Sent Me from Heaven (12 hours)

Tittle: Sent Me from Heaven (12 hours)

Genre: romance, fantasy (asli ngayal)

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Park Jungso, Kim Bo Kyung, Kim Yoo Jin

Author: Vika So Espresso

“bisakah aku bertemu dengannya sekali saja, meski hanya beberapa detik?” gumam Bo Kyung sambil menengadah ke atas, ia memandangi beberapa bintang di langit.

“entahlah.” Jawab Yoo Jin yang juga ikut duduk di jembatan tol yang sudah jarang di gunakan itu dan memperhatikan hamparan luas di atas. “lagi pula kenapa ingin bertemu? Aku selalu merasa aneh dengan orang-orang yang tidak bisa menerima kematian dan memohon sepertimu. Memang apa yang diharapkan? Kalau aku, aku tidak akan memohon seperti itu, aku tidak ingin bertemu dengan orang yang sudah mati. ” lanjut Yoo Jin, ia menatap sahabat di sampingnya hanya terlihat segurat senyum di tepi bibir Bo Kyung, senyum keputusasaan.

“aku hanya merindukannya.” Ucap Bo Kyung lirih. Matanya berkaca-kaca, ia tersenyum lebih lebar untuk menyembunyikan kesedihannya. Yoo Jin berhenti menatapnya dan kembali sibuk menyapu pemandangan langit. “hoshi~” gumam Bo Kyung.

“ne, Byeol!” Yoo Jin membenarkan dan mengangkat tangannya ke langit-langit seakan ingin menyentuh benda terang di atas sana. “ya! Kyungie-ah”

“hmm?” dehem Bo Kyung menjawab Yoo Jin tanpa menoleh ke arahnya.

“apa kau pernah dengar tentang bintang ajaib? Kau bisa bertemu dengan Kyuhyun, jika kau bisa menemukan bintang yang paling terang. Ini bukan tentang bintang jatuh! Hanya bintang yang terang dan akan semakin terang, memohonlah untuk bertemu dengannya.”

“yah! Mungkin aku akan melakukannya. Kkkkekeke~” Bo Kyung terkekeh geli. “kau sudah mengatakan itu sebanyak 77 kali!” tegas Bo Kyung mengingatkan sambil tertawa begitu juga Yoo Jin yang merasa telah berkata hal paling tidak masuk akal di dunia.

Selagi mereka tertawa tampak sebuah bintang bersinar cukup terang dari yang lain, bintang itu semakin terang dan terang dan terang. “Yoo Jin! Aku melihatnya! Bintang yang kau katakan itu, aku melihatnya sekarang!” Bo Kyung segera berdiri dari duduknya, di tengah jalan yang cukup sepi itu ia berlari dan memastikan bahwa yang dilihatnya itu benar. Yoo Jin yang juga melihatnya tak percaya, itu benar-benar bintang yang sangat terang. Mata kedua yeoja itu berkaca-kaca takjub.

“ya! Ucapkan permohonan Kyungie-ah!!” Yoo Jin mengingatkan Bo Kyung, sebelum bintang itu kembali meredup. Bo Kyung mengangguk dan tersenyum yakin.

“Tuhan melalui bintang itu! Aku ingin bertemu dengan Kyuhyun! Izinkan aku menemuinya! Beri kami waktu! Biarkan kami bersama lagi! Onegaishimasu! Onegaishimasu! Onegaishimasu!!!” teriak Bo Kyung parau sambil berlutut, air matanya mengalir lirih. Ia bahkan tidak yakin ini akan berhasil, tapi setidaknya di dalam hatinya yang paling dalam ia merasa lega dan lebih baik.

Yoo Jin terharu melihatnya.. matanya ikut berkaca-kaca, sesekali ia menyeka matanya agar cairan bening itu tidak benar-benar turun dari sana. “Onegaishimasu!” gumam Yoo Jin tertahan sambil memandang bintang yang sudah mulai meredup itu.

