H For Happy Or H For Hate

H FOR HAPPY OR H FOR HATE

Cast:
Lee Donghae
Lee Hyuk Jae
Lee Sungmin
Kim Hyuri
Other Cast
Genre : sad romace, brother ship
Length : one shoot
Author : Resita Putri Ayu Ning Tyas
Facebook:http://www.facebook.com/rerhe.yeppa?ref=tn_tnmn
Twitter : https://twitter.com/#!/RerhePutri1706
Warning : typo (s) dll akan bertebaran siap siap bantal kalau misalnya ngantuk baca ini ff

Happy reading^^
——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Donghae pov
Ku pandang langit yang gelap berubah menjadi sedikit terang karena matahari telah nampak sedikit demi sedikit dari tidur panjangnya. Ku teguk soft drink dengan perlahan kumasukan tanganku kedalam saku celanaku kututup mata perlahan kubiarkan sang surya menyinari mukaku dengan sedikit kehangatan yang ia berikan. Di bukit inilah kutemukan ketenangan batin ketenangan yang tak pernah kudapatkan di keluargaku, kedamaian yang selalu di berikan alam untuk menenangkan hati kecilku. Kubuka mataku perlahan dan melirik jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 7 pagi kuambil jaket yang tergeletak dan ku pakai ku berjalan menuju motor sport yang terparkir di dekatku. Baru sedetik kunyalakan motor ada sebuah mobil hitam berhenti tepat dihadapanku. Seorang namja yang tak lain adalah hyungku keluar lengkap menggenakan tuxedo hitam yang berstyle mirip orang berada tak sepertiku yang mirip seorang brandal jalanan. Dia berjalan menghampiriku. Aku tak turun dari motorku dan tetap di atas motor, dia menghampiriku dan menyeretku untuk turun dari motor. Aku lepas tangannya yang memegang pakaianku.
Brukkk aku jatuh tersungkur ketanah dengan memegang perutku bekas pukulan mentah seorang ‘kakak’. Dia menghampiriku,ku coba berdiri dengan sedikit menahan sakit.
“pulanglah appa mencarimu!” katanya dalam dingin yang menjurus ketidak sukaan terhadapku. Dia menjulurkan tangannya tapi aku tangkis dengan kasar.
“cih!tak sudi aku pulang, aku bukan keluarga anda Tuan lee hyuk jae!” jawabku sambil menaiki motor. Tanganku ditangkis saat aku berusaha menancapkan kunci.
“apa apa an kau he?kau sudah punya segalanya apa perlu ku ulangi?he?tuan lee hyuk jae?” kini aku mulai emosi karena kelakuannya yang selalu mengusik kehidupanku dia selalu hadir dan membuatku emosi bukit ini adalah saksi bisu semua kejadianku dengan hyungku yang tepatnya adalah orang yang paling aku benci.
“he?lucu sekali perkataanmu donghae! Kau juga anak eomma dan appa” jawabnya sambil tersenyum sinis senyuman yang begitu menyebalkan dimataku apa maksudnya?yang jelas aku benci mereka.
“cih!apa yang kau katakan hyung?he lucu sekali katamu!apa aku anak kecil yang berumur 2 tahun 3 tahun yang mudah kau tipu dengan perkataan yang akan membuatku mengatakan aku akan kembali?tidak hyung aku sudah dewasa bukan anak ingusan yang bisa kau tipu dan kau buang sewaktu-waktu” jawabku kethus padanya. Emosiku memucak kuputuskan untuk pergi saja.
Sebenarnya aku merindukan appa tapi aku membencinya. Dia membedakan aku dan hyuk jae aku seperti anak tiri semenjak kematian eomma 1 tahun lalu, sedangkan hyuk jae selalu dinomor satukan dan selalu dituruti apa yang ia mau.
Motor ku berhentikan tepat dirumah sederhana namun nyaman menurutku karena disinilah aku tinggal bersama sahabat sahabat ku yang sudah ku anggap keluarga bagiku. Aku berjalan dengan terus memegangi perutku kukethuk pintu perlahan.
“donghae?kau baru pulang?gwaenchanna?ku lihat kau memegangi perutmu terus,kau lapar?”tanya sungmin sahabat baikku yang selalu ada di sampingku yang menghiburku bahkan dia lebih tepat aku sebut hyungku dia lebih dekat bahkan sangat dekat melebihi aku dan keluarga kandungku sendiri. Aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkannya aku masuk ke kamarku. Dia selalu menerimaku apapun sifatku, walaupun aku yang terkesan dingin, cuek padanya. Kurebahkan badanku diatas kasur, kupejamkan mataku yang sudah kantuk ini perlahan aku pun tertidur

