My Man part 1

My Man Part 1

My Man Part 1

author: Angkin Pindho Kartika Dewi
cast: Jang Seungmi,Kim Jongwoon,Kim Kibum,Jang Geunsuk

Ini hanya cerita yang author buat sambil nunggu jam kuliah.
Ide ini datang begitu saja setelah author bosan melihat plankton dengan mikroskop kebanggaan.
Mikroskop ku sayang….. aku selingkuh sebentar sama cepi ya….

Selamat membaca

“Jang Seungmi! Cepat keluar dari kamar mandi atau kau akan terlambat!” teriak mami dari ruang makan. Teriakan mami benar-benar hebat. Suaranya bisa terdengar dari bawah hingga ke kamar mandi di dalam kamarku di lantai 3.

“Itu yang aku harapkan Mami, aku tidak mau kembali ke Seoul” balasku dalam hati.

Namaku Jang Seungmi, anak bungsu dari 2 bersaudara. Aku orang Korea yang tinggal lama di Indonesia karena papi ku bekerja sebagai staf kedutaan di sini. Mami dan Papi selalu mengirim anaknya kembali ke Seoul setelah kami lulus SMA. Kakakku Jang Geunsuk sudah berhasil di “buang” kembali ke Seoul 2 tahun lalu, and now is my turn.

“Mami, apakah aku harus kembali ke Korea? Kau tahukan aku sangat betah tinggal di Indonesia?” tanyaku setelah aku turun ke ruang makan.

“Kau harus melakukan itu Seungmi. Kau harus mengenal tanah leluhurmu.” Jawab mami.

“Aku akan tinggal di mana?” tanyaku dengan mulut penuh nasi goreng kesukaanku.

“Dengan oppa mu tentu saja” jawab mami dengan entengnya.

“MWO!”Andwe mami…. Aku tidak mau tinggal dengan oppa. Kau tidak tahu betapa oppa terlalu protektif padaku.”

“Bukan kah itu bagus untukmu? Mami akan merasa lebih tenang. Bersiaplah, kau akan di antar oleh Mr. Moon”

“Araso”

Seoul

Aku kembali ke tanah leluhurku. Aku melihat seorang namja yang memiliki bentuk mata dan wajah yang mirip denganku tapi tentu saja aku lebih cantik darinya. Penampilan oppa berubah, badannya lebih tinggi dengan rambut sedikit gondrong.

“Oppa”

“Ah uri Seungmi, pogoshipo” teriak Geunsuk oppa sambil memelukku.

“Bisakah kau melepaskan pelukanmu dan bantu aku membawa barang-barang ku”

“Oh….. baiklah”, katanya sambil melepas pelukannya.

“Tapi kenapa kau membawa banyak baju, bukankah mami sudah bilang padamu kalau aku sudah menyiapkan semua keperluanmu?” lanjut Geunsuk oppa

“Ini bukan baju, tapi ini semua adalah kenang-kenangan dari teman-temanku di Indonesia” jawabku santai.

“Kajja….. kita pulang ke rumah kita, aku sudah tidak sabar untuk mendengar ceritamu” ajak oppa.

Rumah Keluarga Jang

 

“Seungmi ayolah….. ceritakan padaku tentang kehidupanmu di Indonesia setelah aku pulang ke Seoul!” kata oppa sedikit memaksa.

“Aku tidak mau oppa, aku lelah sebaiknya kau tanyakan saja pada mami, dia mengawasiku sama parahnya sepertimu”

“Ya…. Kenapa kau bilang begitu, aku dan mami sangat sayang padamu”

“Papi juga sayang padaku tapi dia tidak pernah berkelakuan minus seperti kalian, mengikutiku dan mengawasiku tiap hari”

“Aku mau tidur” lanjutku

***

“YA….. OPPAAA!”

“Kenapa kau teriak-teriak Seungmi-ah? Apa penyakit mami menular kepadamu?”.

“Kenapa aku masuk ke universitas yang sama denganmu?” tanyaku setelah aku turun dari kamar.

“Agar aku mudah mengawasimu, kau belum mengenal kota Seoul my honey” jawab oppa santai tanpa mengalihkan

matanya dari monitor laptop kesayangannya.

