My Eyes Is Your Eyes (내 눈은 눈을입니다)

Annyeong Haseyo!! saya bawa ff oneshoot lagi, semoga ga bosen yah! 

Happy Reading!!!

Title: My Eyes is Your Eyes

Author: Triani Apriyanti

Facebook:

  • Triani Apriyanti
  • Tria’elf SparkyuJewels

Twitter: @tria_sparkyu

Cast:

  • Lee Hyukjae [Cho Eunhyuk]
  • Lee Donghae [Kim Donghae]
  • Park Jung Soo [Leeteuk]
  • Kim Jong Woon
  • Kim Ryeowook
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Sungmin [Cho Sungmin]
  • and other support cast

Rating: PG-13

Genre: Angst, Romance, Drama, Suspense, Hurt

Lenght: 6633 word without typo

Warning: Genderswith, Alternate Reality,  Character death, Deathfict, Divergence, Tissue Warning, Official Couple, Wihtout typo

Disclaimer: tahukah reader? FF super angst ini saya dapat idenya waktu mandi, dan saat itu saya lagi di marahin gara-gara telat mandi dan muncullah ide *LoL*. Selain itu, idenya juga saya dapat dari sebuah MV lagu tapi lupa judulnya dan ga begitu jelas sama MVnya alias cuma lihat sekilas. Intinya ff ini milik saya!! Eun/Hae, Kyu/Min, Ye/Wook

A/N: ingat C&C dan LIKE juga. Don’t Copy Paste, Don’t Plagiarism.

Summary: “mataku adalah matamu, dunia yang kulihat adalah dunia yang kau lihat. Aku rela mati demi kebahagianmu dan juga demi dunia yang ingin kau lihat. Saranghae :’) 사랑해

—MY EYES IS YOUR EYES—

—04 April 1996—

‘duarrr, duarr, duarr’

Suara tembakan peluru jelas terdengar di salah suatu villa. Villa yang berada di sebuah perbukitan sekitar daerah Tsyonyu. Villa yang sepi, hanya satu-satunya bangunan yang berada di kawasan itu.

“Appa!” teriak seorang yeoja kecil, dia bersembunyi di bawah meja. Di atas meja itu berserakan kue tart yang terkena tembakan peluru.

“Ssssttt.. Hae jangan berisik! Nanti mereka tahu!” kata seorang namja yang sepertinya seumuran dengan yeoja kecil yang di panggil ‘Hae’ tadi.

“Tapi Hyukjae..” ujar yeoja kecil itu lagi, tetapi jari telunjuk yang mungil milik Hyukjae, dia letakkan di bibir tipis nan mungil yeoja kecil itu.

Yeoja kecil itu adalah Lee Donghae. Anak dari pelayan keluarga namja yang bernama Lee Hyukjae. Mereka begitu dekat bersahabat. Walaupun Donghae adalah seorang anak pelayan dan err– terbilang cukup miskin tetapi Hyukjae sangat menyayangi yeoja itu. Sedangkan Lee Hyukjae adalah seorang anak yang amat kaya, namun sayang akhir-akhir ini, Appa Hyukjae terlibat sengketa dengan perusahaan lain.

04 April 1996, tepat usia Hyukjae 10 tahun. Dia memang tidak jauh dengan umur Donghae yang -kurang lebih berbeda 6 bulan lebih beberapa hari. Namun, ulang tahun kali ini, adalah hari paling menyedihkan di hidup Hyukjae. Yah walaupun itu adalah ulang tahun.

‘bbbrruggg’

Tubuh orang dewasa tepat jatuh di hadapan Donghae dan Hyukjae yang bersembunyi di bawah meja. Appa Donghae.

“Appa!” ujar Donghae dengan suara tertahan. Matanya sangat deras mengeluarkan air mata. Mereka ketakutan sekarang.

“Hyukjae, aku takut hiks.” kata Donghae, dia memeluk tubuh Hyukjae yang sedikit lebih besar dari Donghae.

“Tenang hiks Hae! Aku disini, kau jangan takut ne?” hibur Hyukjae, walaupun sebenarnya dia sedang menangis sekarang. Hyukjae memeluk tubuh Donghae yang menggigil sangat erat.

“Semua sudah mati. Hahaha” teriak namja pembunuh itu, menakutkan sekali.

“Tetapi tunggu dulu, aku lihat ada dua anak kecil disini. Lebih baik kita habisi juga mereka” kata namja satunya lagi, dia bertubuh lebih besar daripada namja yang satunya.

“Ya, sebaiknya seperti itu. Ayo kita cari mereka!” seru namja yang pertama. Namja itu sepertinya menuju lantai dua villa itu. Kesempatan untuk Hyukjae dan juga Donghae melarikan diri dari tempat itu.

“Hae, ayo kita tinggalkan tempat ini!” ujar Hyukjae dan menatap mata Donghae dengan tatapan meyakinkan.

“Tapi Hyuk, aku takut!” rengek Donghae.

Hyukjae menarik Donghae keluar dari bawah meja itu.

“Baiklah aku gendong kau ne? Kkha naik ke punggungku!” ujar Hyukjae sambil menepuk pelan punggungnya.

‘huppp’

Donghae naik ke punggung Hyukjae. Hyukjae segera berlari secepat mungkin dari tempat itu. Mereka keluar dari pintu utama dan berlari ke arah hutan pinus disekitar villa.

“Hyaa itu mereka!” seru namja yang ukurannya lebih besar dari arah balkon dilantai dua villa. Dia melihat Hyukjae yang tengah berlari menggendong Donghae di punggungnya.

“Hyuk, ppalli!” teriak Donghae, makin takut. Donghae makin erat melingkarkan tangannya di leher Hyukjae.

Tanpa melihat kebelakang Hyukjae terus berlari, berlari menyelamatkan dirinya dan juga malaikat kecilnya, Donghae. Tidak peduli kedua penjahat itu masih mengejarnya atau tidak, Hyukjae masih tetap berlari, berlari sekuat tenagnya.

‘Hyukjae, hwaiting! Kau pasti bisa Hyukjae‘ batin Hyukjae, memotivasi dirinya-sendiri.

Hyukjae masih tetap berlari walaupun beban berat di punggungnya seakan menghambatnya untuk berlari dua kali lebih cepat. Jalan setapak di dalam hutan pinus ditelusurinya. Dia berharap jalan raya segera dia temui. Setidaknya truk pembawa sayur lewat dan dapat mereka tumpangi untuk pulang ke Seoul.

Cahaya yang cukup terang tampak di mata Hyukjae. Seperti lampu penerangan jalan. Hyukjae melangkahkan kakinya lebih cepat. Dan benar saja, jalan raya di depannya sekarang.

‘duar, duar, duar’

Suara tembakan terdengar lagi dari arah hutan pinus.

“Hyuk, mereka masih di belakang kita! Eotteohge?” Donghae panik, beberapa kali dia memukul pelan pundak Hyukjae.

Beruntung, Dewi Fortuna berpihak pada Hyukjae dan juga Donghae. Sebuah mobil pembawa sayur lewat. Hyukjae memberhentikan mobil pick up pembawa sayur itu.

“Ahjussi, bolehkah kami menumpang sampai di Seoul?” tanya Hyukjae pada seorang namja paruh baya, pengendara mobil pick up itu.

“Ne, silahkan! Tetapi aku sampai di Pasar Dong Daemun, gwenchanhayo?”

“Ne, kami ikut ahjussi!”

“Kalian di belakang ne? Ah ini ada selimut, cuaca dingin!” kata Ahjussi itu menyerahkan sebuah selimut pada Hyukjae.

Hyukjae dan Donghae naik ke atas mobil itu. Walaupun harus di belakang, setidaknya mereka dapat menumpang untuk kembali ke Seoul dan beruntung Ahjussi itu memberi selimut yang cukup tebal dan cukup di gunakan oleh mereka berdua.