#DonghaeDreams
Kulihat hamparan padang rumput yang luas tak ada seorang pun disini kecuali aku. Aku mencari keselilingku dan kutemukan sosok wanita paruh baya menggunakan pakaian putih dengan rambut yang ikat rapi. Dia,dia mirip sekali eomma dia tersenyum manis ke arahku aku tersenyum kembali kearahnya. Dia berjalan menghampiriku dia tersenyum lagi ke arahku.
“pulanglah walaupun Cuma 5 menit pulanglah hae!” bisiknya suaranya mirip dengan eomma. Kini dia tersenyum dan perlahan meninggalkanku. Senyuman yang mengingatkan ku akan kehangatan keluarga yang selalu kurindukan, kehangatan yang membuatku nyaman.
“eomma…eomma…eomma…eomma” panggilku tapi bayangannya hilang seakan terhapus oleh semilir angin di musim semi.

#Donghae dreams End

“eomma…” aku berteriak dan bangun dari tidurku dengan peluh yang menetes di seluruh badanku. Aku duduk di pinggir kasur dan mengelap peluh yang menetes di badanku. Kudengar sungmin mengetuk pintu.
“hae!!gwaenchannayo?kenapa kau berteriak?” Tanya sungmin dari luar.
“ne, masuklah!!” jawabku dari dalam.
Sungmin mendekatiku dan duduk didekatku. Aku hanya diam, diam akan fikiranku yang memusat pada mimpiku mimpi aneh yang sudah kumimpikan berkali-kali seperti isyarat bahwa aku harus pulang. Tapi aku belum siap, belum siap untuk dibuang dan belum siap mental untuk menghadapi laki-laki tua dan anak emasnya itu.
“kau bermimpi? Mimpi yang sama?” Tanya sungmin yang spontan membuyarkan fikiranku.
“ne” jawabku singkat. Dia mengangguk-ngangguk mengisyaratkan dia paham.
“pulanglah!ani… ani maksudku eommamu membawa pesan bahwa mereka maksudku hyung dan appamu ingin kau pulang, mianhae hae bukan maksudku mengusirmu dari rumahku tapi lihatlah kau selalu bermimpi-mimpi yang sama!mianhae hyung” jelas sungmin padaku.
“ne, tapi aku aku belum siap kalau…” aku tak melanjutkan perkataanku dan menarik nafas panjang.
“aku coba akan pulang tapi siapkan barang untuk aku pecahkan!” aku berdiri meraih jaket dan kunci motorku. Sungmin mencegah tanganku, kubalikkan badanku.
“kau yakin?” tanyanya meyakinkan. Aku hanya mengangguk dan pergi.

Author pov

Seorang namja tengah di kursi santai sembari menatap keluar jendela sesekali ia serupur cappuccino yang ada di tangannya. Ia menatap dingin keluar merasakan kehangatan musim semi yang indah menatap orang-orang tengah bersama keluarga mereka, anak-anak kecil yang bermain berlarian sangat bahagia. Tetapi sayangnya musim semi tak seperti yang ia inginkan tak seperti yang ia bayangkan dan tak seperti apa yang ia lihat di luar. Ia tersenyum miris miris akan kehidupannya akan hancurnya kehidupannya.
Donghae berhenti tepat di depan rumah besar tepatnya rumahnya sendiri. Ia melangkah dengan sedikit ragu-ragu akan apa yang terjadi nanti ia lihat 2 buah mobil hitam mewah terparkir rapi, menandakan bahwa appa dan hyungnya ada di rumah. Di pencetnya bel rumah besar nan mewah itu. Satu dua kali ia pencet akhirnya seorang pelayan membukaannya pintu, betapa kagetnya pelayan itu melihat yang berdiri sekarang adalah donghae tuan mudanya. Donghae hanya tersenyum kepada pelayan itu.
“dimana mereka?” Tanya hae pada pelayan sebut saja pelayan kang.
“tuan lee sedang ada di ruang kerja dan tuan muda sedang ada di kamarnya” jawab pelayan kang. Donghae melangkah meninggalkan pelayan kang menuju kamar hyuk yang ada di kamar 2 ia berjalan pelan pelan akan isyarat ‘hati-hati’ di rumah ini salah melangkah akan memicu keributan.
Hyuk jae hanya menatap luar jendela ia tak sadar akan kehadiran hae yang berada di luar pintu kamarnya tangannya berat untuk mengetuk pintu kamar hyuk jae.
“tok…tok…tok” suara kethukkan pintu sukses membuyarkan lamunan hyuk.
“nugu?” Tanya hyuk dari dalam kamarnya.