“Kau tahu aku tidak suka musik, kenapa kau memasukkan ku ke sana?”

“Kata siapa kau tidak suka musik? Suaramu bagus, meskipun kau tidak bisa bermain piano tapi kau bisa bermain gitar lebih

baik dariku”

“Aku tidak bermain gitar dan menyanyi lagi”

“Apa kau masih mengingatnya? Kejadian itu sudah lama berlalu”

“Oppa….. kau tidak tahu perasaanku” jawabku. Air mataku mulai  menetes.

“Uri Seungmi….. sampai kapan kau hidup di masa lalumu? Kau anak yang kuat, kau mampu melawannya. Oppa selalu ada

untukmu” kata oppa sambil memelukku.

“Oppa….. kalau kau terus memelukku seperti ini aku tidak bisa berhenti menangis”

“Waeyo uri Seungmi?”

“Karena pelukanmu membuatku menjadi lebih lemah”

“Baiklah” katanya sambil melepaskan pelukannya.

“Kau harus menjadi Seungmi ku yang kuat, ara!”

“Araso oppa….. I’m promise” jawabku sambil tersenyum.

Chugye University for the Arts 

 

Inilah kehidupan baruku di Seoul. Mahasiswi tingkat pertama jurusan musik. Jujur saja, aku masih membenci musik. Aku memulai hari ini dengan mata kuliah dasar musik. Pengenalan not balok yang membuatku pusing.

“My honey….. apa kau mau makan siang denganku?” tanya Geunsuk oppa saat melihatku memasuki kantin.

“Oppa….. bisakah kau berhenti memanggilku honey? Kau bukan sister kompleks kan?”

“Waeyo? Apa kau ingin ku panggil jaggi?”

Aku hanya menjawab dengan tatapan mata “aku akan membunuhmu oppa”. Dia hanya tersenyum dan segera menuju ke mejanya. Aku sangat lapar karena berkutat dengan garis paranada ku tercinta. Setelah memesan makanan, aku menghampiri meja oppa. Meja itu penuh dengan teman-teman oppa yang hampir semuanya wanita. Hanya ada dua namja disitu. Oppaku tentu saja dan seorang namja lainnya.

“Ah…. Ini dia…. Teman-teman kenalkan ini adalah adikku” kata oppa begitu aku sampai di mejanya.

“Annyonghaseo….. Jang Seungmi imnida”, kataku memperkenalkan diri setelah itu aku duduk di sebelah Geunsuk oppa.

“Ah…. Jadi ini adikmu? Dia lebih cantik dari yang kubayangkan” kata seorang namja yang duduk di seberangku.

Dia memiliki wajah yang tidak kalah tampan dengan Geunsuk oppa, senyumnya indah tapi tatapan matanya sangat aneh, membuatku sedikit ngeri.

“Aku Kim Jongwoon, tetapi teman-teman memanggilku Yesung karena suaraku yang sempurna” katanya menyombongkan diri.

“Begitukah?” kataku dingin dan melanjutkan makanku.

“Ya Geunsuk-ah! Kenapa tiba-tiba suasana di sini jadi dingin sejak adikmu datang ya?” tanya Jongwoon pada Geunsuk oppa.

Oppa hanya menjawab pertanyaannya dengan tawa.

“Oppa bilang ke temanmu, kalau dia merasa kedinginan sebaiknya dia masuk ke air mendidih yang ada di dapur kantin itu, sepertinya di situ jauh lebih hangat” jawabku tenang.

“Wah….. idemu benar-benar hebat Seungmi-ah. Kalau aku benar-benar melakukan itu kau pasti akan sedih” katanya lagi.

“Kau namja yang benar-benar  aneh” kataku sambil meninggalkan makanku.

“My honey kau tidak menghabiskan makanmu?” tanya Geunsuk oppa.

“Tidak oppa….. perutku tiba-tiba mual gara-gara temanmu itu” jawabku sambil pergi.

Rumah Keluarga Jung

 

Senja yang indah. Aku menikmati senja di taman atap rumahku. Aku duduk di kursi kayu panjang yang dicat putih –warna favorit mami- dengan motif ukiran yang unik.