Yoo Jin melangkah menghampiri Bo Kyung yang masih berlutut dan menangis. Ia berlutut dan memeluk Bo Kyung, mengusap rambut yeoja itu dan ikut merasakan kesedihannya. “ya! Keberuntungan angka 77! Kau sudah melakukannya dengan baik.” Yoo Jin menghibur semampunya, ia tahu ini tak akan mudah untuk Bo Kyung. Ia mencoba menarik tubuh Bo Kyung agar berdiri.

“meskipun aku tahu ini akan sulit, tapi setidaknya hal bodoh tentang bintang yang sering kita bicarakan itu sudah benar-benar terjadi. Yoo Jin-ah, sekarang aku cukup lega.” Jelas Bo Kyung, ia berjalan lebih dulu. Yoo Jin masih terdiam setelah mendengar ucapan Bo Kyung dan sesaat senyum dibibirnya mengembang, ia segera memulai langkahnya menyusul Bo Kyung yang sudah berada agak jauh di depannya. Mereka menyusuri jembatan tol yang cukup sepi dengan beberapa lampu jalan di pinggirnya.

***

Cahaya matahari merembet dan sukses menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar Bo kyung dan Yoo Jin yang hanya berukuran sedang dengan barang-barang yang tidak terlalu berharga di dalamnya. Bo Kyung perlahan membuka matanya dan begitu terkejut saat melihat wajah seorang namja yang sangat menyilaukan mata berada sangat dekat dengan wajahnya. Mata Bo Kyung melebar sampai titik maksimalnya dan sepersekian detik setelah itu jeritannya yang kuat membangunkan Yoo Jin yang tepat berada di sebelahnya. “Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”

“ya! Ada apa?” gerutu Yoo Jin yang berusaha sekuat tenaga untuk bangun karena teriakan yeoja di sampingnya. “Bo Kyung ada apa???” tanyanya lagi untuk kedua kalinya pada Bo Kyung yang masih membulatkan matanya dengan mulut menganga. “Bo Kyung!” teriak Yoo jin sambil mengguncang pelan tubuh Bo Kyung, ia takut sesuatu menguasai tubuh Bo Kyung. Seperti kerasukan.

“siapa kau?” tanya Bo Kyung ragu. Yoo Jin melihatnya dengan bingung, ia tidak tahu siapa yang diajak bicara Bo Kyung.

“aku bintang 77, namaku Lee Sungmin salam kenal.” Ucapnya dengan senyum yang membuat dirinya semakin menyilaukan. Bo Kyung mendorongnya agar menjauh, ia segera berdiri dan memberi tahu Yoo Jin yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Yoo Jin! Hubungi polisi segera! Ada penguntit berwajah menyilaukan di sini!” ucap Bo kyung kacau sambil mulai mondar-mandir menyusuri kamarnya yang tak cukup lebar itu.

“apa yang kau katakan? Penguntit apa?” Yoo Jin semakin bingung dan mengira Bo Kyung telah kehilangan akal sehatnya karena terlalu frustasi. “tenanglah Bo Kyung! Aku mohon jangan bertindak aneh seperti ini!”

“apa kau tidak melihatnya? Itu.. di sana.. di dekat lemari, ada penguntit berwajah menyilaukan! Cepatlah hubungi polisi!!” jelas Bo Kyung sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sungmin.

“apa? Penguntit? Siapa?” Sugmin yang masih terduduk menunjuk dirinya sendiri bingung. Bo Kyung mengangguk yakin dan menatapnya tajam, seolah berkata –iya-kamu-siapa-lagi-hah!-. Sungmin terkekeh dan mulai menjelaskan dan memperkenalkan lagi dirinya. “kau pasti salah sangka. Aku adalah malaikat nomer 77, namaku Lee Sungmin. Aku datang karena permohonanmu kemarin, apa kau ingat?” tanyanya dengan raut muka yang sama. Ramah dan menyilaukan.

“apa itu benar? Kau malaikat?” tanya Bo Kyung ragu. Ia kemudian menatap Yoo Jin yang balas menatapnya menunggu penjelasan dari Bo kyung. “Yoo Jin, penguntit itu bilang dia malaikat dari bintang semalam!” Bo Kyung memberitahu Yoo Jin yang semakin kebingungan. Bo Kyung kemudian menoleh ke arah Sungmin lagi. “lalu kenapa dia tidak bisa melihatmu?” tanya Bo Kyung yang masih berusaha mencerna semua ini.

