My Man Part 3

My Man - Part 3

My Man – Part 3

title: my man – part 3
author: Angkin Pindho Kartika Dewi
cast:
Jang Seungmi
Kim Jongwoon
Kim Kibum
Jang Geunsuk
Cameo: Kim Haneul (Seungmi’s cousin)

Part 3 muncul….. kaya’na ini part yang agak panjang dech….. moga g bosen bacana ea…..!

Happy reading!

Tepuk tangan riuh terdengar setelah lagu itu kami nyanyikan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada air mata yang mengalir. Aku benar-benar berhasil menyanyi dan tanpa sadar aku memeluk Kibum. Seketika kelas menjadi lebih riuh dan aku langsung melepas pelukanku. Kibum hanya tersenyum dengan senyum paling manis yang pernah kulihat.

“Kau berhasil Seungmi-ah” kata Kibum lalu dia mencium keningku.

***

Aku sedang duduk di taman saat mataku melihat Jongwoon sedang berjalan menghampiriku. Raut mukanya sangat berbeda, seperti sedang menahan amarah. Dia berhenti di depanku dan menatapku dengan tajam. Anehnya aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Ada apa Jongwoon-ah?”

“Kau membiarkan dia melakukan itu?” tanyanya.

“Apa maksudmu?”

“Kim Kibum….. menciummu di ruang kelas dan kau membiarkannya?”

“Darimana kau tahu?”

Dia menghembuskan nafas panjang dan duduk di sampingku. Aroma lemon itu tercium lagi.

“Kau tidak perlu tahu bagaimana dan darimana aku tahu tentang hal itu. Kepalaku hampir meledak saat aku mendengar kabar itu. Kau benar-benar sukses membuatku gila dan sekarang saat aku melihatmu….. aish….. aku benar-benar tidak bisa marah padamu.” katanya.

Aku hanya diam mendengarnya bicara dan tiba-tiba aku mencium pipinya. Dia terlihat kaget bahkan aku sendiripun kaget mengapa aku bisa melakukan hal bodoh seperti ini. Aku berdiri dan berjalan pergi. Tapi langkahku terhenti saat sebuah tangan menggenggam tanganku dan menariknya hingga aku jatuh ke pelukannya. Jongwoon memelukku dengan erat. Anehnya aku merasa nyaman dipelukannya.

“Kau pasti mulai menyukaiku Seungmi-ah!” katanya penuh percaya diri.

Aku melepaskan diriku dari pelukannya. Namja aneh ini kembali lagi dengan sifat narsisnya. Aku benar-benar tidak tahan dengan sifat narsisnya ini. Aku menginjak kakinya dengan keras dan pergi meninggalkannya.

“YA! Appo…..” katanya.

“Kenapa kau jahat padaku Seungmi-ah…..” teriaknya.

Doremi Café

 

Jongwoon datang lagi ke café tapi kali ini bukan aku yang melayaninya.  Young Ah yang mencatat pesanannya. Melihatnya bicara dengan yeoja lain membuatku merasa aneh. Aku merasa sangat tidak nyaman. Aku benar-benar susah untuk mengendalikan diriku. Akhirnya aku keluar menuju ke taman bermain untuk menghirup udara segar. Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sakit saat melihat dia berbicara dengan yeoja lain. Hanya melihatnya berbicara saja sudah membuatku begini. Aku menghela nafas panjang berkali-kali, berusaha untuk mengendalikan diriku. ‘Jang Seungmi….. Ayo semangat!’ kataku dalam hati.

Saat aku kembali ke café, aku tidak melihat dia di tempatnya semula. Tempat itu telah kosong. Aku berusaha mencari sosoknya. Mungkin saja dia pindah ke tempat duduk lain tapi hasilnya nihil. Aku tidak bisa menemukan sosoknya dimanapun.

“Kau mencariku?” tanya seseorang mengagetkanku.

“Jongwoon-ah, kau membuatku kaget,” kataku.

“Aku dari toilet” katanya lagi.

“Aku tidak mencarimu dan kau tidak perlu menceritakan semua kegiatanmu padaku”

“Aku harus bekerja” lanjutku.

Dia tersenyum dengan manis dan membelai pipiku.

“Kau harus semangat Seungmi-ah” katanya lalu dia berjalan kembali ke mejanya.