“Hyukjae menunduk!!” seru Donghae ketika melihat kedua penjahat itu keluar dari hutan pinus.

Mereka menengkurapkan badan mereka hingga tak terlihat jika dilihat dari belakang bagian mobil. Beruntung namja itu tak menemukan Hyukjae dan juga Donghae.

***

Mereka sampai di Pasar Dong Daemun. Udara dingin malam itu. Donghae menggigil dan bibirnya pucat. Bahkan Hyukjae rela tidak dapat memakai selimut dan merelakan selimut itu dipakai Donghae seorang.

“Kita sudah sampai, maaf Ahjussi hanya bisa mengantar sampai disini! Dan selimut itu untuk kalian saja.” ujar Ahjussi itu dan membantu Donghae juga Hyukjae untuk turun dari mobilnya.

“Gamsahabnida Ahjussi” kata Hyukjae dan membungkukkan badannya dan Ahjussi itu hanya mengangguk kemudian tersenyum.

Hyukjae menggendong Donghae yang menggigil di punggungnya. Punggung Hyukjae terasa sedikit sakit, mungkin karena menggendong Donghae seharian ini, belum lagi acara lari sambil menggendong. Sungguh melelahkan.

Hyukjae tampak bingung sekarang, harus kemana dia sekarang? Pulang kerumahnya pun tidak mungkin, penjahat di villa tadi pasti akan tahu dan pasti akan membunuhnya. Hyukjae melangkahkan kakinya, kemanapun keinginan kakinya melangkah dan menunggu sampai kaki-kakinya lelah melangkah.

Hyukjae menuju ke sebuah gang yang sempit errr— dan banyak sampah busuk disana. Mungkin itu tempat yang hangat walaupun sangat bau. Hyukjae merebahkan tubuh Donghae dan menyandarkannya pada tembok yang kusam. Tubuh Donghae masih menggigil dengan mata terpejam. Tubuh Donghae tampak dekil, begitu juga diri Hyukjae.

“Hae, mianhae! Mungkin kita harus bermalam di gang ini.” kata Hyukjae.

Dia sangat berharap ada yang bisa membantu Donghae, setidaknya memberikan segelas air hangat dan juga satu selimut untuk dirinya.

“Hae, aku janji, aku akan mencari pekerjaan dan kita akan mencari rumah untuk tempat tinggal kita.” ujar Hyukjae lagi.

Hyukjae mengelus lembut pipi Donghae yang pucat.

“malam Hae” Hyukjae mengecup pipi Donghae.

Hyukjae menyandarkan dirinya pada tembok di sisi lain gang itu. Memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpi, entah itu mimpi indah atau mimpi buruk.

***

“Hyaa eomma, lihat ada anak kecil!” seru seorang yeoja berparas cantik dan juga manis.

Dia tak sengaja menoleh ke arah gang dan melihat dua anak kecil yang tengah tertidur pulas. Yeoja paruh baya yang di panggil ‘Eomma’ pun melihat ke arah yang di tunjukkan anak gadisnya. Walaupun sedikit sulit karena barang bawaannya dari pasar cukup banyak.

“Kau benar Chullie” jawab yeoja paruh baya itu.

Mereka segera menghampiri kedua anak kecil yang tengah tertidur di gang yang berbau busuk itu.

“Hyaa adeulttal, ireona!” ujar yeoja paruh baya itu, sesekali menepuk pelan pipi namja kecil yang ada di depannya.

“Eomma, yeoja ini sepertinya sakit, tubuhnya panas dan menggigil” kata yeoja yang satunya, yang di panggil ‘Chullie’ barusan.

“Eumh kalau begitu kau panggil taxi dan kita bawa pulang kedua anak ini!” suruh yeoja paruh baya itu.

Yeoja yang bernama ‘Chullie‘ itu segera menuruti perkataan Eomma-nya. Dia segera mencari taxi dan mereka membawa kedua anak kecil itu pulang ke rumahnya.

***

“Hankyung-ah, bantu Eomma dan Heechul” teriak yeoja paruh baya itu ketika sampai di rumahnya.

Beberapa menit kemudian datanglah seorang namja jangkung berlari kecil ke arah kedua yeoja yang turun dari taxi.

“Ne eomma?!” tanya namja jangkung yang di panggil ‘Hankyung’ itu.

“Kkhajja bantu Eomma membawa kedua anak ini ke dalam rumah, panggil Yunho untuk membantumu!” suruh yeoja paruh baya itu.

“Ne Eomma!” kata Hankyung dan mengangkat tubuh namja kecil berumur 10 tahun itu.

Park Jung Soo atau lebih dikenal dengan nama Leeteuk. Yah dia adalah seorang Eomma yang berhati malaikat, malaikat bagi anak yang terlantar di jalan atau gang-gang sempit di Seoul. Dia di tinggal suaminya yang bernama Kim Young Woon atau lebih di kenal dengan nama Kang In karena kecelakaan mobil saat akan honey moon. Leeteuk sangat sedih apalagi Leeteuk belum hamil, ya karena mereka menikah bukan karena kecelakaan. Pada akhirnya Leeteuk membangun sebuah panti asuhan, Angels Orphage. Kurang lebih dua puluh anak yang dia asuh di rumahnya yang sederhana, salah satunya Heechul, Hankyung dan Yunho.

“Eomma, badan anak ini panas sekali!” ujar Yunho setelah membawa tubuh Donghae masuk ke dalam rumah dan menempatkannya pada kamar panti asuhan yang masih kosong.

“Ah Heechul cepat ambilkan baskom berisi air panas dan juga handuk untuk mengompres!” titah Leeteuk.

Heechul segera mengambilkan alat yang di pesan Leeteuk. Sedangkan Yunho mengambilkan selimut yang super tebal untuk Donghae dan juga Hyukjae.

“Ini Eomma!” kata Heechul membawa baskom dan handuk untuk mengompres. Leeteuk mengompres tubuh Donghae yang masih menggigil.

“Eohh, dimana aku?” tanya Hyukjae ketika tersadar.

Hyukjae mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Orang-orang yang berada di hadapannya juga tak satupun ada yang dia kenal.

“Siapa kalian?” tanya Hyukjae.

“Ah kau sudah sadar. Aku Leeteuk, aku menemukanmu di gang sempit sekitar pasar Dong Daemun.” jawab Leeteuk dan tersenyum, memamerkan kedua lesung pipinya, “namamu siapa?” tanya Leeteuk.

“Aku Lee Hyukjae dan dia sahabatku Lee Donghae.” jawab Hyukjae.

“Oh hay Hyukjae, aku Jung Yunho” kata Yunho memperkenalkan dirinya.

“Aku Kim Heechul” sambung Heechul.

‘Mereka sepertinya orang baik!’ pikir Hyukjae.

“Apa Donghae baik-baik saja Ahjumma?” tanya Hyukjae. Dia mendekati Donghae.

“Jangan panggil aku Ahjumma, panggil saja Eomma, ne?” pinta Leeteuk. Hyukjae hanya mengangguk tanda menjawab ‘iya’

“Dia baik-baik saja, mungkin sekarang dia perlu istirahat!” jelas Leeteuk, “ah kajja, kau makan dulu! Kamu pasti belum makan kan? Biarkan sahabatmu Donghae beristirahat, ne?”

“Ne Ahjumma ah bukan maksudku Eomma!” jawab Hyukjae dengan senyuman manis. Tingkahnya sangat lucu.

Hyukjae dan Leeteuk keluar dari kamar itu. Matanya sedikit terbelalak, banyak orang disini dan sebagian adalah anak-anak. Dia menatap bingung setiap orang di seluruh sudut ruangan, sebanyak itukah Leeteuk Eomma mempunyai anak?