“Kenapa kau bersikap dingin pada Jongwoon?” tanya oppa tiba-tiba mengagetkanku.

“Aku hanya tidak suka padanya.”

“Tapi dia temanku dan sebaiknya kau tidak bersikap begitu….. kau akan susah mendapat teman.” katanya sambil meninggalkanku.

“Ah iya….. makan malam sudah siap, oppa akan menunggumu di ruang makan” teriaknya dari pintu.

“Setelah matahari tenggelam aku akan turun” aku menjawabnya dengan teriakan.

Menikmati senja membuatku mengingat kejadian saat senja 3 tahun lalu. Sebuah kecelakaan yang membuatku kehilangan seseorang dan juga kehilangan minatku pada musik. Aku membenci musik. Air mataku menetes lagi. Aku segera menghapusnya.

“Kau bisa menghadapi ini Seungmi!” teriakku lalu aku masuk ke dalam untuk mengisi perutku yang kosong.

Chugye University for the Arts 

“Jang Seungmi bisakah kau memainkan sebuah lagu dengan gitar? Aku baca di aplikasimu kau pernah menjadi juara pertama lomba musik di Indonesia.” kata Mr. Lee pengajar alat musik gitar.

Aku bangkit dari tempat dudukku menuju ke depan kelas. Aku mengambil gitar yang diberikan Mr. Lee dan mulai memainkan Endless Love. Aku baru memainkan beberapa bar dari lagu tersebut, tiba-tiba tanganku terhenti. Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku benar-benar tidak bisa.

“Maaf Mr. Lee, aku benar-benar tidak bisa melakukan ini. Maafkan aku” kataku sambil meninggalkan ruangan kelas dan diikuti dengan tatapan heran dari teman-temanku.

***

Aku duduk di taman dekat perpustakaan. Berusaha untuk menenangkan diri. Sepertinya ini akan menjadi tempat favoritku karena suasananya sangat tenang.

“Permainan gitarmu hebat” kata seorang namja yang sekarang duduk di sampingku.

“Tapi sepertinya kau terlalu memaksakan diri” lanjutnya lagi.

“Kau siapa?” tanyaku.

“Aku Kim Kibum, teman sekelasmu” jawabnya.

“Kim Kibum, apa aku meminta pendapatmu?”

“Tidak, tapi aku menyukai permainan gitarmu” jawabnya dengan tersenyum.

Senyumnya sangat indah, membuat semua orang yang melihatnya merasa nyaman dan gawatnya aku juga merasakan itu.

“Gomawo”

“Apakah kau adik Geunsuk sunbae? Kau sangat mirip dengannya” tanyanya.

“Benarkah? banyak orang yang bilang begitu, tapi aku jauh lebih cantik” jawabku.

“Kau memang sangat cantik”

“Ya Kibum-ssi, kau membuatku malu. Ah….. kau kenal oppa ku?”

“Tentu saja. Semua orang disini mengenal Geunsuk sunbae dan Yesung sunbae. Mereka adalah pemenang lomba nyanyi tahunan yang diadakan disini.”

“Yesung? maksudmu namja aneh yang selalu bersama dengan oppaku?”

“Namja aneh? Kau sudah bertemu  dengannya?”

“Kemarin saat makan siang di kantin”

“Benarkah? Ah….. apa kau sudah makan siang?”

“Belum”

“Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar” ajaknya.

“Kajja”

***

Aku memesan makanan dan menuju ke meja kosong.

“Bukankah itu Geunsuk sunbae dan Yesung sunbae?” kata Kibum

“Sunbae kemarilah” teriak Kibum lagi.

Geunsuk oppa dan Yesung berjalan menghampiri mejaku. Aissh kenapa Kibum memanggil mereka.

“Apa kabar my honey?” sapa Geunsuk oppa.