“itu karena hanya kau yang mengucapkan permohonan.” Jawab Sungmin yang kini sudah berdiri. “sekarang, sudah jelaskan?”

Bo Kyung mengangguk dan terduduk lemas, ia menyuruh Yoo Jin pergi dan akan menjelaskannya nanti. Yoo Jin yang cukup pusing dengan kejadian pagi itu setuju dan keluar dari kamar. “sekarang apa?” tanya Bo kyung sedikit mendongak menatap Sungmin, setelah Yoo Jin menghilang dari balik pintu.

“sekarang aku akan mempertemukanmu dengan Kyuhyun, tapi kau harus membuat keputusan.”

“keputusan apa?” tanya Bo Kyung bingung.

“nanti kau juga akan tahu. Sekarang kau hanya perlu menunggu, oke. Aku pergi!” jawab Sungmin. “ah, tapi tunggu.. kau hanya punya waktu 12 jam untuk bersamanya. arraso??” lanjut sungmin sebelum pergi.

“kenapa hanya 12 jam? lalu bagaimana kalau aku melewati batasnya?”

“aku harap jangan, karena kau akan menyesal.” Jawab sungmin dan kemudian ia menghilang.

“arra..”

***

Yoo Jin berada di depan rumah Jungso, namja yang selama ini cukup mampu menghiburnya. Tak lama Park Jungso keluar dengan menaiki sepedanya. Yoo Jin tersenyum kearahnya dan mereka berboncengan menuju jembatan tol yang sama dengan yang dikunjunginya semalam bersama Bo Kyung.

“sekarang masalahnya apa?” tanya Jungso, mereka sudah berada di jalan raya itu. Yoo Jin memberitahukan semua yang terjadi di kamarnya pagi tadi pada Jungso. “mungkin cerita tentang bintang itu benar, sudahlah.. lebih baik kau jangan terlalu memikirkannya. Ah~ bagaimana kalau kita pergi ke pantai?” ajak Jung So.

“pantai? Yahh! Baiklah.” Yoo Jin tersenyum senang. “kajja!” ucap Jungso, mereka pergi menggunakan sepeda menuju pantai.

Sepanjang perjalanan mereka berbincang mengenai banyak hal, Jungso menggoda Yoo Jin dan di balas dengan gelitikan di pinggang Jungso. “terima ini! Kkekek~” Yoo Jin semakin gencar menarikan jemarinya di pinggang Jungso, mereka terlalu asyik membuat sepeda mereka semakin menengah sampai tidak menyadari sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan. “Oppa awas!!!” teriak Yoo Jin saat menyadari mobil itu sudah di dekatnya dan menghempaskan mereka sampai ke bahu jalan.

***

Bo Kyung masih gugup menunggu Kyuhyun di kamarnya, ia sudah mengenakan baju terbaiknya sekarang dan beberapa kali ia melihat ke cermin. Sesaat kemudian Kyuhyun datang dengan T-shirt putih dan celana jean. Bo Kyung yang melihat itu merasa jantungnya berhenti berdetak, ia tidak percaya kini Kyuhyun berada di depanya. “Kyu?” sapa Bo Kyung ragu. Kyuhyun tersenyum dan berjalan mendekati Bo kyung. Hal sama di lakukan oleh Bo kyung dan mereka berpelukan. Bo Kyung hampir menangis tapi di tahannya, ia tidak mau menangis di saat bahagia seperti ini.

“kau kurusan sekarang.” Ucap Kyuhyun membuat Bo kyung mempererat pelukannya.

“yah! Ini kau! Ini memang Cho Kyuhyun, siapa lagi yang akan mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini.” Ucap Bo kyung sedikit terisak. “gumawo telah kembali!” gumam Bo Kyung.

“gumawo telah mengharapkanku kembali.” Balas namja itu.