“Eomma, mereka siapa? Apakah semuanya anakmu?” tanya Hyukjae polos.

“Iya, mereka semua anak Eomma! Ah sudahlah kajja kita keruang makan.” ajak Leeteuk, kini Leeteuk menggendong Hyukjae menuju ke dapurnya.

Seorang yeoja dengan telaten menyiapakan makanan. Dia yeoja yang cantik dan sepertinya juga baik.

“Nah duduklah Hyukjae” kata Leeteuk. Dia menurunkan Hyukjae dari gendongannya dan mendudukkan di salah satu kursi tunggal. Lagi-lagi Hyukjae heran. Di dapur ini ada dua buah meja berukuran besar dan panjang. Masing-masing di meja itu ada 10 kursi, berarti ada 20 kursi di dapur ini.

“Hyukjae, yang memasak ini namanya Kim Key Bum.” ujar Leeteuk memperkenalkan seorang yeoja yang tak kalah cantik dengan Heechul.

“Annyeong Hyukjae” kata yeoja bernama Key Bum itu.

“Oh annyeong Noona!” jawab Hyukjae.

“Nah sekarang makanlah Hyukjae!” suruh Leeteuk.

Hyukjae segera melahap makanannya. Rupanya dia sangat lapar. Leeteuk hanya tersenyum. Malaikat dalam hidupnya kini sudah bertambah dua orang, dan lagi-lagi kedua makhluk kecil ini begitu manis. Donghae cantik dan juga Hyukjae yang tampan.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, makin detik makin bertambah juga kasih sayang Leeteuk pada kedua anak itu, Hyukjae dan juga Donghae. Bahkan Donghae saja sudah melupakan apa yang menimpanya di villa saat ulang tahun Hyukjae, namun tidak dengan Hyukjae. Dia lebih gampang mengingat karena hari itu tepat di hari ulang tahunnya. Bahkan dia sudah tidak mau merayakan ulang tahunnya lagi gara-gara kejadian itu, kejadian paling buruk dalam hidupnya. Kejadian yang merenggut Appa dan Eomma-nya dan juga Appa Donghae.

Hari itu dijalani seperti hari-hari biasa. Namun ada yang sedikit berbeda hari ini, apa itu?

‘ting, tong, ting, tong’

Bel rumah Leeteuk berbunyi nyaring, bukan Donghae yang melakukannya. Karena sejak tinggal di rumah Leeteuk, Donghae sering menekan bel rumah, hingga Leeteuk sering mengira ada tamu. Namun, sekarang tamu itu benar-benar ada. Memang bandel untuk ukuran yeoja. ==”

‘ccekelek’

Donghae membuka pintu rumah. Dia mendongak karena tamu yang mendatangi rumah dua kali lebih tinggi daripada tubuhnya.

“Annyeong haseyo!” ujar seorang yeoja lembut, dia berjongkok mensejajarkan ukuran tubuhnya dengan Donghae.

“Annyeong haseyo Ahjumma! Apa kau mau mencari Leeteuk Eomma?” tanya Donghae memamerkan senyum termanisnya.

“Ne, apa dia ada di rumah?” tanya seorang namja yang bersama yeoja ini. Sepertinya mereka pasangan suami-istri.

“Ada, mari kuantar.” kata Donghae kemudian berbalik dan berjalan menuju ke ruangan Leeteuk, tentunya diikuti pasangan namja-yeoja itu.

“Oppa, dia manis sekali, aku menyukainya!” ujar yeoja itu terhadap suaminya.

“Ehm aku juga menyukainya!” jawab namja itu sependapat dengan istri-nya.

“Annyeong Eomma, ada tamu yang mencari Eomma!” ujar Donghae ketika sampai di depan pintu ruangan Leeteuk.

Leeteuk mendongak.

“Oh, ne! Silahkan masuk Tuan, Nyonya!” kata Leeteuk mempersilahkan pasangan suami-istri itu masuk. Sedangkan Donghae dia kembali bermain dengan Hyukjae.

“Hyaa Donghae! Kau tahu siapa mereka?” tanya Hyukjae.

“Tidak! Sudah ayo kita lanjutkan bermain!” ajak Donghae dan menarik Hyukjae ke halaman rumah.

***

“Maaf Tuan dan Nyonya ada yang bisa saya bantu?” tanya Leeteuk.

“Ah iya perkenalkan aku Kim Jong Woon dan ini istriku Kim Ryeo Wook. Kami kesini ingin mengadopsi seorang anak, dan istri-ku ingin mengadopsi anak yeoja.” jelas namja yang ternyata bernama Kim Jong Woon, memang mirip dengan nama mendiang suami Leeteuk.

“Oh Ne! Dari sekian anak disini apa ada yang menarik perhatian anda?” tanya Leeteuk, lagi.

“Aku menyukai anak yang mengantar kami ke ruangan anda. Apa kami boleh tahu namanya siapa?” Kini giliran yeoja bernama Ryeowook yang bertanya.

“Anak itu bernama Lee Donghae. Dia baru beberapa bulan tinggal disini. Dia juga anak yang baik!” jelas Leeteuk.

“Baiklah kalau begitu kami memutuskan untuk mengadopsi Lee Donghae!” ujar Jong Woon.

“Kalau begitu saya panggilkan dulu anaknya!”

Leeteuk segera memanggil Donghae yang tengah bermain dengan Hyukjae. Leeteuk membawa Donghae ke dalam ruangannya.

“Nah, Donghae ini adalah Appa dan Eomma barumu!” kata Leeteuk.

“Maksud Eomma apa?” tanya Donghae tidak mengerti.

“Kau akan di adopasi oleh mereka! Dan sekarang margamu bukan Lee lagi melainkan bermarga Kim, Kim Donghae.” jelas Leeteuk.

“Apa Hyukjae akan ikut denganku?” tanya Donghae lagi.

“Apa dia temanmu?” tanya Jong Woon lembut. Donghae hanya mengangguk.

“Tidak! Dia tidak ikut. Hyukjae tetap disini bersama Eomma!” jawab Leeteuk.

‘Hyukjae tidak ikut? Apa itu artinya aku harus berpisah dengan Hyukjae? Tidak!’ batin Donghae.

Donghae menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya seakan memaksa keluar dari kelenjarnya. Tidak mungkin. Mana mungkin Donghae mau berpisah dengan Hyukjae, namja yang menyelamatkan Donghae saat itu dan namja yang tidak memikirkan dirinya-sendiri untuk melarikan diri. Jika saat itu mereka tidak lolos dari kejaran penjahat itu, mungkin sekarang Hyukjae sudah mati begitupula dengan diri Donghae.

“TIDAK! Aku tidak mau Eomma, aku tidak mau!! Andwae..” teriak Donghae dan dia menumpahkan seluruh amarahnya. Dia keluar dari ruangan Leeteuk dan berlari menuju ke halaman rumah.

‘greppp’

Tiba-tiba Donghae memeluk Hyukjae dari belakang. Menyembunyikan kepalanya di punggung Hyukjae dan menangis sekeras-kerasnya.

“Hyaa Donghae, kau kenapa? Apa ada masalah dengan Eomma?” tanya Hyukjae lembut. Hyukjae mengarakan tangannya melewati pundaknya dan mengelus kepala Donghae, sayang.

“Hyukjae aku hiks tidak hiks mau, andwae hiks” ucap Donghae terisak.

“Tidak mau apa?” tanya Hyukjae lagi. Donghae enggan menjawab pertanyaan Hyukjae, dia masih saja menangis.

“Donghae!!” seru Leeteuk dari arah rumah dan dua orang mengikutinya dari belakang. Donghae makin mengeratkan pelukannya. Hyukjae menoleh ke arah Leeteuk, dan menatap ketiga makhluk tua (?) itu, bingung.