Donghae pov
“nugu?” tanyanya dari dalam kamar.
“aku…” jawabanku mengambang di udara.
“masuklah!” suruhnya dari dalam.
Aku buka pintu perlahan, perlahan tapi pasti aku membuka knop pintu. Melangkahkan kakiku masuk. Apa yang kulihat dia hanya duduk duduk dalam seribu khayalan entah apa yang ia fikirkan aku tak tau dan tak mau tau. Ia berdiri dan membalik badannya menghadapku. Senyuman sinis,dingin keluar saat metanya menghadapku.
“apa aku sedang bermimpi? Lucu sekali mimpiku bisa membuatmu pulang!! Aku ingin segera bangun dan menatap fotomu kemudian berkata “Lee Donghae aku merindukanmu pulanglah” he! Pabo”
“jika aku datang hanya untuk mendengarkan kau mengucapkan ini hanya membuang waktuku yang berharga. Ingat tuan Lee Hyuk Jae perlu anda garis bawahi bahwa aku tak sudi datang setelah mendengar pernyataanmu tadi walaupun kau mati sekalipun!” jawabku kethus, emosi di kepalaku sungguh sudah tak terkendali lagi.
“jinjayo? Aku juga tak berharap banyak kau akan menangis di pemakamanku. Adik sepertimu apa tau makna hidup yang sebenarnya? Jika kau tau pun kau hanya tau bermabuk-mabukan dan tak menghargai keluarga sendiri!”
“keluarga? Aku lebih suka memanggilnya dengan kata orang lain adakah keluarga yang tega membuang anaknya? Tidak adilkah? Kau yang tak tau apa arti hidup karena kau sejak lahir telah menjadi bak seorang pangeran yang selalu di puji. Adilkah itu bagiku? Bagimu sungguh adil karena aku memang tak pantas disini!” jawabku. Kulangkahkan keluar dari neraka mengerikkan ini. Langkahku terhenti tepat saat ia menahan tanganku dan seorang laki-laki paruh baya sebut saja appaku. Ku tarik tanganku dan pergi.
“donghae!” panggil appa.
“mwo?” jawabku sambil memandangnya sinis.
“duduklah ada yang mau appa bicarakan!” suruhnya sembari duduk di sofa dekatku.
“bicaralah aku tak punya banyak waktu untukmu” jawabku kethus. Aku pun duduk di ikuti hyung yang tak pernah tersenyum dihadapanku. Aku duduk di depan appa dan anak emasnya itu.
“mwo?cepat bicara jangan membuatku menunggumu disini!masih banyak urusan yang harus kuselesaikan” jawabku yang mulai bosan akan keheningan di antara kami.
“sedikitlah sopan terhadap orang yang lebih tua darimu!”
“apa pedulimu he?jika hanya untuk berbicara seperti ini aku akan pulang percuma saja disini!”
“sudahlah!” appa mencoba menengahi adu mulut antara kami.
“donghae appa tak akan melarangmu lagi menjadi seorang photographer tapi…” kata-kata appa mengambang di udara seakan ada yang membuatnya menggantungkan kata-katanya itu.
“mwo?” tanyaku padanya.
“kau harus mau appa jodohkan dan kembali lagi kerumah” apa-apaan ini he? Perjodohan aku bisa mengurus diriku sendiri mencari jodohpun aku juga masih bisa sendiri tak perlu ada kata perjodohan. Tanpa restu darinya aku akan tetap menjadi photographer, tak berpengaruh tawaranmu padaku.
“andwae aku tak mau kenapa tidak anak emasmu saja?” jawabku enteng tapi sarat akan penolakan. Mereka hanya diam.
“wae?yakin kau tak akan menyesal?” Tanya appa padaku. Dasar orang tua tau gak sih aku bilang tidak mau ya tidak mau.
“ne! tanpa restumu aku pun masih sanggup menjadi photographer dan aku tak perlu semua hartamu! Bahkan aku bersedia jika kau usir, melihatku di jalan saja kalian tidak ada yang mau menyapaku atau sekedar melempar senyum padaku apakah itu yang namanya keluarga? Ingatlah aku juga tak peduli apa yang akan kalian lakukan atau kalian jalani sehari-hari. Bukankah aku hanya orang lain? Yang hanya menumpang hidup di rumah kalian?” akhirnya unek-unek yang aku pendam keluar semua. Mereka hanya diam, biasanya si hyung frontal dan memukulku ataupun menjawab pertanyaanku dengan nada sinis.
“jika perjodohan itu permintaan eomma, kau akan menolaknya? Aku juga sudah menduga kau akan menolaknya jika appa memberitahumu. aku memang selalu bersikap dingin bahkan tak pernah perduli apapun yang terjadi padamu, jika aku jadi kau akan kutrima perjodohan ini!!” kuresapi jawabannya.
“jangan membawa eomma dalam masalah ini!” jawabku kethus padanya jujur aku tidak suka dia bohong padaku dan membawa bawa eomma.
“apa untungnya aku berbohong donghae kau itu pabo!!”
Aku diam sejenak diam akan semua fikiran yang mengarah perkataan hyung tadi, diam akan seribu pertanyaan dunia ini benar-benar membuatku pusing.
“akan ku pikirkan!kapan aku bertemu dengan yeoja yang akan dijodohkan denganku?”
“nanti malam!persiapkan dirimu!”
“mwo?secepat itukah?kenapa tak sekalian membunuhku?” kataku dalam hati. Aku hanya mengangguk pelan dan pergi.
“kau mau kemana?” Tanya appa padaku.
“apa lagi? Aku mau pulang kau fikir aku akan merampok bank?” jawabku agak meninggi kepada mereka.
“rumahmu kan disini jadi tidurlah untuk semalam disini!”
“mwo? Apa aku akan diperlakukan sama jika tinggal di sini?” tanyaku sedikit menyidir mereka.
“ne!” jawab appa singkat, aku pun membalikan badan dan masuk kedalam kamar yang sudah lama tak aku lihat maupun aku tempati untuk tidur langkahku tertuju pada sebuah kamera canon yang berada di meja kecil dekat jendela. Kuambil kamera yang lama tak aku buat untuk berfoto-foto.kamera pemberian eomma yang selalu menjadi penghiburku,selalu ada disaat sku bosan. Kini kamera itu hanya ditaruh di atas meja tak ada yang berani menyentuhnya. Aku ambil kamera itu dan duduk di pinggir tempat tidur. Kulihat slide slide foto yang membuatku mengenang masa lalu di saat aku berulang tahun ke 17 tahun eomma memberikanku kamera ini, kulihat dimana kita berlibur di pulau jeju kunjungan rutin kami satu sampai 2 bulan sekali. Dan terakhir kali aku kesana dengan keluarga yang dikatakan masih utuh.
“eomma apa kau tenang disana? Apa kau melihat aku? Melihat foto kita yang terakhir sebelum ajal menjemputmu? Aku rindu pelukanmu kehangatanmu, semua eomma. Aku ingin seperti dulu menikmati musim semi bersama menghabiskan waktu dengan bercanda, aku rindu itu semua. Keluarga yang masih utuh. Eomma apa aku menyedihkan? Yah aku berantakan eomma tanpamu, aku butuh kehangatan keluarga aku butuh itu semua darimu, appa, dan juga hyuk jae. Eomma aku mempunyai kakak baru namanya Lee Sungmin dia selalu menghiburku, aku tinggal dengannya. Dia bekerja di gallery tepat tak jauh dari rumah dimana kami tinggal dia sangat baik padaku, dia selalu menerimaku walaupun aku selalu acuh padanya. Eomma jika eomma mendengarku, aku mohon eomma datang kemimpiku dan memberikan ku ketenangan” tak terasa air mataku jatuh perlahan tanpa seizinku, membasahi pipiku kuseka air mataku dan menarik nafas panjang. Aku tersenyum simpul saat menyadari aku seperti anak kecil yang selalu berharap yang tidak mungkin terjadi. Kurebahkan tubuhku dikasur kuletakan kamera itu di dekatku perlahan mataku menutup dan aku tertidur.