Aku kaget dengan perlakuannya tadi. Mukaku tiba-tiba memanas. Mungkin kalau aku melihat wajahku sekarang ini di cermin akan terlihat seperti kepiting rebus. Aku membalikkan badanku dan tanpa sengaja aku melihat Kim Kibum. Dia melipat tangannya di dada dan menatapku dengan pandangan yang aneh.

Kediaman Keluarga Jang

Aku diantar pulang oleh Kibum. Selama perjalanan kami hanya diam. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap aneh seperti ini.

“Terima kasih Kibum-ssi” kataku setibanya di rumah.

“Cepatlah turun dan istirahatlah. Aku tahu kau cukup lelah hari ini” katanya tanpa memandangku.

Dia melajukan mobilnya dengan cepat setelah aku turun dari mobilnya. Kibum hari ini sangat aneh. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu padaku. Sudahlah….. memikirkan ini membuatku sangat pusing.

Aku memasuki rumah dan mendapati sepatu wanita.

“Sepatu siapa ini?” tanyaku pada diri sendiri.

“Aku pulang” kataku.

“Selamat datang Seungmi-ah” kata seorang wanita.

Wanita itu terlihat lebih dewasa dariku maupun kakakku. Dia berdiri dari duduknya, menghampiriku kemudian memelukku.

“Seungmi-ah….. lama tidak bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu.”

“Kau siapa?” tanyaku.

“Kau lupa padaku? Aku sepupumu  Kim Haneul”, katanya lalu melepaskan pelukannya.

Aku masih menatapnya dengan bingung. Dia mengetahui itu dan kemudian membuka dompetnya, mengeluarkan selembar foto. Dia menunjuk gambar yang ada pada foto itu.

“Ini aku, ini kakakmu dan ini…..”

“Aku” potongku.

“Tentu saja….. wah….. kau sama sekali tidak berubah. wajahmu masih tetap cantik dan imut seperti dulu” katanya.

“Kau baik-baik saja? Aku dengar sejak kejadian itu kau tidak menyanyi maupun main gitar lagi” katanya lagi.

“Aku tidak ingin membicarakan ini eonni. Aku masih tidak bisa”

“Kenapa kau jadi seperti ini Seungmi-ah. Kemana perginya Seungmi ku yang ceria? Apa kau mau berbagi cerita denganku?”

Aku hanya tersenyum.

“Apa kau sudah makan malam?”

Aku menjawabnya dengan gelengan kepala.

“Kau ganti baju dulu, aku akan membuatkan sup kimchi untukmu” katanya lagi.

***

Setelah makan, aku dan Haneul eonni masuk ke kamar. Aku mulai menceritakan semuanya, tentang kejadian itu, tentang hidupku setelah kejadian itu, dan tentang hidupku sekarang. Haneul eonni mendengarkan dengan sabar, selalu siap menghapus air mataku saat mereka menetes. Semua beban di hatiku sedikit demi sedikit mulai berkurang. Entah mengapa aku merasa nyaman bercerita dengannya. Mungkin karena kami sama-sama perempuan.

***

Wangi lemon. Samar-samar aku mendengar suara.

“Dia masih tidur. Kalau sedang tidur, kau manis sekali Seungmi-ah”

Aku membuka mata dan betapa terkejutnya aku melihat Jongwoon sedang duduk di kasurku.

“Ya! Apa yang kau lakukan disini?”  teriakku.

“Kau tidak perlu berteriak padaku. Aku hanya ingin membangunkanmu. Kau tahu sekarang sudah siang” jawabnya.

Aku melirik jam di kamarku, jarum pendek menunjuk angka 10.

“Kenapa kau masuk ke kamarku?”

“Aku masuk kesini tidak sendiri” jawabnya, matanya mengarah ke pintu.

Ada Geunsuk oppa yang sedang berdiri di pintu.

“Kau mau tidur sampai kapan putri tidur?” tanya Geunsuk oppa padaku.

“Turunlah, aku yakin kau pasti lapar” lanjut Geunsuk oppa lalu keluar dari kamarku.

“Sebaiknya kau segera keluar sebelum aku menendangmu dari sini!” kataku pada Jongwoon.

Dia hanya tersenyum, mengacak-acak rambutku lalu pergi keluar.

***

Pancake dengan saus strawberry tersaji di depanku sudah menjadi dingin, tapi aku malas untuk memakannya.

“Kenapa kau tidak makan? Apa kau sakit?” tanya Geunsuk oppa.

“Tidak….. aku hanya sedang bingung, kenapa dia ada disini?”

“Maksudmu Kim Jongwoon? Kami akan latihan menyanyi bersama.”