“Eomma? Ada apa ini?” tanya Hyukjae.

Leeteuk sedikit sulit menjelaskannya. Leeteuk tahu betul bagaimana kedekatan kedua anak asuhnya ini. Tetapi dia harus tetap menjelaskan keadaan sebenarnya.

“Donghae akan di adopsi.” ujar Leeteuk pendek.

“Apa itu berarti Donghae akan meninggalkan panti asuhan ini?” tanya Hyukjae yang sepertinya mulai mengerti inti permasalahannya.

“Ne, itu benar Hyukjae!” jawab Leeteuk.

Hyukjae membulatkan matanya, itu berarti hari ini adalah hari perpisahannya dengan Donghae. Tidak!! Itu tidak boleh terjadi. Hyukjae sangat menyayangi Donghae, melebihi dirinya-sendiri.

“ANDWAE!! Tidak Eomma. Donghae tidak boleh pergi. Eomma tidak boleh memisahkan kami berdua!!” teriak Hyukjae. Hyukjae menarik Donghae ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, seolah tak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua.

“Bagaimana ini?” tanya Ryeowook setengah berbisik.

Jong Woon menatap Leeteuk penuh arti. Leeteuk hanya mengangguk membalas tatapan Jong Woon, seolah berkata ‘baiklah-mungkin-kita-harus-paksa-mereka’

Jong Woon segera menghampiri Donghae dan Hyukjae. Jong Woon melepas pelukan mereka berdua, walaupun sebenarnya Jong Woon tidak tega. Tetapi, itu yang harus ia lakukan. Jong Woon di bantu Leeteuk akhirnya bisa memisahkan Donghae dan Hyukjae. Donghae meronta di gendongan Jong Woon, sedangkan Hyukjae melakukan hal sama di pelukan Leeteuk.

Jong Woon membawa pergi Donghae dan membawanya menuju mobil yang di parkirkan di depan panti asuhan. Ryeo Wook mengikuti suaminya menuju mobil. Hati kecil Ryeo Wook memang tidak rela mengambil Donghae dari sisi Hyukjae. Tetapi mau bagaimana lagi? Mungkin Ryeowook dan Jong Woon merasa terlalu mengutamakan ego mereka.

***

—15 Oktober 2001—

“saeng-il chugha hamnida, saeng-il chugha hamnida, saeng-il chugha Lee Donghae, saeng-il chugha hamnida”

Hyukjae memandang miris kue tart yang ada di hadapannya. Ulang tahun Donghae yang ke-15. Yah, lime tahun terakhir sejak kepergian Donghae dari panti, Hyukjae lebih sering menyendiri, tidak mau bergaul dengan anak panti lainnya.

“Hae, kau sekarang dimana? Bogoshipo.” gumam Hyukjae. Tak terasa air mata Hyukjae jatuh membasahi pipinya.

“Ah pabbo! Untuk apa kau menangis Hyukjae, kau mempermalukan dirimu jika Donghae tahu.” ucapnya pada diri-sendiri.

Bukannya Hyukjae berhenti menangis malah air matanya makin deras menuruni pipinya.

“Hyaaa hiks Donghae hiks kau kemana? Aku merindukanmu Donghae hiks.” teriak Hyukjae.

“Hyukjae?” tegur Leeteuk dan memegang kedua pundak Hyukjae.

“Eomma!” teriak Hyukjae dan memeluk Leeteuk, “Eomma, kenapa Donghae tak hiks pernah mengunjungi kita disini? Apa dia hiks melupakan aku? Apa dia lebih bahagia hiks dikeluarga barunya?” tanya Hyukjae sambil terisak.

“Dia merindukanmu Hyukjae, sangat! Tetapi dia diluar Korea sekarang. Lima tahun terakhir dia pergi ke China bersama Appa dan Eomma angkatnya” jelas Leeteuk.

“Kenapa hiks Eomma baru memberitahuku sekarang?” tanya Hyukjae. Sebenarnya dia kesal pada Eomma angkatnya ini, kenapa baru memberitahukannya sekarang?

“Mianhae!! Oh ya Hyukjae, ada yang ingin bertemu denganmu. Kajja ikut Eomma! Tapi hapus dulu air matamu ne?” kata Leeteuk dan mengusap air mata yang membasahi kedua pipi Hyukjae.

Hyukjae hanya mengangguk dan menuruti kata Eomma angkatnya. Mereka menuju ke ruangan Leeteuk.

Dua orang duduk di depan meja kerja Leeteuk. Hyukjae menatapnya heran. Terakhir dia menemui pasangan seperti ini lima tahun lalu, tepat sejak kepergian Donghae.

“Annyeong Hyukjae!” sapa salah satu dari kedua orang itu, yang bergender yeoja. Sedangakan yang namja hanya tersenyum.

“Annyeong Ahjumma” jawab Hyukjae kemudian mencium tangan yeoja itu.

“Nah, Hyukjae. Mereka adalah Appa dan Eomma barumu. Ini Appa-mu namanya Cho Kyuhyun dan Eomma-mu Cho Sungmin.” jelas Leeteuk.

Hyukjae terdiam sejenak, menatap kedua -calon- orang tuanya. Berbagai pemikiran telah dia pikirkan sekarang.

‘Jika aku ikut mereka, mungkin aku bisa menemui Donghae di luar sana. Ya aku mau’ batin Hyukjae.

“Ne, Eomma! Aku mau ikut mereka” kata Hyukjae memutuskan.

Senyum mengembang pada pasangan suami-istri ini. Sungmin segera menghampiri anaknya.

“Gumawo Hyukjae-ah!” kata Sungmin dan segera memeluk Hyukjae.

“Ne, Eomma! Cheomaneyo” jawab Hyukjae.

***

Sekarang Hyukjae adalah bagian dari keluarga Cho, keluarga kecil pembuat roti yang sederhana. Kyuhyun dan Sungmin sangat menyayangi Hyukjae, walaupun Hyukjae adalah anak angkat mereka. Walaupun mereka hanya menjadi pembuat roti dan kue untuk mencukupi kebutuhan mereka, tepi mereka sangat bahagia.

“Hyukjae, ambilkan Appa tepung ne?” teriak Kyuhyun dari arah dapur.

“Ne, Appa!” jawab Hyukjae.

“Chagi, panggil dia Eunhyuk.” pinta Sungmin.

“Eunhyuk? Apa kau memberinya sebuah nama panggilan untuknya? Ah nama yang bagus!” kata Kyuhyun. Mereka berdua masih sibuk membuat roti.

“Ah ini Appa, tepungnya!” kata Hyukjae sambil membawa sekantung besar tepung.

“Ah gumawo” jawab Kyuhyun dan meraih kantung tepung itu dari tangannya.

“Eunhyuk kau sudah makan?” tanya Sungmin yang dibalas tatapan bingung dari Hyukjae.

“Eunhyuk?” tanya Hyukjae bingung.

“Ne, Eunhyuk! Eomma memberi nama panggilan baru untukmu. Karena memanggilmu Hyukjae itu sedikit rumit!” ujar Sungmin menjelaskan, “apa kau tidak suka?” tanya Sungmin.

“Ah tidak! Aku menyukainya Eomma. Berarti aku mempunyai tiga nama sekarang. Lee Hyukjae, Cho Hyukjae dan juga Cho Eunhyuk.” kata Hyukjae dan membuat keluarga kecil itu tertawa, bahagia.

***

“Appa, aku mau ke Seoul! Aku mau bertemu Hyukjae!” rengek Donghae pada Jong Woon.

“Iya chagi. Nanti kita ke Seoul, tapi sekarang jangan ganggu Appa yang sedang menyetir” ujar Jong Woon lembut.

“Tidak mau!! Aku mau kau besok mengantarku ke Seoul Appa. Aku mau besok!” rengek Donghae lagi dan menarik-narik lengan baju Jong Woon.