Bo Kyung melepas pelukannya, ia memandang namja itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Cairan bening mengalir di pipinya. Ia masih belum percaya hal ini nyata, tapi hembusan nafas Kyuhyun saat mereka berpelukan membuktikan bahwa semua itu bukan mimpi. “sekarang apa? Hanya 12 jam Kyu.” Bo Kyung menyeka air matanya.

“pelit sekali nomer 77 itu, kenapa hanya 12 jam!” Kyuhyun mengacak-acak rambutnya. “baiklah karena hanya 12 jam, ayo kita bersenang-senang!” Kyuhyun menarik tangan Bo Kyung pergi.

Mereka berada di jembatan tol, duduk memandang kebawah mengamati tiap kendaraan yang melaju di bawah. Bo Kyung terus memandang ke arah Kyuhyun, ia menjelajahi setiap lekuk wajah namja di depannya. “biasa saja melihat namja tampan sepertiku!” perkataan Kyuhyun membuat Bo Kyung mengalihkan wajahnya, ia malu sampai pipinya semerah tomat sekarang. Melihat itu Kyuhyun hanya menunjukkan evil smirknya.

“kau ini bisa dibilang arwah yang mendapat kesempatan hidup, kenapa masih seperti itu. Bersikaplah baik, mungkin bisa membuatmu hidup lebih lama lagi.” Bo kyung tak percaya kelakuan orang yang bangkit dari kematian masih seperti itu.

“tidak bisa, jika kau mengharapkan aku untuk bersikap romantis padamu itu mustahil.” Kyuhyun kembali menunjukkan senyumnya. Bo Kyung berdiri sambil menatapnya sebal, dan kemudian berjalan menjauh meninggalkan Kyuhyun sendiri. Baru beberapa langkah Bo Kyung kembali lagi dan memeluk Kyuhyun. “kenapa kembali?” Kyuhyun mencoba menggodanya. Bo Kyung memukul kepala Kyuhyun sebal. “ya! Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun protes tak terima. “lupakan. Ayo kita pergi ke taman hiburan!” ajak Bo Kyung, Kyuhyun setuju.

***

Jungso sadar dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama kaki dan kepala. Seorang suster menghampirinya. “kapanpun anda merasa baik, anda sudah boleh pulang.” Jelasnya dengan ramah. Jungso menanyakan Yoo Jin dan suster memberitahunya bahwa Yoo Jin ada di kamar sebelah. Jungso segera pergi menemui Yoo Jin.

Kakinya terhenti melihat Yoo Jin yang masih tidak sadar. “ehm~” dehem dokter membuat Jungso menoleh. “dia pingsan, tapi itu lebih rumit. Kami hanya bisa menunggu sampai dia sadar.” Jelas dokter pada Jungso.

“apa maksudnya itu?”

“kami juga tidak tahu, kita lihat saja.” Dokter itu pergi menginggalkan Jungso yang masih memandang Yoo Jin sendu.

Jung so melangkah mendekati Yoo Jin yang tergeletak dengan selang oksigen dihidungnya. “apa yang kau lakukan? Yoo Jin-ah, cepat bangun!” Jungso menahan air matanya, ia menggenggam tangan Yoo Jin erat.

***

Bo Kyung dan Kyuhyun berada di dalam bis menuju pantai, mereka duduk di bangku paling belakang. Kyuhyun menggenggam tangan Bo Kyung erat, “kenapa dengan pipimu?” tanya Kyuhyun tanpa dosa.

“tidak ada.” Bo Kyung menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sesaat ia sadar dan melihat jam yang melingkar di tangannya. 5 jam tersisa.

“jangan melihat benda itu terus.” Kyuhyun menutupi jam itu dengan telapak tangannya.

Bo Kyung memandang telapak tangan Kyuhyun, ia mulai menelusuri tangan itu dengan telunjuknya secara lembut. “ini terlihat sangat hidup!” Bo Kyung menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. “apakah benar-benar harus pergi? Tidak bisakah seperti ini selamanya?” gumam Bo Kyung lirih sambil menahan air matanya yang sudah menggenang.