Lee Hyuk Jae pov
Aku berjalan menuju kamar donghae untuk menyerahkan tuxedo yang akan ia pakai nanti, tapi langkahku terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka kulihat sedikit kedalam dia sedang memegang kamera dia dia juga menangis. Mianhae donghae aku bukan hyung yang baik untukmu jangan menangisi keluarga yang terlanjur pecah ini aku aku membencimu tapi rasa benciku tak sebesar rasa sayangku padamu hae, tapi kenapa kau menganggap tidak ada seorang pun yang sayang padamu?wae? apa kau tau isi hatiku aku bagaikan sampah hae yang gak berguna dan tak bisa membimbingmu. Kurasakan perlahan air mataku keluar melihat adik semata wayangku menangis dan merasa menderita memang semua berawal dari salahku. Kuseka air mataku dan menarik nafas panjang kulihat dia mulai tidur aku masuk perlahan dan kugantung tuxedo-nya di gantungan baju dikamarnya. Saat aku ingin keluar langkahku terhenti karena rasa penasaran ku lebih tinggi aku membalik badan dan mengambil kamera di samping donghae. Aku duduk di kursi santai dekat jendela ternyata dia melihat foto-foto keluarga. Donghae apa kau rindu keluargamu yang dulu?apa kau selama pergi dari rumah menderita dan tak sebahagia kami? Apa hukuman yang pantas untuk hyung yang tak bisa membuat keluargaku bahagia bahkan adikku sendiri!! Aku meletakkan kembali ke meja kecil dan berjalan menuju donghae. Aku menatap wajahnya yang penuh damai kakinya yang masih menggantung aku benarkan, kutarik selimut dan menyelimutinya. Aku tau dia kini sedang butuh kasih sayang. Mianhae aku telah terlalu jahat padamu slama ini aku tak baik untukmu. Aku berjalan keluar kamar menuju kamarku.

