dan Hyewon bergantian, termasuk tangan mereka yang bergandengan. Hatinya memang seperti ditekan batu es yang sangat besar, tapi ia berusaha mengulum senyum. Dengan segala kekuatannya, Kyuhyun-namja itu melangkah dengan pasti. Melewati Hyewon yang tepaku begitu saja. Tak ada kata-kata yang mereka keluarkan. Sakit dan sesak, itulah yang mereka berdua rasakan.

Kyuhyun berhenti tak jauh setelah melewati Hyewon. Ingin rasanya ia berbalik dan memeluk Hyewon erat. Tapi kakinya memilih melangkah lagi, tanpa mengikuti hati kecilnya. Sedikit helaan nafas menghiasi langkahnya yang sangat berat.

Kajja..” ajak Leeteuk membuyarkan lamunan Hyewon.

Merekapun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Satu langkah,

Hyewon merasa sangat sesak.

Dua langkah,

Ia ragu untuk melanjutkan langkahnya.

Tiga langkah,

Kakinya berhenti melangkah, membuat Leeteuk juga ikut berhenti tak jauh di depannya.

Leeteuk menoleh menatap heran Hyewon yang terdiam.

Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya, balas menatap Leeteuk dengan rasa takut dan cemas.

“maafkan aku..” lirihnya pelan.

Leeteuk terdiam sesaat, kemudian ia tersenyum. Sebenarnya ia sudah tau maksud Hyewon. Ia sekarang sadar, bahwa hati gadis didepannya itu sedang berada jauh, bukan disampingnya.

Leeteuk menyentuh tangan Hyewon yang berada digenggamannya. Perlahan ia melepaskan genggaman itu.

“Pergilah..” ucapnya tersenyum lembut.

Hyewon terharu mendengar ucapan Leeteuk. Kedua ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman. Dengan rasa bahagia, ia berbalik dan berlari meninggalkan Leeteuk. Menyusul sesuatu yang memang harus ia pilih. Sesuatu yang memang harus ia lihat. Leeteuk menghela nafas sedikit sesak, dan tersenyum melihat punggung Hyewon yang semakin menjauh.

Langkah gadis itu terhenti saat melihat punggung seorang namja yang berjalan perlahan dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku jaketnya. Senyumannya semakin mengembang. Puncak dari rasa bahagia itu akan segera ia dapatkan.

Ia kembali berlari mengejarnya. Dipeluknya tubuh jangkung itu dari belakang. Membuat kaki itu berhenti melangkah dan terdiam, sedikit terkejut dengan perlakuan seseorang. Tapi ia tersenyum karena tau, kalau itu adalah yeoja yang dicintainya.

Lama Hyewon memeluk Kyuhyun dari belakang. Tiba saatnya Kyuhyun membalikkan badan. Tapi Hyewon segera mencegahnya.

Andwae!” cegah Hyewon.

“bagaimana aku bisa melihatmu kalau kau seperti ini?” protes Kyuhyun.

Hyewon tersenyum, ia sebenarnya merasa malu karena jika Kyuhyun berbalik ia akan melihat air matanya. Dia menangis terharu karena rasa bahagia.

“Gendong aku..” pinta Hyewon sedikit manja.

Mwo?!” tanya Kyuhyun tak percaya.

Tapi sesaat kemudian dia tersenyum dan memposisikan dirinya hendak menggendong Hyewon.

Hyewon tersenyum melihat Kyuhyun yang sekarang berjongkok, ia mengusap sekilas sudut matanya.

“Jangan menoleh!” perintahnya seraya membalikkan kepala Kyuhyun saat namja itu hendak melirik Hyewon.

Bukannya marah, namja itu malam tersenyum geli.

Kyuhyun melanjutkan langkahnya seraya menggendong Hyewon. Gadis itu memperat pelukannya dileher Kyuhyun. Menghirup aroma shampoo rambut Kyuhyun. Rasanya tak ingin melepaskan pelukan itu barang sedetik saja.

“Kenapa menyusulku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Kau mau tau jawabannya?” tanya balik Hyewon tepat ditelinganya.

“Tentu saja..” sahut Kyuhyun.

“hm, karena—”  ucapnya menggantung.

Kyuhyun diam menunggu kata-kata selanjutnya.

“sepertinya aku mencintaimu..” bisik Hyewon, membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya. Tapi tak menyembunyikan senyuman yang semakin berkembang di bibirnya.

Hyewon menatap wajah Kyuhyun didepannya. Ia juga dapat melihat senyuman yang tergambar jelas di wajah namja yang dicintainya.

“Kau tidak mau melihatku?” tanya Hyewon.

Kyuhyun yang tersadar segera mengubah ekspresinya.

“Buktikan!” tantangnya seraya menatap wajah Hyewon yang tepat di samping belakangnya.

Mwo?!”

Hyewon tekejut dan sedikit menjauhkan wajahnya. Kyuhyun hanya menatapnya dengan senyuman menantang. Meras tertantang, ide yang cukup konyol melintas di pikiran Hyewon.

Hyewon mempererat pelukannya di leher Kyuhyun, agar jarak mereka semakin dekat. Dengan jantung yang berdetak sangat cepat, Hyewon mencium bibir Kyuhyun lembut. Mereka menutup mata merasakan satu sentuhan cinta yang mereka rasakan untuk yang kedua kalinya. Karena sentuhan yang pertama dilakukan mereka saat malam pesta perayaan disekolah.