Kyuhyun hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin sekali mewujudkan harapan yeoja di sampingnya itu. Tapi ia sadar ia bukan tuhan, dan satu yang ia tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang nyata, dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

Mereka keluar dari Bus, berjalan perlahan menuju pantai. Bo Kyung melepaskan genggaman di tangannya, membiarkan Kyuhyun berjalan terlebih dulu. Ia memandang namja itu dengan wajah sendu, ia tahu setelah ini ia harus rela melepaskannya untuk yang kedua kalinya. Dan itu akan sangat sulit.

“aku sudah kehilangan banyak tenaga saat di taman hiburan tadi, kita duduk saja.” Kyuhyun menarik tangan Bo Kyung agar duduk di sebelahnya. Bo Kyung kesal dan terpaksa duduk, mereka berdua menatap hamparan laut yang luas. Di ujung sana terdapat matahari yang hampir tenggelam.

“di pantai kita bisa kehilangan banyak waktu, kau tahu kenapa?” tanya Bo Kyung membuyarkan keheningan yang sesaat tadi menyelubungi mereka.

“aku tidak tahu.” Kyuhyun mengangkat kedua bahunya.

“karena di tempat yang damai waktu pasti berjalan dengan cepat, tapi tidak ada yang bisa merasakannya.” Terang Bo Kyung sambil menatap Kyuhyun.

“teori siapa itu?” Kyuhyun menarik sudut bibirnya. “waktu selalu berjalan dengan normal, tidak pernah lebih cepat ataupun sebaliknya.”

“apa itu benar tuan Cho? Kau selalu berkata seolah-olah semua yang kau katakan adalah benar, dan membuat orang lain berpikir kau sangat pintar. Tapi tetap saja bagiku ini terlalu cepat.” Bo Kyung berdiri dan berjalan pergi. “mataharinya sudah hilang, tidak ada gunanya lagi berada di sini!” teriak Bo Kyung saat menyadari Kyuhyun masih memandang ke arah laut.

***

“kenapa dia tidak mengangkat ponselnya???” Pekik Jungso frustasi. Sudah puluhan kali ia mencoba mnghubungi Bo Kyung untuk memberitahu keadaan Yoo Jin. Tapi hasilnya nihil, kenyataannya bahwa Bo Kyung meninggalkan ponselnya di rumah. Jungso memegang tangan Yoo Jin, ia berencana pergi sendiri menuju rumah Yoojin untuk memberitahu Bo Kyung.

***

“kenapa kita lewat sini? Bukannya ini jalan menuju rumahmu?” tanya Kyuhyun bingung. Bo Kyung hanya tanpa memperdulikan Kyuhyun yang kebingungan.

“Ayo masuk!” ajak Bo Kyung saat mereka sudah di depan pintu. Kyuhyun masih menatapnya bingung, tapi kemudian dia menurut dan masuk ke dalam. “aku akan memasak ramen untuk kita, kau harus merasakan masakanku.”

“untuk apa?” Kyuhyun menolak dan mengajak untuk makan di luar saja.

“karena diantara kita tidak ada yang bisa membuat ramen, aku sudah belajar. Tapi kau pergi lebih dulu sebelum merasakan masakanku.” Bo Kyung menyuruh Kyuhyun untuk tidak protes lagi, duduk tenang dan menunggu.

Setengah jam kemudian Bo Kyung sudah siap dengan ramen buatanya, ia menatanya di meja kecil. “ayo cepat makan ini, sebelum dingin dan mienya menjadi lembek.” Ajak Bo Kyung, ia memandang Kyuhyun dan baru sadar namja itu tertidur. “Khyunie?” Bo Kyung mengguncang tubuh Kyuhyun pelan. “Kyu!” Kyuhyun masih tidak bergerak sama sekali. “jangan tidur Kyu, kau harus makan ini. Hanya sisa 1 jam.” Bo Kyung duduk lemas, ia takut Kyuhyun kehilangan tenaganya karena waktunya sudah hampir habis.

Mendadak Sungmin datang dengan wajah menyilaukannya, ia tersenyum pada Bo kyung yang sedikit terkejut. “kita bertemu lagi.” sapa Sungmin ramah.