“Sekarang makanlah dan aku akan bersiap-siap” lanjut Geunsuk oppa.

“Ini untukmu” kata Geunsuk oppa sambil menyerahkan bingkisan warna merah padaku.

“Ini apa oppa?”

“Buka saja, itu hadiah karena kau telah berhasil menyanyi di depan banyak orang”

“Darimana kau tahu?”

“Banyak angin yang berhembus di kampus Seungmi-ah, bahkan aku juga mendengar bahwa Kibum menc…..”

Aku langsung menutup mulut oppa ku ini.

“Aku tidak mau membicarakan ini denganmu oppa”

Geunsuk oppa mengangguk tanda setuju.

“Lalu dimana Haneul eonni?” tanyaku

“Dia pulang tadi pagi. Dia itu orang sibuk. Dia kesini hanya untuk mengantarkan kimchi” jawab oppa.

“Wah….. dia hebat sekali, bisa bangun sepagi itu setelah begadang semalaman” kataku sambil memasukkan sepotong pancake ke mulutku.

“Dia bukan putri tidur sepertimu” kata Geusuk oppa.

“Kau memang putri tidur Seungmi-ah, harusnya tadi aku membangunkanmu dengan ciuman penuh cinta” kata Jongwoon.

Aku sudah mengangkat tanganku yang memegang garpu saat Geunsuk oppa menarik Jongwoon menjauh dariku.

“Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum ada tindak penganiayaan disini” kata oppa.

“Aku berangkat” lanjutnya.

Baru beberapa detik aku merasakan ketenangan, tiba-tiba ada yang mencium pipiku.

“Aku pergi dulu jaggi-ya” bisik Jongwoon di telingaku.

Baru saja aku mau melempar botol saus, dia sudah berlari keluar. Mukaku panas. Semoga dia tidak melihat rona merah di pipiku.

***

Hari ini aku libur. Aku hanya ingin bermalas-malasan di depan televisi. Tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Yeoboseyo?”

“Jaggi-ya, apa kau baik-baik saja?” tanya Jongwoon dari seberang telepon.

“Apa kau mengharapkan sesuatu terjadi padaku?”

“Anio jaggi-ya, aku khawatir kau akan merindukanku karena aku pergi terlalu lama. Sekarang kami akan pulang, apa kau mau kubawakan sesuatu?”

“Aku tidak merindukanmu dan aku tidak perlu apapun” kataku langsung menutup telepon.

Ponselku kembali bernyanyi. Aku melihat layarnya, dari nomor yang sama. Aku putuskan untuk membiarkan ponselku terus bernyanyi lalu merebahkan badanku di sofa dan mulai memejamkan mataku.

***

“Seungmi-ah, bangunlah”

Aku mendengar suara Geunsuk oppa dan mulai membuka mata.

“Oppa, kapan kau pulang?” tanyaku sambil duduk.

“Sudah dua jam yang lalu”

Aku melihat sekeliling, mencari sosok Jongwoon. Oppa memperhatikan kelakuan aneh ku dan bertanya.

“Kau mencari siapa?”

“Mana Jongwoon?”

“Aaa….. dia sudah pulang. Dia melihatmu sebentar lalu pulang.”

“Aneh sekali….. kenapa dia tidak mengganggu tidurku seperti tadi pagi” gumamku.

“Kau bicara apa?” tanya Geunsuk oppa.

“Aku tidak bicara apa-apa, mungkin kesadaranku belum sepenuhnya kembali” kataku.

“Kim Kibum ada di sini, dia sudah menunggumu tidur selama 1 jam lebih, aku kasihan padanya, makanya aku membangunkanmu. Cepatlah temui dia!” kata oppa lagi.

***

Setelah mandi, aku menemui Kibum.

“Ah….. mianhae Kim Kibum, kau menungguku lama?”

“Gwaenchanayo, aku hanya tidak ingin menggangu tidurmu”

“Ada apa mencariku Kibum-ah?”

“Aku ingin mengajakmu berkencan”

Mwo? Apa aku tidak salah dengar?. Kibum hanya tersenyum melihat ekspresi kagetku, lalu tiba-tiba senyumnya berubah menjadi tawa yang keras.

“Aku bercanda Seungmi-ah, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan ke Sungai Han. Kau belum pernah melihat suasana malam di sana kan?” katanya setelah berhasil menghentikan tawanya.