Cukup lama Hyewon mencium Kyuhyun. Hingga akhirnya Hyewon melepaskan bibirnya. Menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum geli setelah merasakan kejadian beberapa detik yang lalu. Begitupun dengan Hyewon. Kini pipinya bagai kepiting rebus yang siap dihidangkan.

“Mendekatlah..” perintah Kyuhyun lembut.

Hyewon tak mengindahkan perintah itu. Ia sibuk menyentuh pipinya yang seakan tak bisa berhenti mengembung karena tersenyum.

“YA! Mendekatlah..” ulang Kyuhyun dengan menaikkan nada bicaranya.

Shirreo!!” tolak Hyewon cepat.

Ia sungguh merasa malu jika Kyuhyun harus melihat wajahnya yang sekarang.

Kyuhyun mendengus kesal, dan akhirnya mengalah, menurunkan Hyewon dari punggungnya. Hyewon sedikit terkejut, hendak menjauh. Tapi Kyuhyun segera menarik lengannya dan melingkarkan tangannya di pinggang Hyewon.

Hyewon terkejut dengan gerak cepat Kyuhyun yang kini menyunggingkan smirk-nya. Tersenyum jahil kearah Hyewon. Tak lama kemudian, Kyuhyun mendekatkan wajahnya.

Saranghae..” ucapnya sebelum berhasil mencium bibir Hyewon lembut.

Kyuhyun mempererat pelukannya di pinggang Hyewon. Seakan mengerti, tangan Hyewon terangkat melingkar di leher Kyuhyun.

Butiran-butiran putih salju itu turun menghiasi cinta mereka yang bersemi dimusim dingin. Memperindah suasana dengan keagungan cinta yang mereka miliki.

“Sekarang aku mengert. Tembok besar itu bukanlah rasa penyesalanku kepadamu. Tapi tembok besar itu adalah rasa cinta yang diberikan Kyuhyun, sehingga membuatku terperangkap, tak dapat menyentuh hati pangeranmu..

Lee Eunri, tenanglah dalam hidupmu yang baru..” –Choi Hyewon.

-oOo-

Namja berambut coklat itu duduk di bangku taman Nami Island. Ia menghela nafas ketika punggungnya menyender di kepala bangku kayu itu. Menatap langit yang bertabur butiran-butiran putih salju. Ia tersenyum memandang langit itu.

“When the snow falls like this

I think I want to hug your body

Could I get your replacement?

Until this second, I still love you..” –Leeteuk.

 

Ia menutup mata saat butiran salju itu menyentuh wajahnya. Basah. Itulah yang ia rasakan.

 

“Your tears touched my face

You’re sadness because I failed you, dear?

Don’t cry,

I will not disappoint you, honey.” –Leeteuk.

 

Angin yang lumayan kecang itu behembus mengaburkan butiran salju dan membuat wajah tampan itu semakin basah. Ia tetap menutup matanya merasakan basahnya salju putih itu.

‘sruuukkkk

Selembar kertas ikut menyentuh wajahnya dan memaksanya untuk membuka mata. Diambilnya kertas yang kini terjatuh di depannya. Ia tersenyum memperhatikan kertas itu. Sesaat kemudian, ia mengambil pena di saku kemeja dalam jaketnya.

‘Eunri.Leeteuk’

Tulisnya di bagian paling bawah kertas itu. Ia tersenyum melihat tulisannya sendiri.

“Hosh.. jogiyo.. hosh..” ujar seseorang dengan nafas tersengal-sengal karena berlari.

Leeteuk menoleh melihat gadis yang sering menemuinya di taman kampus saat ia merindukan kekasihnya.

nde?” tanyanya tersenyum manis seraya memperhatikan gadis itu yang kini duduk disampingnya.

“Maaf.. kau sudah mengambil kertasku.. bahkan kau mencoretnya..” ucap Hyunmi-gadis itu sedikit kecewa seraya menunjuk kertas di tangan Leeteuk.

Leeteuk sedikit heran dengan perkataan Hyunmi. Di lihatnya kertas yang kini ada di tangannya.

“Ini?” tanya Leeteuk menunjuk kertas itu.

Ne.. bisakah kau memberikannya padaku, sunbae?” pinta Hyunmi.

Leeteuk tersenyum mendengar permintaan Hyunmi.

Nona, sepertinya kau salah..” ujar Leeteuk membuat Hyunmi mengangkat sebelah alisnya, tapi tak memalingkan pandangannya dari Leeteuk.

Salju itu terus turun bersama angin yang lumayan kecang, berhembus menghiasi siang yang indah itu. Setidaknya indah untuk sebuah takdir yang baru dimulai.

Leeteuk masih tersenyum geli melihat Hyunmi yang menatapnya.

“Tulisan dan kertas ini milikku, nona..” lanjutnya.

MWO?!!”

The End

Sengaja tidak melanjutkan percakapan maupun cerita HyunTeuk couple di FF ini.. saya ingin membiarkan imajinasi kalian berkembang.. silahkan bayangkan cerita cinta mereka.. karena tidak semuanya cerita FF yang memiliki akhir bahagia/sedih.. karena hidup ini terus berlanjut.. dan masalah-masalah pasti selalu datang menghampiri..

Silahkan tinggalkan jejak setelah membaca FF ini.. Kritik dan saran sangat di butuhkan..

tidak menerima bashing, atau sejenisnya.. dilarang menjiplak/Co-Pas tanpa izin dari Chocoby!

Kamsahamnida~ ^^

republised by admin suju superfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s