“Ne, chagi, tapi kau jangan ganggu Appa dulu ne?” ujar Jong Woon lagi.

Donghae tak mengindahkan sepatah kata Jong Woon, dia masih tetap merengek dan menarik lengan baju Jong Woon. Jong Woon memberhentikan mobilnya di tengah jalan karena dia merasa menyetir sedikit oleng.

“HYAAA!! Bisa tidak kau diam eoh?” bentak Jong Woon pada Donghae.

Sunyi. Donghae diam seketika itu. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Appa!” ucap Donghae pelan.

“Mianhae Donghae, Appa tak bermaksud membentakmu!” pinta Jong Woon dan segera memeluk tubuh mungil Donghae.

Donghae mendorong tubuh Jong Woon, dan keluar dari mobilnya.

“Hyaa Donghae, kau mau kemana? Maafkan Appa!” teriak Jong Woon yang juga keluar dari mobilnya.

Donghae berlari ke dalam lebatnya pohon di hutan sekitar jalan raya. Dia menangis sekencang-kencangnya sambil berlari. Jong Woon terus mengejar Donghae yang makin jauh berlari ke dalam hutan.

“Donghae-ah maafkan Appa!! Berhenti!!” teriak Jong Woon yang terus mengejar Donghae.

“Appa jahat!!” teriak Donghae dan masih terus berlari.

‘bressss’

Tiba-tiba Donghae terpeleset dan terperosok ke dalam jurang, walaupun jurang itu tidak terlalu dalam.

“APPAAA!!!” teriak Donghae.

Donghae berguling-guling beberapa kali.

“Appa!! Huaaa Appa sakit!!!” tangis Donghae.

Wajahnya tampak tergores ranting hutan yang tajam. Dan yang paling menyedihkan adalah matanya yang mengeluarkan darah. Mungkin ada benda asing yang menggores matanya saat terguling tadi.

“Donghae!” kata Jong Woon yang menemukan keberadaan Donghae. Dia segera menuruni jurang yang dangkal itu. Dia mendapati anak angkatnya dalam keadaan rebahan dan cairan yang merah mengalir dari matanya.

“Donghae hiks.. Maafkan Appa!” kata Jong Woon dan segera mengevakuasi (?) tubuh Donghae. Jong Woon segera membawa Donghae ke rumah sakit. Dia sangat panik saat itu.

***

—Beijing Hospital—

“Oppa, bagaimana itu bisa terjadi? Hiks Donghae!” kata Ryeo Wook panik. Ryeo Wook daritadi mondar-mandir di depan pintu ruang ICU.

Sedangkan Jong Woon? Dia hanya duduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa sangat bersalah sekarang. Tak seharusnya dia membentak Donghae saat itu.

‘Jong Woon kau pabbo! Pabbo! Kau membuat anakmu celaka’ batin Jong Woon merutuki dirinya. Dia mengacak rambutnya frustasi.

“Oppa!” kata Ryeowook menghampiri suaminya yang terlihat sangat menyesal.

“Ini salahku Wookie, semua salahku! Aku yang membuat Donghae celaka! Aku membentaknya saat dia ingin ke Seoul. Aku yang salah. Aku sangat menyesal Wookie.” kata Jong Woon dan dia menangis di pelukan Ryeowook.

cklekkkk’

Suara knop pintu ruang ICU terbuka dan keluarlah seorang dokter yang didampingi seorang parawat di belakangnya.

“Yīshēng! Wǒ érzi de zhuàngtài rúhé? (dokter!! bagaimana keadaan anakku?)” tanya Jong Woon, panik.

“Duìbùqǐ. Érzi sìhū shīmíng. Yǎn jiǎomó bèi sǔnhuài, dàgài guāle yìwù! (Maaf. Sepertinya anakmu mengalami kebutaan. Kornea matanya rusak, mungkin tergores benda asing!)” jelas dokter.

“Buta?” gumam Jong Woon. Dirinya makin merasa bersalah sangat bersalah.

“Yīshēng, wǒmen kěyǐ wéi wǒmen de háizi dédào juānzhù yǎn? (Dokter, apa kami bisa mendapatkan donor mata untuk anak kami?)” tanya Ryeowook lagi, dia berusaha menahan air matanya.

“Xiāngdāng kùnnán de, Fūrén! Ránhòu wǒ xiān zǒuliǎo. Nǐ yīnggāi kàn dào tā! (Cukup sulit, Nyonya! Kalau begitu saya permisi. Kalian boleh menjenguknya!)” jawab dokter dan segera berlalu dari hadapan Jong Woon dan juga Ryeo Wook.

Tanpa basa-basi Jong Woon segera menerobos (?) pintu ruang ICU. Donghae tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan mata yang di perban.

“Donghae-ah, mianhae! Maafkan hiks Appa. Maafkan Appa Donghae-ah, aku bukan Appa hiks yang baik. Aku yang membuatmu kehilangan pengelihatan.” kata Jong Woon sambil menangis memeluk Donghae. Menumpahkan seluruh rasa bersalahnya sambil memeluk Donghae.

“Sudahlah Oppa! Berhenti menyalahkan dirimu!” kata Ryeowook berusaha menghibur.

“Tidak Wookie! Donghae tidak mungkin memaafkanku, aku Appa yang jahat.” ujar Jong Woon terus terisak.

“Appa! Eomma!” kata Donghae, “kenapa disini gelap Appa, Eomma? Appa kau dimana?” lanjut Donghae mencari sosok Jong Woon dan juga Ryeo Wook.

“Appa disini hiks chagi.” jawab Jong Woon. Memegang tangan Donghae sangat erat, sesekali mengelus rambutnya.

“Appa, apa kau menangis? Appa, mianhae Donghae tidak menuruti katamu tadi. Donghae janji tidak akan seperti itu lagi.” kata Donghae. Jong Woon melepas genggaman tangannya dan keluar dari ruangan itu.

“Appa?!” teriak Donghae.

‘bruggg brugg’

Jong Woon membenturkan kepalanya ke tembok. Dia menangis, menyesal dengan kejadian yang menimpa Donghae.

“Kau pabbo Jong Woon, kau pabbo!” Jong Woon lagi-lagi merutuki dirinya-sendiri.

“Oppa, stop!! Apa yang kau lakukan eoh??” teriak Ryeo Wook dan menarik Jong Woon ke dalam pelukannya.

“Oppa, sudah cukup! Kau jangan seperti ini lagi hiks. Kau mau Donghae makin sedih?” ujar Ryeo Wook ikut menangis.

“Aku janji Wookie, aku akan menyayanginya melebihi kasih sayangku terhadap anak kandung walaupun dia anak angkatku!”

“Ne, oppa!”

***

Hyukjae mondar-mandir di kamarnya. Perasaannya tidak enak. Sesuatu pasti terjadi pada Donghae, pikirnya.

“Hyukkie, kau kenapa?” tanya Sungmin yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.

“Aku sedang memikirkan Donghae Eomma!” jawab Hyukjae.

“Donghae? Siapa dia Eunhyuk?” tanya Sungmin tak mengerti.

“Dia sahabatku dari kecil Eomma.” jelas Hyukjae pendek.

“Dari kecil??” tanya Sungmin seperti tak mengerti.

“Ne, Eomma! Dulu sebelum tinggal di panti asuhan Leeteuk Eomma, aku adalah anak seorang yang cukup kaya dan Donghae adalah anak dari pelayan di rumahku. Tetapi aku tak menganggap mereka sebagai bawahan Appa, aku sudah menganggap mereka keluargaku!” jelas Hyukjae, “lalu saat ulang tahunku yang ke-10 saat tahun 1996, saat itu kami…” Hyukjae menggantungkan kata-katanya.

“Kenapa Eunhyuk?”