“Kau benar-benar membuatku kaget Kibum-ah”

“Tunggulah sebentar, aku minta ijin Geunsuk oppa dulu”

“Kau tidak perlu berdandan Seungmi-ah, aku tidak mau kau terlihat lebih cantik lagi”

Aku membalikkan badan dan memasang wajah bingung.

“Aku tidak mau namja lain melihatmu dan membuat mereka jatuh cinta padamu” katanya dengan muka memerah.

“Araso” kataku sambil tersenyum.

Sungai Han

 

“Wah….. sungai ini sangat indah” kataku penuh rasa kagum.

“Makanya aku mengajakmu kesini, aku yakin kau akan menyukainya”

Kami duduk di kursi kayu panjang yang ada di sekitar sungai. Aku benar-benar menikmati pemandangan malam ini.

Tiba-tiba Kibum memegang tanganku erat.

“Saranghaeyo Seungmi-ah. Aku menyukaimu dari pertama kali aku melihatmu. Would you be my girl?”

Kibum menatapku lekat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mampu menatap matanya. Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Kibum memegang daguku, membuatku melihat wajahnya.

“Tatap mataku Seungmi-ah, aku ingin mendengar jawabanmu sekarang juga”

“Mianhae Kibum-ah”

“Aish….. apa kau mulai menyukai namja aneh itu?”

“Aku tidak tahu Kibum-ah, aku hanya tidak bisa menganggapmu lebih dari teman. Kau satu-satunya temanku disini. Aku tidak mau kehilangan temanku”

“Aku tidak bisa menganggapmu sebagai teman. Ini sangat sulit untukku”

“Kalau menurutmu hal itu sulit, aku yang akan mengejarmu sampai kau mau menerimaku menjadi temanmu”

Kami hanya diam saja selama perjalanan pulang.

“Kim Kibum, siapkan energimu untuk besok, karena aku akan mulai mengejarmu” kataku sebelum turun dari mobilnya.

Aku mengetuk kaca mobilnya dan mengulang kata-kataku.

“Kau ingat baik-baik Kim Kibum. Aku akan mengejarmu dan membuatmu mau menerimaku”

Kibum hanya tersenyum. Aku membalas senyumnya dan melambaikan tangan, lalu Kibum mulai memacu mobilnya.

“Apa kau ditolak Kim Kibum dan hal itu membuatmu jadi gadis agresif yang akan selalu mengejar pria yang menolakmu itu?” tanya Geunsuk oppa dari belakangku.

“Omo….. oppa, kau mengagetkanku”

“Jawab pertanyaanku Seungmi-ah”

Oppa terlihat sangat serius, dia bahkan melipat kedua tangannya di dada.

“Ani oppa….. justru aku yang menolaknya” jawabku.

“Apa maksudmu?”

Oppa memasang wajah bingung. Aku hanya tersenyum dan menariknya masuk ke rumah.

“Apa aku bisa menceritakan ini sebagai cerita sebelum tidur?” tanyaku.

***

Hari Minggu yang cerah. Aku dan Geunsuk oppa berada di taman untuk menikmati sore.

“Kau benar-benar akan melakukan itu Seungmi-ah?”

“Tentu saja oppa….. aku tidak mau kehilangan dia”

“Terserah kau saja. Aku hanya bisa mendukungmu”

“Kau benar-benar oppaku tersayang” kataku sambil memeluk dan mencium pipinya.

“Ya! Kalian benar-benar saudara yang aneh”

Jongwoon tiba-tiba datang dan duduk di antara aku dan Geunsuk oppa.

“Seungmi-ah, apa kau tidak mau memeluk dan menciumku seperti yang kau lakukan pada oppamu?”

Aku memukul kepalanya.

“Ya! Appo”

“Aish….. kenapa kau datang mengganggu hari tenang kami Jongwoon-ah” kata oppa.

“Aku hanya ingin menemui Seungmi ku” katanya sambil tersenyum genit padaku.

“Sebaiknya aku kembali ke dalam. Tiba-tiba aura di sini jadi sangat menyeramkan” kata oppa sambil berjalan masuk.

Kenapa oppa meninggalkanku berdua dengan namja aneh ini?. Apa yang harus aku lakukan?. Jantungku berdetak lebih cepat sekarang, seakan-akan suara detaknya terdengar sampai radius 1 km. Aku jadi sulit bernafas.

“Aku rindu padamu Seungmi-ah”

Dia merebahkan badannya dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya.

“A….. apa….. yang kau lakukan?” tanyaku sedikit terbata-bata.