Donghae Pov
Perlahan aku membuka mata. Melihat sore yang begitu suram, kenapa aku berkata seperti itu sore ini aku harus bertemu calon istriku nantinya. Ommo aku lupa belum menelfon sungmin hyung atas semua yang terjadi kepadaku sedari tadi. Aku menyari handphone ku, ah!! Ketemu tapi Low battery Shit. Aku keluar kamar dan memutuskan keluar kamar dan pergi ke rumah sungmin hyung dan mengajaknya makan bersama juga. Dia sudah seperti keluargaku sendiri selama aku pergi dia selalu merawatku dan menjagaku selalu yah selalu dan kini giliranku untuk membalas semua kebaikanmu hyung aku janji akan terus bahagia.
Aku menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah tak sengaja aku mendengar percakapan appa dan donghae mereka sedang berdebat ternyata. Kucoba berhenti dan mendengarkannya dengan seksama.
“sudahlah appa, kumohon batalkan rencana appa, jangan fikirkan bisnis saja appa juga punya donghae cukup appa menyiksanya apa lagi dengan perjodohan ini cukup” bentak eunhyuk kepada appa
“hyuk jae sejak kapan kau melawan appa? He?” bentak appa tak kalah keras
“yeoja yang appa jodohkan adalah yeojachingu hyuk jae”
“yeojachingu? Ha kau begitu bodoh hyuk jae kau itu tampan punya banyak uang kau bisa pilih yeojachingu mana pun?”
“appa tak bisa merubah fikiranku aku tetap menentang semua ini bukan karena donghae tapi karena yeoja chinguku kami sudah hampir 5 tahun berpacaran”
Aku tak sanggup mendengar perdebatan ini lagi, aku memutuskan pergi. Sekarang yang menjadi pertanyaanku kenapa dia menentang appa? Karena yeojachingunya bukan karena aku, lalu mengapa dia diam saja dihadapanku, tidak mendukungku saat aku terdesak harus dijodohkan seperti ini toh tanpa perjodohan ini aku juga sudah sukses. Aku mengurungkan niat ku dan kembali ke kamar. Aku masuk kedalam kamar dan mengkuncinya dari dalam aku tak mau orang lain melihatku.

Tok tok tok
Belum sampai aku mendapat ide sudah ada yang mengetuk pintu kamarku.
“nuguya? Aku sedang sibuk” tanyaku dan berbohong
“hyuk jae, ya sudah kalau kau sibuk aku pergi saja”
“ani ani, ada apa? Bicara dari luar saja”
“kau ditunggu appa dibawah acara di ajukan”
“aku akan bawa motor saja!!”
“oh terserahlah, kau ikuti kami dari belakang saja”
“ne aku akan keluar 5 menit lagi”
Aku memakai tuxedo berwarna hitam dengan setelan jas putih membuatku sedikit naik derajat di mata orang. Aku mengambil kunci motor yang tergeletak di laci. Kulangkahkan kaki keluar kamar dan menuju lantai bawah ternyata appa dan hyuk jae sudah menungguku. Aku segera menuju halaman dan menyalakan motor diikuti mereka yang masuk mobil dan melaju.