“Saat itu Appa-ku dan Eomma-ku dibunuh berikut Appa Donghae.” kata Hyukjae melanjutkan ceritanya. Dia menunduk lesu.

“Oleh sebab itu Eomma, aku sangat membenci ulang tahunku. Hari itu hari yang menyedihkan dalam hidupku.” kata Hyukjae lagi. Sungmin segera merangkul Hyukjae ke dalam pelukannya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Mianhae, Eunhyuk. Eomma tak bermaksud mengungkit masa lalumu.” pinta Sungmin, “tetapi Eomma janji, Eomma akan menyayangimu, seperti Eomma-mu yang dulu. Begitu juga Kyuhyun Appa!” ujar Sungmin, memegang kedua pundak Hyukjae. Menatap anak itu dengan mata foxy-nya yang indah.

“Eunhyuk sayang Eomma!” kata Hyukjae dan memeluk erat Sungmin, Eomma angkatnya.

***

—Oktober 2011—

Sepuluh tahun berlalu, waktu yang begitu cepat bukan? Tak terasa tepat sepuluh tahun Hyukjae di adopsi Kyuhyun dan Sungmin. Kini, Hyukjae sudah tumbuh menjadi seorang namja yang tampan dan gummy smile yang selalu menghiasi bibirnya ketika tersenyum.

Hyukjae bekerja di toko roti milik Appa-nya, Kyuhyun. Dulu toko itu memang sebuah kedai roti yang sederhana, namun berkat kerja keras mereka, kedai itu berubah menjadi sebuah toko.

“Eomma, Eunhyuk antar roti ini buat Leeteuk Eomma dulu yah!” seru Hyukjae dan berlari keluar dari tokonya, membawa sekotak kue dan roti yang cukup untuk seluruh penghuni panti asuhan.

++

“Eomma annyeong!!” seru Hyukjae dari arah pintu.

“Hyukjae!” jawab Leeteuk. Dia nampak tua sekarang. Rambut uban juga sudah memenuhi kepalanya.

“Ne, ini aku bawa roti dan kue untuk kalian.” kata Hyukjae menaruh roti itu di sebuah meja.

“Annyeong Hyung, Noona, Henry!” sapa Hyukjae pada Hankyung, Heechul dan anak pasangan HanChul, Henry yang berada di gendongan Heechul. Sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami-istri.

“Noona, makin hari makin cantik saja.” puji Hyukjae dengan nada sedikit menggoda.

“Hyaa Hyukjae Ahjussi! Belhenti menggoda Eomma-ku!” tegur Henry dengan suara cadel yang nyaring. Anak berumur 5 tahun itu sedang mempoutkan bibirnya.

“Hey siapa bilang dia Eomma-mu, Henry. Heechul Noona itu kekasih-ku. Kau tahu, aku akan segera merebutnya dari Hankyung Hyung.” kata Hyukjae dan sedikit mengejek anak itu.

“Huaa Eomma aku tidak mau mempunyai Appa sepelti dia! Huaaa” tangis Henry yang membuat mereka tertawa.

“Sudahlah Henry, mana mungkin Hyukjae bisa merebut Heechul dari tangan Appa. Kalau dia berani, nanti kita pukul dia.” kata Hankyung semangat dan mengacak rambut Henry.

“Oh ya Eomma, apa ada kabar dari Donghae?” tanya Hyukjae mulai serius.

Leeteuk menunduk lesu. Hyukjae tahu, itu berarti jawaban tidak. Hampir 10 tahun, Hyukjae tak mengetahui kabar Donghae. Terakhir dia tahu Donghae pergi ke China bersama orang tua angkatnya.

***

“Donghae kau mau kue apa?” tanya Ryeo Wook pada anaknya. Mereka berada di toko kue dan kalian tahu mereka ada di toko kue milik Hyukjae.

Sedari tadi Hyukjae hanya menatap yeoja yang menurutnya mirip –err mungkin persis seperti Donghae dari meja kasir. Hyukjae memang tidak bisa mendengar percakapan antara dua yeoja itu karena jarak mereka yang cukup jauh.

Setelah beberapa menit Hyukjae menggelengkan kepalanya bingung, akhirnya kedua yeoja itu menuju meja kasir. Hyukjae makin tak mengerti. Kenapa yeoja yang mirip Donghae itu memakai tongkat sebagai penunjuk jalan? Apakah dia buta? Seingat Hyukjae, Donghae tidaklah buta.

“Maaf, apa aku boleh tahu toilet dimana?” tanya Ryeowook setelah membayar kue yang ia beli.

“Disebelah sana, Nyonya.” jawab Hyukjae sambil menunjuk sebuah ruangan di ujung toko.

“Oh ya, aku minta tolong. Tolong jaga anakku sebentar.” titah Ryeowook dan segera berlalu menuju toilet.

Hyukjae mengangguk. Hyukjae menuntun Donghae ke salah satu meja pelanggan di toko itu.#silahkan bayangkan toko roti di 49Days#

Hyukjae mendudukkan Donghae dengan perlahan. Hyukjae duduk di kursi di seberang Donghae. Menatap Donghae sangat lekat. Hening sesaat.

“Perkenalkan aku Kim Donghae.” ujar Donghae tiba-tiba, mengulurkan tangannya, memang tidak tepat di depan Hyukjae.

Hyukjae terdiam sesaat. Apa yang yeoja ini katakan tadi? Kim Donghae? Berarti benar, dia adalah Lee Donghae-nya Hyukjae. Karena seingat Hyukjae, Donghae di adopsi keluarga bermarga Kim.

‘Tidak, aku tidak boleh mengakui diriku adalah Lee Hyukjae. Tuhan, kenapa saat aku mengharapkannya dia tidak datang. Dan saat dia datang, keadaan tidak memungkinkan. Aku tidak mau dia sedih karena kehilangan aku lagi.‘ batin Hyukjae.

“Aku Cho Eunhyuk. Apa kau berasal dari panti asuhan?” jawab dan tanya Hyukjae, sekedar ingin memastikan itu adalah Lee Donghae.

“Ya, kenapa kau bisa tahu? Apa aku mengenalmu?” tanya Donghae bingung.

“Ah tidak, aku hanya menebak!” jawab Hyukjae, kikuk.

“Eumhh suaramu mirip seperti Lee Hyukjae, sahabatku sewaktu kecil. Dia juga cinta pertamaku.” celetuk Donghae begitu saja membuat Hyukjae makin membulatkan matanya tak percaya. Cinta pertama? Hatinya makin terasa sakit, kenapa ini harus terjadi lagi. Bukannya Hyukjae tak senang, dia sangat bahagia. Tetapi sesuatu yang membuatnya sedikit tidak senang. Lalu apa itu?

***

“Eunhyuk, kau sudah pulang?” tanya Sungmin, heran. Tak biasanya Hyukjae seperti itu. Pulang tanpa permisi dan mengucapkan salam, mengetuk pintu pun tidak. Hyukjae nyelonong (?) masuk begitu saja ke dalam rumahnya.

“Eunhyuk? Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Sungmin lagi, namun tak mendapat jawaban dari Hyukjae. Hyukjae segera berlalu ke dalam kamarnya.

‘brakkk’ Hyukjae membanting pintu kamarnya, kasar.

“Ada apa dengan anak itu?” tanya Kyuhyun yang baru datang dari arah dapur.

“Entahlah Oppa, sepertinya dia sedang marah.” jelas Sungmin, menerka.

++

‘Tuhan, kenapa? Kenapa hidupku begitu menyakitkan?‘ batin Hyukjae. Dia melempar tubuhnya ringan ke atas kasur empuknya. Menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan wajah Donghae.

Hyukjae sibuk dengan pemikirannya akan Donghae. Sesaat kemudian dia menuju kamar mandi.