“Aku lelah Seungmi-ah….. biarkan aku istirahat sebentar”

Jongwoon memejamkan matanya. Aku melihatnya lekat-lekat. Melihat wajahnya yang tengah tertidur membuat senyumku mengembang. Tanpa sadar tanganku membelai wajahnya. Dia membuka matanya dan tersenyum lalu tangannya bergerak menggenggam tanganku dan meletakkan di dadanya. Setelah itu dia memejamkan matanya lagi. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Jantungnya berdetak sama cepatnya seperti detak jantungku.

***

“Oppa, kau kenapa?” tanyaku pada Geunsuk oppa yang sekarang sedang terduduk lesu di depan laptopnya.

“Undangan pesta valentine”

“Apa masalahnya?”

“Oppa-mu itu tidak punya pacar Seungmi-ah” kali ini Jongwoon yang menjawab.

“Apa kau punya pacar?” tanyaku pada Jongwoon.

“Bukankah ada kau? Aku akan pergi denganmu Seungmi-ah”

“Bangunlah dari mimpimu Jongwoon-ah” kali ini Geunsuk oppa yang menanggapi perkataan Jongwon.

“Ah….. Seungmi-ah, bagaimana dengan rencanamu? Apa kau benar-benar akan mengejar Kim Kibum?” tanya Geunsuk oppa

“Aku sudah bilang padamu kan? aku akan mengejarnya dan aku pasti mendapatkannya”

“Apa maksudmu Seungmi-ah? Kau menyukai bocah itu?” tanya Jongwoon kesal.

“Seungmi-ku baru saja menolaknya Jongwoon-ah” kata oppa.

“Karena kurasa aku menyukai namja lain” kataku menambahkan.

“Namja lain, nugu? Apa aku mengenalnya? Jika kau menyukai namja lain kenapa kau mengejar Kibum?”

“Aish….. aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua” lanjutnya lagi sambil berjalan keluar.

“Kau mau kemana Jongwoon-ah?” tanyaku begitu melihat dia pergi.

Tidak ada jawaban darinya.

“Ya! Apa kau marah?” tanyaku lagi dan masih tidak ada jawaban darinya.

Aku mengikutinya. Ketika Jongwoon hendak membuka pintu mobilnya, aku segera memegang tangannya. Hal itu sukses membuatnya berhenti.

“Kau tidak boleh mengendarai mobil dalam keadaan marah. Sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu”

Aku memutar badan dan berjalan kembali ke rumah. Langkahku terhenti karena tiba-tiba Jongwoon memelukku dari belakang.

“Siapa namja yang kau sukai itu? Malhaebwa!”

Aku melepaskan pelukannya dan berbalik menghadapnya.

“Aku menyukai namja yang sering menggangguku, yang selalu membuatku marah tapi kadang-kadang membuatku terseyum sendiri. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukai namja aneh yang sekarang sedang berada di hadapanku” jawabku.

Jongwoon terdiam. Sama sekali tidak ada reaksi darinya. Aku sangat malu dan merasakan mukaku memanas. Aku membalikkan badanku tapi Jongwoon menahan tanganku dan menariknya hingga aku jatuh kepelukannya.

“Saranghae Seungmi-ah” bisiknya.

“Nado saranghae Jongwoon-ah” kataku sambil membalas pelukannya.

Jongwoon memegang daguku dan mencium bibirku.

“Kau milikku sekarang, jangan pernah memperhatikan namja lain” katanya setelah menciumku.

“Tidak bisa Jongwoon-ah, aku masih harus mengejar Kibum”

“Ya! Apa kau mau menjadi playgirl ah?”

“Aku hanya mau Kibum kembali menjadi temanku. Dia satu-satunya temanku disini. Setelah aku menolaknya, dia bilang padaku bahwa dia akan sulit menganggapku sebagai teman. Makanya aku berusaha keras untuk mengembalikan temanku.”

Jongwoon hanya diam saja. Dia kembali menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku suka aroma lemon di badanmu, itu membuatku merasa tenang” kataku.

“Berarti keputusanku untuk memakai parfum mobil tidak salah” katanya polos.

“MWO…..! parfum mobil?” teriakku.

“Kenapa? Ada yang salah?” tanyanya.

“Kau benar-benar orang aneh”

T.B.C

part ini agak panjang ea? jangan bosan ea!

awas klo bosan…..!

mohon komen na ea….!

republised by aeund_sujusuperfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s