“Seperti yang kau lihat oppa, aku masih hidup sampai sekarang”

“Makanlah yang banyak jaggi-ya, kau sepertinya butuh energi yang besar untuk melawanku kali ini” kata Jongwoon

“Aku sedang bersemangat untuk menggodamu” lanjutnya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku hanya diam saja. Malas menaggapi orang gila yang sekarang sedang mencoba memaksaku untuk memakan kimchi. Geunsuk oppa hanya tersenyum melihat kelakuan minus temannya ini dan Kibum….. kenapa raut mukanya berubah? ada apa dengannya?.

“Ya! Namja aneh….. berhentilah memaksaku memakan kimchi atau aku akan membuatmu  menjadi patung lilin di museum Madam Tussauds” kataku.

“Ya! Kenapa kau sangat jahat padaku? Kalau kau benar-benar membuat patung lilinku, pajanglah aku di kamarmu jadi kau bisa menikmati wajah tampanku setiap hari”

“Maaf sunbae, kami harus segera masuk kelas. Hari ini masih ada satu pelajaran lagi” kata Kibum dan segera menarikku dari tempat dudukku.

“Kami permisi. Sampai jumpa di rumah oppa” kataku sambil melambaikan tangan.

Geunsuk oppa membalas lambaian tanganku.

“Apakah masih ada kelas lagi? sepertinya tidak ada kelas yang harus kumasuki sekarang. ” tanyaku pada Kibum setelah kami berada di luar kantin.

“Memang tidak ada” jawabnya.

“Jadi kau sedang membantuku menghadapi namja aneh itu? Ah….. terima kasih Kibum-ssi”

“Tidak perlu berterima kasih, aku hanya merasa tidak nyaman dengan perlakuan Yesung sunbae padamu”

“Membuatku merasa panas” lanjutnya.

Kediaman Keluarga Jang

“Oppa, bolehkah aku bekerja part time?” tanyaku pada oppa tersayangku.

“Apa uang sakumu kurang? Atau kau membuat masalah sehingga kau memerlukan uang lebih?”

“Aku hanya merasa bosan. Kau sibuk seharian di kampus sedangkan kuliahku belum terlalu padat, aku malas berada

sendirian di rumah”

“Baiklah tapi dengan satu syarat”

“Apa oppa?”

“Tidak boleh menggunakan baju mini. Kau sudah terlalu cantik, aku tidak mau kau digoda banyak pria hidung belang”

“I’m promise oppa….. thank you” kataku sambil mencium pipi oppaku tersayang.

Doremi Café

 

Senja. Aku memasuki pintu cafe dan segera mencari pemilik café.

“Permisi, saya melihat pengumuman di depan café ini. Apa benar café ini sedang memerlukan pegawai part time?” tanyaku pada seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.

“Benar nona. Apa kau ingin kerja part time? Tapi sepertinya kau masih terlalu muda, kami tidak menerima siswi SMA untuk bekerja disini” kata pelayan tersebut.

“Maaf, mungkin anda salah sangka. Saya bukan murid SMA, saya mahasiswi di Chugye University for the Arts” jawabku.

Pelayan itu masih melihatku dengan tatapan tak percaya.

“Apa aku perlu menunjukkan ID card ku?” tanyaku lagi.

“Tidak perlu nona….. sebaiknya kau menemui manajer kami.” katanya sambil mengajakku berjalan ke ruang manajer.

“Permisi manajer, ada orang yang melamar sebagai pegawai part time disini” kata pelayan itu setelah kami sampai di ruang manajer.

“Masuklah nona” kata pelayan itu mempersilahkan aku masuk.

“Terima kasih Young Ah-ssi” kataku setelah aku membaca name tag pelayan itu.

“Permisi” kataku ketika aku memasuki ruang manajer.

“Masuklah” jawab seorang namja.

Namja itu sedang berdiri memunggungiku. Badannya tinggi tegap, satu kata yang ada di pikiranku “keren”.

“Saya Jang Seungmi. Saya ingin melamar kerja part time disini tuan manajer” kataku.

“Kau benar-benar Jang Seungmi?” tanya manajer sambil membalikkan badan.

“Ne….. saya Jang….. Kim Kibum? Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku kaget karena ternyata orang yang aku ajak bicara adalah Kibum.