‘cresssss’

Hyukjae menghidupkan keran shower, dan air pun membasahi tubuhnya yang masih berbalut pakaian. Hyukjae menangis di bawah derasnya air shower (?) dan air mata yang mengalir yang tak terlihat. Hyukjae beberapa kali memukul dinding di depannya, melampiaskan seluruh penyesalan, kemarahan, kebahagiaan atau apapun itu, yang melanda dirinya kali ini.

Hyukjae melihat cairan berwarna merah ikut mengalir.

“Ah sial, kenapa keluar lagi?” gumamnya kesal.

Hyukjae mengadahkan kepalanya, dan sesekali menekan hidungnya yang terus mengeluarkan darah.

‘bughhhh’

Tiba-tiba Hyukjae memukul dinding di depannya dengan kasar.

“Donghae-ah, mianhae hiks, aku tidak bisa bersamamu selamanya. Tetapi aku akan memberi sesuatu yang membuat kau bahagia, pemberian terakhirku. Aku janji itu Donghae-ah. Saranghada, saranghae!” ucap Hyukjae lagi.

***

Semakin hari semakin sering Donghae mengunjungi toko roti milik Hyukjae. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan namja yang memperkenalkan namanya sebagai Cho Eunhyuk, senyaman bersama Hyukjae. Kadang Donghae berpikir dia adalah Hyukjae, tapi entahlah dia tak tahu betul bagaimana wajah Hyukjae yang sekarang.

“Donghae!” panggil Hyukjae.

“Ne, Eunhyuk?” jawab Donghae, menaikkan kedua alisnya.

“Bolehkah aku membawamu ke suatu tempat?” tanya Hyukjae.

“Tentu saja, kemana itu?” tanya Donghae penasaran.

“Jja, ikut aku!” kata Hyukjae dan membantu Donghae berjalan secara perlahan.

Hyukjae terus menuntun Donghae berjalan, hingga tibalah mereka di suatu tebing, memang tak terlalu curam. Namun, pemandangan yang indah yang siap memanjakan mata apabila menatapnya.

“Hyuk, dimana kita? Sejuk sekali udara disini?” tanya Donghae sambil merasakan dia ada dimana.

“Kita ada di tempat yang sangat indah. Kau bisa melihat matahari terbenam dan matahari terbit disini!” jawab Hyukjae.

DEG!!

‘Kita ada di tempat yang sangat indah. Kau bisa melihat matahari terbenam dan matahari terbit disini!’Yah, kata-kata itu pernah Hyukjae katakan ketika mereka masih kecil dulu. Mungkinkah Cho Eunhyuk ini adalah Hyukjae, pikir Donghae.

“Hae?” tegur Hyukjae pada Donghae yang sibuk dengan pikirannya.

“Ah iya.. Hyuk?” jawab Donghae.

“Kau ingin kan lihat dunia yang indah ini lagi? Kau akan segera melihatnya Hae, secepatnya!” ujar Hyukjae.

Hyukjae meletakkan kepalanya di bahu Donghae, menghirup bau tubuh Donghae. Kedua tangannya meraih kedua tangan Donghae dan merentangkannya secara perlahan. Desiran angin yang lembut membuat suasana menjadi sangat romantis. Keduanya memejamkan matanya, seolah menikmati keadaan ini.

‘Hae, secepatnya kau akan bisa melihat tempat yang indah ini, secepatnya Hae! Yaksok.‘ batin Hyukjae.

***

—Maret 2012—

“Eomma!” lirih Hyukjae ketika makan malam di rumahnya bersama kedua orang tuanya. Mungkin sekarang hari yang tepat, tepat untuk mengadu pada kedua orang tuanya.

“Ne, Eunhyuk?” jawab Sungmin.

“Gamsahabnida. Gumawo kalian telah merawatku selama 10 tahun. Kalian tahu, aku sangat bahagia mempunyai Appa dan juga Eomma sebaik kalian.” ucap Hyukjae.

“Ne, tapi apa maksudmu Eunhyuk?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Kyuhyun menatap Sungmin, yang sepertinya tidak mengerti juga.

“Umurku tinggal beberapa hari Appa.” jawab Hyukjae yang membuat Kyuhyun dan Sungmin kaget.

“Eunhyuk-ah, apa maksudmu? Jangan buat Appa dan Eomma bingung.” tanya Kyuhyun yang diikuti anggukan Sungmin.

“Ini.” kata Hyukjae pendek, dia memberikan sebuah amplop putih pada Sungmin.

Sungmin membuka amplop itu dengan penasaran. Sungmin nampak tersentak membaca isi amplop itu. Sungmin membekap mulutnya seakan tak percaya. Kyuhyun segera meraih amplop itu dari tangan Sungmin.

“Eunhyuk, sejak kapan ini terjadi eoh? Kenapa kau tidak pernah ceritakan pada Appa dan juga Eomma?” tanya Kyuhyun dengan nada tinggi. Hyukjae hanya menunduk dan Sungmin tak bisa berkata apapun, sekarang dia menangis, tangisan pilu.

“Mianhae Appa.” lirih Hyukjae.

“Eunhyuk hiks kenapa kau tidak bilang pada kami? Kenapa hiks kau tak bilang kau punya penyakit leukemia? Wae? Sejak kapan kau menderita kanker itu eoh?” Sungmin menangis dan memeluk Hyukjae erat, seakan tak mau kehilangan anak satu-satunya itu.

“Mianhae Eomma! Aku menderitanya sejak 5 tahun lalu.” pinta Hyukjae dan berlutut di kaki Sungmin, “mianhae Appa hiks, mianhae Eomma, aku tak kuat bilang ini pada Appa dan Eomma. Aku takut kalian sedih, aku tidak mau kalian sedih karena aku. Sudah cukup aku menyusahkan kalian selama ini.” ujar Hyukjae.

“Apa maksudmu Eunhyuk? Kami tak merasa terbebani karena kehadiranmu di keluarga kami. Kami senang! Apa kami pernah mengeluh padamu? Selama ini kita memang susah, tapi karena kehadiranmu kami tak merasakan susah sedikitpun. Kami lakukan itu demi kau Eunhyuk, demi anakku.” kata Kyuhyun, matanya ikut berkaca-kaca.

“Eomma, Appa. Umurku tinggal beberapa hari lagi. Kankerku sudah mencapai stadium akhir. Tapi ada yang ingin aku perbuat pada Donghae.” kata Hyukjae, “malaikat kecilku itu sekarang buta, aku akan mendonorkan mataku untuknya. Aku ingin berbuat sesuatu yang terbaik dalam hidupnya.” jelas Hyukjae, yang membuat Sungmin makin menangis. Tangis pilu dan juga tangis haru.

***

“Donghae-ah? Eomma ada kabar gembira untukmu!” teriak Ryeowook dan begitu saja masuk ke kamar anaknya.

“Jeongmal?” tanya Donghae tak percaya.

“Ne, nanti tanggal 4 April kau siap untuk di operasi.” kata Jong Woon ikut senang.

“4 April?” gumam Donghae.

“Ne. Waeyo? Ada apa dengan tanggal itu Donghae?” tanya Ryeowook bingung.

“Ah anni, aku hanya teringat seseorang bila ingat tanggal itu.” jawab Donghae datar.

Ryeowook tidak menggubris jawaban Donghae terakhir atau hanya sekedar menanyakan siapa orang itu. Dia hanya terlalu senang dan memeluk Donghae erat.

***

—04 April 2012—

Pagi ini saatnya Donghae di operasi mata. Dia sangat gembira, itu berarti dia akan tahu siapa dan bagaimana Cho Eunhyuk sebenarnya. Apakah dia Hyukjae atau bukan. Tetapi, disisi lain dia masih bingung, siapa yang rela mendonorkan matanya untuknya?