“apa kau kemari untuk menjemputnya?” tanya Bo Kyung sedikit membentak.

“tidak aku hanya akan membawanya jika kau mengizinkan.” Sungmin tersenyum sambil mulai memakan ramen yang ada di meja. “oh~ ini enak!” seru sungmin lagi.

“aku tidak mengizinkan!”

“apa kau sudah memikirkannya dengan baik?” tanya Sungmin memastikan.

Pintu tiba-tiba terbuka dan muncul Jungso dengan keadaan kacau, nafasnya tersenggal-senggal dan keringat bercucuran di sekitar wajahnya. “Bo Kyung!”

“ada apa?” Bo Kyung heran kenapa Jungso bisa ke rumahnya.

“Yoojin..! dia di rumah sakit sekarang, aku hanya ingin mengatakan itu. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, Bo Kyung kau herus ke sana arra?”

Bo Kyung semakin lelah, ia bingung kenapa terjadi hal seperti itu disaat seperti ini. Bo Kyung menyadari sesuatu dan memandang ke arah Sungmin yang masih sibuk dengan mie ramennya. “kau yang memutuskan!” ucap sungmin sambil menyeruput kuah terakhir di mangkuknya.

Mata Bo Kyung mulai berkaca-kaca ia tak bisa percaya harus berada pada kondisi yang sulit. bagaimana bisa dia memilih antara Kyuhyun yang sangat dicintainya dan Yoo Jin sahabatnya dari kecil. Cairan bening itu sudah meluncur membasahi pipinya. “eottoke?” isak Bo Kyung lirih.

Ia mendekati Kyuhyun yang masih tergeletak, entah tertidur atau apa, ia hanya tidak bergerak. Bo Kyung menjelajahi wajah Kyuhyun dengan jarinya, ia dapat melihat setiap lekuk wajah tampan namja itu. Wajah yang selama ini mampu menumbuhkan bunga di hatinya, seseorang yang membuatnya spesial dengan segala keterbatasannya. “kau bahkan tidak pernah bersikap baik padaku, memuji apa lagi, tapi bagaimana bisa perasaaan ini begitu besar? Khyunie..saranghaeyo~” jari Bo Kyung berhenti di bibir Kyuhyun yang sedikit tebal, ia mendekatkan wajahnya dan melumat bibir itu dengan lembut. Pipi Kyuhyun ikut basah dengan air mata Bo Kyung, yeoja itu memeluk erat tubuh Kyuhyun seakan tak mau melepasnya. “Khyunie-ah, kau tahu kan aku tidak bisa meninggalkanmu. Kau juga tahu kalau aku mencintaimu, Kyuhyun kau harus tahu itu. Saranghaeyo.” Bo Kyung beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun menuju rumah sakit. Melihat itu sungmin tersenyum.

….

Perlahan kyuhyun membuka matanya dan mendapati Sungmin sedang duduk di sampingnya. “kau harus kembali, dia sudah mengambil keputusan yang benar.” Ucap sungmin menjelaskan.

“arra! Aku juga tidak berharap lebih, ini cukup..lebih dari cukup.” Kyuhyun mencoba bangun dan membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang memeluk lutut. Sungmin hanya melihatnya tanpa bersuara. “ini tidak bisa lebih lama lagi kan?” tanya Kyuhyun akhirnya setelah beberapa saat terdiam yang hanya dibalas anggukan ringan dari Sungmin. “nado Kyungie-ah.” Gumam Kyuhyun, Sungmin tersenyum menyilaukan membuat seluruh ruangan itu diselimuti cahaya putih

***

Bo Kyung terus berlari ia sudah berada di depan rumah sakit dan hampir sampai. Ia terus berlari dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Sesekali ia melirik jam hanya sisa 7 menit sebelum waktu 12 jam habis.

Bo Kyung membuka pintu kamar tempat Yoo Jin dirawat, Jungso berada di sana sambil terus memegang tangan Yoo Jin. “Yoo Jin-ah” teriak Bo Kyuhng tertahan. Jungso senang Bo Kyung datang, ia segera memberi waktu untuk Bo Kyung berdua dengan Yoo Jin.