“Aku manajer di sini Seungmi-ah. Aku tidak menyangka kau datang untuk melamar kerja disini. Apa uang sakumu kurang? Atau kau membuat masalah sehingga kau memerlukan uang lebih?” tanyanya.

“Ya! Kenapa pertanyaanmu sama seperti oppaku? Apa kau selalu mewawancarai calon pegawaimu dengan berdiri?” tanyaku.

“Ah….. mian….. aku hanya sedikit kaget karena kau tiba-tiba datang kesini. Silahkan duduk nona” katanya.

“Kau benar-benar manajer disini? Waaahh….. kau membuatku lebih kagum padamu Kibum-ssi” kataku setelah kami duduk.

“Aku benar-benar manajer, ini café keluargaku. Apa alasanmu melamar kerja disini?” tanyanya lagi.

“Aku hanya merasa bosan di rumah, lagipula aku suka suasana café ini, sangat nyaman.” jawabku.

“Kau bisa bekerja mulai besok” katanya.

“Benarkah? aku diterima kerja disini? Gomawo Kibum-ssi”

“Kalau begitu aku permisi dulu” pamitku.

“Silahkan Seungmi-ah”

“Seungmi-ah, bisakah besok kita berangkat kerja bersama?” tanya Kibum saat aku hampir sampai di pintu keluar kantornya.

“Tentu saja Kibum-ssi” jawabku sambil tersenyum.

***

“Oppa, aku sudah dapat tempat kerja yang nyaman. Apa kau tahu, manajer café itu adalah temanku, Kim Kibum” kataku saat aku berada di kamar Geunsuk oppa.

“Kim Kibum? Ah….. namja yang makan siang bersamamu?”

“Ne oppa, dia teman pertamaku di Seoul.” jawabku sambil merebahkan badanku di samping Geunsuk oppa.

“Sepertinya dia namja yang hebat karena dia bisa tahan menjadi teman adikku yang mampu membunuh orang dengan tatapan matanya” kata oppa sambil menahan tawa.

“Oppa, bukankah kau menyuruhku untuk mencari teman?”

“Tentu saja….. ah my honey….. maafkan kelakuan Jongwoon ya? Dia memang aneh, apalagi di depan gadis yang disukainya”

“Mwo? Disukainya? Maksud oppa dia menyukaiku?”

“Mmmm….. sebelum kau datang ke Seoul dia setiap hari datang ke rumah dan selalu melihat fotomu. Dia juga selalu menanyakan segala sesuatu tentangmu.”

“Ah….. dia memang benar-benar namja yang aneh” kataku.

“Oppa bolehkah aku tidur disini denganmu? Sepertinya sudah sangat lama kita tidak tidur berdua.” tanyaku.

“Tentu saja my honey” jawab Geunsuk oppa sambil memelukku.

Aku sangat merindukan saat seperti ini. Mengingatkanku dengan masa kecilku. Kami selalu bercerita sebelum tidur sampai akhirnya kami tertidur bersama. Terdengar aneh memang, tapi itulah kebiasaan kami.

Chugye University for the Arts 

Aku berangkat ke kampus bersama Geunsuk oppa. Mobil kami menuju  ke tempat parkir. Aku melihat sosok namja aneh itu lagi. Dia baru saja keluar dari mobil hitamnya dan tersenyum begitu melihat aku dan oppaku keluar dari mobil.

“Selamat pagi jaggi-ya….. ah….. selamat pagi juga kakak iparku!” sapanya sambil tersenyum.

“Selamat pagi Jongwoon-ah” jawab Geunsuk oppa.

“Selamat pagi namja aneh” jawabku dan anehnya lagi dia hanya tersenyum mendengar jawabanku.

“Ah….. oppa bisakah kau bawakan gitarku sebentar, sepertinya ada yang tertinggal di mobil?” tanyaku pada Geunsuk oppa.

“Biar aku bawakan jaggi-ya” kata Jongwoon.

“Apa aku meminta pertolonganmu?” tanyaku.

“Biar aku yang bawa Jongwoon-ah, aku tidak mau adikku yang manis masuk berita kriminal karena membunuh teman kakaknya” jawab Geunsuk oppa polos.

“Baiklah kakak ipar” katanya tanpa rasa bersalah.