Tim dokter operasi sudah siap dan Donghae pun juga sudah siap. Sekarang Donghae sudah dimasukkan ke dalam ruang operasi.

1 jam

2 jam

3 jam

4 jam

Waktu berlalu penuh dengan ketegangan di antara Ryeowook dan Jong Woon.

“Annyeong Nyonya, Tuan.” sapa Kyuhyun pada Ryeowook.

“Annyeong.” jawab Ryeowook dan Jong Woon bersamaan.

“Bagaimana keadaan Donghae?” tanya Sungmin, cemas.

“Masih dalam penanganan!” jawab Jong Woon pendek.

‘ccklekkk’

Knop pintu ruang operasi terbuka, tandanya operasi sudah selesai. Tim dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu.

“Bagaimana Dok?” tanya Jong Woon menghampiri dokter.

“Selamat, Tuan Kim Jong Woon. Operasi berhasil dan anak anda akan bisa melihat lagi.” kata Dokter.

Senyuman merekah tampak dari bibir Jong Woon dan Ryeo Wook. Akhirnya anak yang mereka cintai bisa melihat lagi. Tetapi tidak dengan Sungmin dan Kyuhyun. Sungmin menangis dalam pelukan Kyuhyun.

“Oppa.” lirih Sungmin.

“Sabar chagi. Ini takdir Hyukjae.” jawab Kyuhyun.

++Sore Hari++

Sore ini Donghae sudah dipindahkan ke ruang rawat. Ini juga waktunya perban yang menutupi matanya pasca operasi.

“Eomma, Appa!” ujar Donghae yang terduduk di ranjangnya, menggenggam tangan Ryeowook erat.

“Tenang Donghae. Aku akan segera membuka perban di matamu, dan kau akan bisa melihat dunia ini lagi.” kata seorang Dokter, sebut saja Dokter Shin.

Donghae mengangguk mantap. Tangan Dr. Shin mulai membuka pengait perban dan membukanya perlahan.

“Sekarang buka matamu perlahan!” suruh Dr. Shin pada Donghae.

Donghae membuka matanya perlahan. Tampaklah 5 orang paruh baya di hadapannya. Jong Woon, Ryeowook, Kyuhyun, Sungmin, dan Dr. Shin.

“Eomma, Appa” kata Donghae dan memeluk Jong Woon dan juga Ryeowook.

“Kalian siapa? Apakah kalian Kyuhyun Ahjussi dan Sungmin Ahjumma.” tanya Donghae pada pasangan suami-istri itu.

“Ne.” jawab Kyuhyun tersenyum simpul dan Sungmin hanya memasang wajah datar.

“Ahjussi, Eunhyuk kemana?” tanya Donghae pada Kyuhyun. Kyuhyun menunduk sedangkan Sungmin, tangisnya mulai pecah. Entah kenapa, setiap mendengar nama itu, dia tak mampu menahan kuasa tangisnya.

“Ahjumma, Appa, Eomma, Eunhyuk kemana?” tanya Donghae sekali lagi, menatap mereka secara bergiliran, namun tak ada yang menjawab.

Tiba-tiba Sungmin mendekat ke arah Donghae.

“Temuilah dia di tempat dimana kalian bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam.” ujar Sungmin pada Donghae. Tersenyum miris ke arah Donghae karena menahan tangisnya.

DEGG!!!

Tanpa ba-bi-bu, Donghae segera berlari keluar. Dia tahu tempat yang dimaksud Sungmin, tebing itu. Walaupun keadaanya belum baik betul, dia terus berlari menuju tempat yang di maksudkan Sungmin.

‘hosh, hosh, hosh’ deru napas Donghae terdengar tidak teratur. Matanya menuju pada seorang namja yang duduk di kursi roda dan menghadap ke arah matahari yang akan terbenam.

“Eunhyuk!!” teriak Donghae memanggil nama namja itu. Yang empunya namapun membalikkan kursi rodanya ke arah suara yang di dengarnya.

“Donghae kaukah itu?” tanya Hyukjae.

“Eunhyuk kau? Eunhyuk apakah kau Lee Hyukjae?” tanya Donghae, yang sedikit keget melihat wajah Hyukjae.

Hyukjae hanya tersenyum simpul. Dia memang tak melihat bagaimana cantik dan manis rupanya Donghae sekarang. Dia memang ingin namun itu tidak mungkin. Matanya sudah dia donorkan ke Donghae.

“Jadi itu benar? Hyuk apa kau melihatku?” tanya Donghae bingung.

“Tidak Hae, aku tidak melihat manisnya dirimu sekarang setelah bisa melihat lagi.”

“Apa maksudmu Hyukjae? Apa kau mendonorkan matamu untukku? Lalu kenapa kau tidak bilang kau adalah Hyukjae? Kenapa kau memperkenalkan namamu Cho Eunhyuk?” tanya Donghae bertubi-tubi.

“Iya Hae, kau senang kan? Aku dulu sudah janji kau akan dapat melihat secepatnya, dan sekarang aku menepatinya Hae” jawab Hyukjae, “Hae, aku tidak mau kau sedih. Waktuku sudah tak lama lagi Hae.”

“Tak lama? Apa maksudmu Hyukjae?”

“Aku terserang kanker darah Hae.” jawab Hyukjae menunduk.

“Mwo? Kanker darah?” tanya Donghae tak percaya, “Hyukjae kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa Hyuk?”

“Aku tidak mau membuatmu sedih Hae, tapi akhirnya aku membuatmu sedih juga. Ah iya Hae, kau ingat ini hari apa?”

“Hari ulang tahun-mu Hyuk! Bukankah kau membencinya?”

“Tidak lagi Hae. Dulu aku memang membencinya karena hari itu, Appa dan Eomma-ku tewas di bunuh dan merebut kebahagianmu juga karena kehilangan Appa-mu. Tapi sekarang, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Di hari ulang tahun-ku, aku bisa memberikan kebahagian bagi yeoja yang aku cintai.”

“Hyukjae, aku tidak mau kehilangamu, aku mencintaimu!”

Donghae memeluk Hyukjae ke dalam pelukannya, seakana tidak mau kehilangan Hyukjae. Donghae memegang kedua pipi Hyukjae. Menatap mata Hyukjae yang tidak mungkin menatap matanya.

chuuuu~~

Donghae mengecup Hyukjae pelan. Ciuman pertama Donghae dan mungkin juga ciuman pertama Hyukjae. Beberapa menit mereka berciuman, Donghae kembali memeluk Hyukjae. Menyalurkan seluruh rasa rindunya 15 tahun terakhir ini. Hembusan napas Hyukjae menerpa tengkuk Donghae.

‘Hae, saranghada! Aku mencintaimu Hae, lebih dari mencintaiku diriku-sendiri. Aku bahagia, di umurku ke 26 ini, aku bisa memberikanmu bagian dari tubuhku. Aku berharap Hae, di kehidupan kelak kita bisa saling mencintai. Hae!! Temuilah Hyukjae-Hyukjae lain di luar sana, yang akan menyayangi dan mencintaimu sepertiku.’ batin Hyukjae.

Hyukjae memejamkan matanya. Tenang dan damai dalam pelukan Donghae. Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Jiwanya telah melayang entah kemana. Donghae tak merasakan hembusan napas Hyukjae. Donghae melepaskan pelukannya dan menatap Hyukjae. Wajahnya pucat dan tangannya mulai terasa dingin.

“Hyuk, Hyukjae ireona. Hyukjae jangan tinggalkan aku.” kata Donghae berharap Hyukjae menghembuskan napasnya lagi.

“HYUKJAE!!!!!!!”

THE END

selesai. Gimana reader berhasil membuat kalian menangis ga? mianhae ff tidak ada sekuel. Ingat diCOMENT dan LIKE yah!!!!

[rabu, 07 maret 2012]

republised by aeund_sujusuperfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s