Bo kyung mendekat ke sisi ranjang Yoo Jin dan segera memeluk yeoja yang terbaring itu. “mianhae Yoo Jin-ah. Karenaku kau terluka. Kau boleh menghukumku, bangunlah..jebal!” Bo Kyung takut setengah mati akan kehilangan Yoo Jin, ia tidak ingin kehilangan dua orang yang paling berharga baginya. Jarum jam di dinding tepat berada di angka 9. Yoo Jin perlahan membuka matanya ia mengeluh sakit di sekitar tubunhnya.

“Kyungie-ah?” suaranya terdengar parau.

“Yoo Jin? Ha~ terimakasih Tuhan..” Bo Kyung semakin erat memeluk Yoo Jin saking senangnya, Yoo Jin merasa sesak dan memarahi Bo kyung. Jungso mendengar keributan itu segera masuk dan sangat terkejut sekaligus senang. Dia segera berhambur dan memeluk kedua yeoja itu, ikut larut dalam kebahagiaan di sana.

***

“jadi kau sudah bisa melepaskannya?” Yoo Jin mulai bicara, ia sedikit bosan dengan keheningan di sekitarnya. Bo Kyung hanya berdehem sambil mengangguk, ia masih menikmati pemandangan langit yang cukup cerah malam itu. “lalu, kenapa kau memilihku?” tanya Yoo Jin lagi penasaran.

“itu karena, ada seseorang yang akan sangat terluka jika aku tidak memilih kau.”

“nugu?”

“molla.”

“ya! Siapa? Beritahu aku?” Yoo Jin mengancam Bo Kyung dengan mencubit pinggangnya.

“appo! Kenapa kau tidak tahu? Mestinya kau bisa langsung mengetahui hal itu. Babo!” ledek Bo Kyung sambil menyentakkan kepalanya menunjuk seorang namja yang tengah berdiri dengan sepeda di tangannya. Ya. Namja itu, Jungso hanya tersenyum sambil melambaikan tangan menuju keduanya. “malaikatmu menunggu!” Bo Kyung menyuruh Yoo Jin menghampirinya.

“kau? Dasar!” Yoo Jin tersipu malu, tapi ia masih sempat mendaratkan pukulan di kepala Bo Kyung sebelum benar-benar pergi menghampiri Jungso. Bo Kyung hanya mengelus kepala malangnya tanpa mengeluh. Ia tersenyum melihat dua pasangan baru yang tengah berboncengan di bawah lampu-lampu jalan, mereka semakin jauh.

Bo Kyung kembali asyik menkmati langit malamnya. Ia teringat saat Kyuhyun datang ke rumahnya hingga saat dia harus merelakan Kyuhyun pergi. “ya! Khyunie-ah. kau ada di sana kan? Apa kau bisa melihatku? Tunggu aku di sana, kita pasti akan bersama lagi arra? Dan jika saat itu tiba, kau harus memakan ramen buatanku. Oke?” Bo Kyung mengacungkan ibu jarinya. “hey! Kenapa kau tidak memberi tanda? Babo!” Bo Kyung menurunkan tangannya dan kembali terlarut dalam kesunyiannya sendiri.

Triing..

Satu bintang berkelip terang, bintang nomer 77. Melihat itu Bo Kyung tersenyum, ia tahu itu Sungmin dan Kyuhyun. “ya..ya.. ya.. gumawo.” Gumam Bo Kyung dan berjalan pulang. Mungkin sulit melepaskan orang yang paling berharga untuk kita, tapi mau bagaimana lagi? itulah kehidupan, dimana kematian adalah nyata.

Jadi Ingatlah..

Jika kau merindukan seseorang..

Seseorang yang pergi untuk selamanya..

Lihatlah ke langit..

Temukan no 77..lihat dia bersinar..

Dan mungkin..Permohonanmu akan dikabulkan..

…untuk bertemu dengannya. ^^

=The end=

republised by aeund_sujusuperfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s