***

Mau tidak mau aku harus berjalan berdua dengan Jongwoon karena Geunsuk oppa mendapat panggilan dari Mr. Park pengajar seni suara.

“Aku dengar kau dan kakak mendapat juara lomba menyanyi tahunan?” tanyaku pada Jongwoon.

“Ternyata kau perhatian padaku….. ya aku dan kakak mu mendapat juara pertama. Kau tahu? nilai kami berdua sama, dan juri menetapkan kami berdua sebagai pemenang.” jawabnya.

“Seungmi-ah”

Aku mendengar suara teriakan memanggil namaku. Aku menoleh mencari sumber suara. Dari kejauhan aku melihat Kibum berlari ke arahku.

“Ah….. Kibum-ssi selamat pagi” sapaku saat Kibum sampai di depan kami.

“Selamat pagi Seungmi-ah….. apa tidurmu nyenyak?” tanyanya.

“Sangat nyenyak” jawabku sambil tersenyum manis.

“Ya! Sebenarnya apa hubungan kalian? Dan kau Kibum….. apa yang terlihat hanya Seungmi sehingga kau tidak menyapaku?” tanya Jongwoon.

“Ah….. maaf sunbae….. selamat pagi sunbae.” kata Kibum.

“Kibum-ssi ayo kita ke kelas bersama” ajakku.

“Ah….. kajja….. aku bawakan gitarmu” kata Kibum.

“Ya! Kalian belum menjawab pertanyaanku….. apa hubungan kalian?” tanya Jongwoon lagi.

Kami hanya berlalu tanpa ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Jongwoon.

“Ya! Seungmi-ah….. kau tidak bisa mengabaikanku seperti ini…..” teriak Jongwoon.

“Semoga harimu menyenagkan Jongwoon-ah” kataku dengan teriakan juga.

***

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Yesung sunbae?” tanya Kibum saat kami duduk di taman favoritku.

“Tidak ada….. waeyo?”

“Ani….. sepertinya dia sangat marah saat aku menghampirimu dan sepertinya dia menyukaimu” kata Kibum.

“Benarkah? aku sudah pernah bilang padamu kalau dia itu aneh, jangan kau pedulikan dia.”

“Aku laki-laki juga Seungmi-ah….. aku bisa melihat dari matanya kalau dia benar-benar menyukaimu”

“Sudahlah Kim Kibum….. aku malas membicarakan namja aneh itu”

Doremi Café

Aku suka seragam di sini. Seragam warna hitam dengan sedikit garis merah di lengan dan juga pita merah di bagian pinggang untuk wanita dan dasi merah untuk pria. Café ini ternyata sangat ramai, pengunjungnya kebanyakan adalah muda mudi yang sedang menikmati sore hari yang cerah.

“Pelayan” panggil seorang tamu.

Ini adalah hari pertamaku bekerja dan dia adalah pelanggan pertamaku.

“Selamat datang tuan. Apa pesanan anda?” tanyaku.

“ Aku mau memesan….. jaggi-ya….. apa yang kau lakukan disini?”

“Kau? Kenapa kau ada disini?” tanyaku kaget karena tamu pertamaku adalah Jongwoon.

“Aku selalu menghabiskan soreku di sini sambil menikmati nyanyian dari penyanyi café ini. Apa yang kau lakukan disini jaggi-ya? Kenapa kau memakai seragam pelayan?”

“Aku bekerja disini….. cepat sebutkan apa pesananmu karena aku harus bekerja lagi”

“Strawberry cake, lemon tea dan kau” jawabnya sambil tersenyum genit.

“Maaf tuan….. tapi aku tidak dijual….. silahkan tunggu sebentar, pesanan anda akan kami antar” kataku sambil meninggalkannya.

“Silahkan pesanan anda tuan” kataku setelah beberapa saat sambil membawakan pesanannya.

“Bisakah kamu menemaniku di sini Seungmi-ah?” tanya Jongwoon.

“Aku harus bekerja Jongwoon-ah”

“Hanya sepuluh menit….. ani….. lima menit”

“Maaf tuan tapi saya harus bekerja lagi….. permisi”

“Aku akan menunggu kau sampai pulang….. aku akan mengantarmu ke rumah” kata Jongwoon.