Author pov
Hyuk jae menyetir dengan hati yang kacau perasaan tidak enak timbul dari hatinya bukan karena perjodohan ini namun mengenai donghae. Wajahnya tidak bisa berbohong akan perasaan cemasnya namun ia tepis perasaannya jauh jauh.

###
Sebuah mobil mewah hitam dan sepeda motor putih diparkir berjajar di halaman rumah yang cukup besar. Donghae turun dari motornya ia datang 5 menit sedikit terlambat dari appanya, ia masuk acaranya belum dimulai ia duduk disamping hyuk jae didepan yeojachingu hyuk jae /calon istri donghae. Makan makan dimulai donghae yang begitu dingin tidak mau melirik sedikitpun yeoja itu. Hingga waktu perkenalan.
“tuan lee kurasa aku perlu tau nama anak anda” gurau ahjumma kim
“oh donghae perkenalkan dirimu”
“lee donghae imnida”
Wajah yeoja yang duduk di depannya terbelalak tak percaya, entah apa yang sebenarnya terjadi.
“lee lee dong hae? Kau lee donghae yang pernah bersekolah di jepang?” tanya yeoja yang bernama kim hyuri itu.
“ne, siapa kau?”
“aku kim kim hyuri” jawab yeoja itu sedikit terbata bata.
“hyuri?” donghae berteriak tak percaya.
“ne ak ak aku hyuri”
“jadi namja yang berselingkuh denganmu adalah….”
“LEE HYUK JAE? Benar diakan yang menciummu? Jawab aku” teriak donghae yang membuat semua orang dimeja makan terbelalak tak percaya.
“nnnn eee” jawab hyuri dengan sedikit menangis.
“sudah kuduga” donghae pun pergi dari meja makan dan memutuskan kerumah sungmin hyung.
“donghae donghae….” teriak hyuk jae dengan sedikit berlari mengejar donghae.
Donghae memacu motornya dengan sangat kencang dan begitu kencang. Hyuk jae berusaha mengejarnya dengan mengendarai mobil. Donghae begitu kencang hingga tiba di tinkungan ia tak melihat jika ada mobil mengerem mendadak, ia membanting setir ke kanan namun ia malah menabrak sebatang pohon, tubuhnya terpental beberapa meter. Kemeja yang semula putih bersih menjadi merah darah, ia tak sadarkan diri hingga ia dilarikan kerumah sakit oleh hyuk jae yang membututinya tadi.

###
Sudah beberapa jam donghae tak sadarkan diri, sampai semua berkumpul di rumah sakit tanpa terkecuali sungmin. Donghae tetap belum sadar hingga hyuri memutuskan untuk masuk ugd melihat keadaan namjachingunya sewaktu SMA dulu yang begitu ia cintai namun sayang donghae begitu membenci hyuri saat hyuri kepergok sedang berciuman di bawah pohon.
Hyuri menggenggam tangan donghae dan duduk disampingnya, air mata perlahan menetes menyesali semuanya. Perlahan tangan donghae bergerak dan matanya perlahan terbuka.
“donghae kau sadar?”
Donghae hanya mengangguk semuanya masuk ke dalam ugd mendengar donghae sudah sadar.
“aku tak mau jadi penghalang cinta kalian aku tidak mau tersiksa di surga nanti, aku akan bahagia bersama eomma jangan kawathirkan aku aku tak mau orang orang disampingku menangis untukukku”
“sungmin hyung, kau bersediakan untuk menjadi penggantiku? Kau mau kan menjadi keluarga besar lee? Menggantikan posisiku?”
“donghae”
“kau maukan? Kau berjanji padaku akan bahagia”
“ne” jawab sungmin lirih menahan tangis
Donghae meraih tangan hyuri dan hyuk jae tangan mereka di satukan.
“bahagialah bahagialah untukku hyung, aku tak mau kalian berpisah karena aku”
“pasti hae”
Genggaman hae mulai melonggar matanya mulai menutup hanya senyuman terakhir yang terukir di wajahnya.
“kini kau sudah tenang hae bahagialah”

END

Gimana? GJ bangetkan? Sumpah ini ancur banget. Yesungdahlah author bikin ff buat di Baca kemudian di Kritik dan di Sukai ^^ sampai jumpa di ff gaje lainnya *bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s