Aku hanya berlalu mendengarkan apa yang dikatakan Jongwoon dan masuk ke ruang manajer.

“Kibum-ssi, apa kau tahu siapa tamu pertamaku?” tanyaku begitu aku sampai di ruangan Kibum.

“Siapa?”

“Namja aneh itu….. dia memesan strawberry cake, lemon tea dan aku….. apa menurutmu namaku harus ditulis di daftar menu? Ah….. namja itu benar-benar membuatku gila!”

Kibum hanya tersenyum mendengar kata-kataku.

“Kenapa kau hanya tersenyum Kibum-ssi?”

“Sepertinya namamu memang harus ditulis di daftar menu….. tapi hanya aku yang boleh memesanmu….. bagaimana?”

“Ya Kim Kibum! sepertinya kau mulai tertular virus gila Jongwoon….. ah aku hampir lupa….. Ryeowook akan datang terlambat karena terjebak macet.” kataku lagi.

“Mwo? Ryeowook? Harus ada orang yang menggantikannya sementara waktu”

“Bagaimana kalau kau saja?”

“T….. tunggu Kibum-ssi! Apa maksudmu? Siapa Ryeowook? Menggantikan apa?” tanyaku panik.

“Ryeowook adalah penyanyi disini dan kau harus menggantikannya sementara waktu untuk bernyanyi”

“No….. I can’t”

“Ayolah Jang Seungmi….. demi temanmu ini….. apa kau tidak mau membantuku” bujuk Kibum.

“Aku tidak yakin Kibum-ssi”

“Aku akan selalu di sampingmu saat kau menyanyi. Aku janji padamu”.

Kata-kata Kibum mulai meyakinkanku. Sepertinya aku memang harus mencobanya. Aku sudah berjanji pada Geunsuk oppa untuk meninggalkan masa laluku. Aku pasti bisa.

“Baiklah” jawabku yakin.

***

“Annyonghaseo”

Kata-kataku cukup untuk mengalihkan perhatian semua pengunjung kepadaku.

“Karena ada hal mendesak, untuk sementara ini saya akan menggantikan Ryeowook untuk menyanyi….. semoga anda menikmati”

Musik mulai berbunyi…..

There’s a song that’s inside of my soul 

It’s the one that I’ve tried to write over and over again 

I’m awake in the infinite cold 

But You sing to me over and over and over again 

Aku mulai panik. Kibum mengetahui itu dan dia naik ke panggung lalu menggenggam tanganku. Dia berusaha meyakinkanku dan aku melanjutkan nyanyianku.

So I lay my head back down

And I lift my hands 

And pray to be only Yours 

I pray to be only Yours 

I know now you’re my only hope 

 

Sing to me the song of the stars 

Of Your galaxy dancing and laughing and laughing again 

When it feels like my dreams are so far 

Sing to me of the plans that You have for me over again 

 

So I lay my head back down 

And I lift my hands 

And pray to be only yours 

I pray to be only yours 

I know now you’re my only hope 

 

I give You my destiny 

I’m giving You all of me 

I want Your symphony 

Singing in all that I am 

At the top of my lungs I’m giving it back 

 

So I lay my head back down 

And I lift my hands 

And pray to be only yours 

I pray to be only yours 

I pray to be only yours 

I know now you’re my only hope (Only Hope-Mandy Moore)

Pengunjung bertepuk tangan. Air mataku hampir keluar. Kibum langsung menarikku turun dari panggung. Dia menarikku melalui pintu belakang café dan membawaku menuju taman bermain di belakang café.

“Kenapa kau menangis?” tanyanya.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menangis bahkan tangisanku lebih keras dari sebelumnya. Kibum memelukku.

“Tenanglah….. jangan menangis lagi. Aku tidak mau orang mengira aku orang jahat yang sudah membuat gadis cantik sepertimu menagis.” katanya berusaha untuk menenangkanku.

“Kim Kibum bisakah kau lepaskan pelukanmu?” teriak seseorang.

T.B.C

published by aeund

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s